RENSTRA

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Muda

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

ICMI Muda bertujuan menghimpun dan menggerakkan potensi cendekiawan muslim muda dalam mewujudkan tata kehidupan masyarakat madani yang damai, adil dan sejahtera lahir batin, yang diridhai Allah subhanahu wataala, dengan meningkatkan mutu keimanan dan  ketaqwaan, pemahaman, dan pengamalan ajaran Islam, kecendekiaan dan peran serta cendekiawan muslim muda se-Indonesia.

Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, antara lain melalui empat ruang lingkup gerakan ICMI Muda, yaitu gerakan dakwah sosial, gerakan pemikiran dan kebudayaan, gerakan kaderisasi, dan gerakan pemberdayaan masyarakat, ICMI Muda perlu menyusun program kerja organisasi, meliputi rencana kerja, pola manajemen, mekanisme, dan langkah-langkah operasionalisasinya, serta pengelolaan sumber daya. Adapun program kerja ICMI Muda secara nasional akan dirumuskan dan ditetapkan melalui Rakernas Ke-1 ICMI Muda di Medan, Maret 2007 mendatang.

Akan tetapi, sebagai organisasi yang baru berdiri pada tanggal 29 September 2005 dan melaksanakan Muktamar Ke-1 pada tanggal 23-25 Juli 2006, ICMI Muda perlu lebih dahulu merumuskan dan menjabarkan paradigma, perspektif dan orientasi gerakannya. Paradigma, perspektif dan orientasi gerakan ICMI Muda akan merupakan pijakan konseptual sekaligus jatidiri organisasi, yang selanjutnya akan dibreak-down ke dalambentuk program kerja organisasi.

Rencana Strategis ICMI Muda dibangun berdasarkan visi ICMI Muda yang merupakan kristalisasi cita-cita dan komitmen bersama tentang kondisi ideal masa depan yang ingin dicapai dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki, permasalahan yang dihadapi dan berbagai kecenderungan (perubahan lingkungan) yang sedang dan akan berlangsung. Berdasarkan visi tersebut, selanjutnya dirumuskan berbagai tujuan dan sasaran yang akan dicapai lima tahun kedepan.

Berdasarkan tujuan dan sasaran tersebut, selanjutnya dirumuskan skenario untuk mencapainnya. Skenario yang dimaksud meliputi strategi dan program pengembangan yang perlu ditempuh, beserta indikator-indikator keberhasilannya.Titik berat Perencanaan Strategi pengembangan ICMI Muda ini adalah aspek-aspek strategis yang dimaksud meliputi (1) Paradigma, Perspektif dan orientasi gerakan ICMI Muda (2) kinerja manajemen ICMI Muda dalam mencapai visi dan misi, (3) budaya organisasi (4) jaringan kerjasama (networking), yang merupakan suatu kesatuana yang saling terkait.

Penyusunan Rencana Strategis ini dimaksudkan sebagai pedoman untuk penyelenggaraan dan pengembangan ICMI Muda 5 (lima) tahun ke depan. Rencana Strategis ini bukanlah merupakan pedoman yang statis, melainkan dinamis. Artinya, rencana tersebut dapat ditinjau ulang secara periodik, setiap setahun sekali. Peninjauan rencana juga dapat dilakuakn sesuai dengan perubahan-perubahan penting yang diperkirakan berpengaruh secara signifikan terhadap organisasi serta dinamika kondisi ummat dan bangsa. Rencana Strategis ini harus menjadi komitmen bersama seluruh elemen ICMI Muda yang selanjutnya diimplementasikan pada berbagai jenjang kepemimpinan ICMI Muda secara lebih operasional.

BAB II

FILOSOFI DAN VISI-MISI ICMI MUDA

 

A. Filosofi

 

Cendekiawan ialah orang yang mempunyai wawasan, sikap dan perilaku cendekia, yang tercermin dalam kemampuannya untuk menatap, menafsirkan, dan merespons lingkungan hidupnya dan perkembangan masyarakatnya dengan sikap kritis, kreatif, obyektif, dan analitis, atas dasar tanggung jawab moral dan kemanusiaan.

Kecendekiawanan merupakan panggilan nurani untuk melakukan peranan dan missi dalam masyarakat. Kecendekiawanan terletak terutama pada komitmen seseorang untuk melibatkan diri dalam masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Ciri dasar kecendekiawanan adalah kepedulian pada kemanusiaan dan kemasyarakatan, serta terus menerus berusaha memberikan respon yang tepat dan bertanggung jawab.  Kaum cendekiawan harus bisa mengartikulasikan diri sesuai dengan misi kecendekiawanannya.

Demikian pula alam pikiran terbuka yang melekat pada sub-kultur kaum cendekiawan, memberikan keleluasaan untuk melakukan kritik sosial. Kritisisme itu dapat mencakup segi moral, etik, sosial, politik, budaya, estetis, dan lain sebagainya.

Kata cendekiawan yang dalam Al-Qur’an yang disebut Ulul albab adalah perwujudan aktifitas akal dan hati. Akallah yang telah membuktikan kebenaran Islam dan setelah terbukti hati akan meyakini, selanjutnya mendorong setiap muslim yang memahami dan meyakininya untuk bergerak, menjadi agen-agen perubah di tengah-tengah masyarakat.

Kata kunci muslim menunjukkan bahwa berislamnya seseorang menuntut adanya totalitas. Karakter Islam yang syumul mewarnai seluruh aspek kehidupan sehingga pola pikir, emosi, perasaan dan juga fisik terwarnai dengan Islam. Dengan syahadah, seorang muslim meyakini dia memang diciptakan hanya untuk beribaah kepada Allah, bahwa tidak ada yang dapat memberinya kemudharatan keculai atas izin Allah, sehingga dengan demikian tidak ada satupun yang ditakutinya. Kalaupun ia harus berkorban harta bahkan sampai nyawa sekalipun,  dia sadar apapun hasilnya akan berupa kebaikan, matinya adalah syahid dan hidupnya adalah kemuliaan.

Kata muda menunjukkan sosok yang produktif, progresif, kreatif serta inovatif, yang menunjukkan besarnya potensi sekaligus tanggung jawab. Cendekiawan muslim muda adalah adalah orang Islam yang berusia muda, energik dan produktif, peduli terhadap lingkungannya, terus menerus meningkatkan kwalitas iman dan taqwa, kemampuan berpikir, menggali, memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kehidupan keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan untuk diamalkan bagi terwujudnya masyarakat madani.

 

B. Visi dan Misi

 

Dalam menghadapi berbagai tantangan internal keorganisasian dan eksternal kebangsaan dan keummatan tersebut, eksistensi ICMI Muda kedepan ditentukan oleh kemampuannya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Hal ini menuntut ICMI Muda perlu secara terus-menerus mempertinggi daya saing dan daya juang guna mencapai keunggulan kompetitif secara berkelanjutan dengan mengembangkan visi-misi yaitu "Menjadikan organisasi cendekiawan muslim muda yang mendorong terwujudnya kepemimpinan ummat pada berbagai lini kehidupan, melalui gerakan dakwah sosial, gerakan kaderisasi, gerakan pemikiran dan kebudayaan dan gerakan pemberdayaan masyarakat.”

 

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS, PETA POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN

 

A. Isu-Isu Strategis

 

ICMI Muda dengan segenap kekuatan dan kemampuannya mempunyai tanggung jawab untuk mengupayakan tercapainya maksud dan tujuaannya. Untuk mewujudkan tujuannya tersebut ICMI Muda dituntut untuk senantiasa melakukan usaha secara terencana dan terprogram dengan senantiasa memperhatikan perkembangan yang terjadi di sekitar diri dan lingkungannya, baik dalam skala yang lokal, regional maupun global. Kemampuan untuk memahami fenomena yang ada dan kemampuan untuk dapat mengambil langkah alternatif yang tepat sesuai dengan kecendrungan yang berkembang adalah modal yang mendasar bagi keberhasilan ICMI Muda dalam merealisasikan tujuannya.

Secara Internal, ICMI Muda yang menghimpun potensi pemuda muslim yang berusia antara 26 sampai 45 tahun, dengan kekuatan aqidah Islamiyah sebagai sumber motivasi dan tenaga penggerak, dengan anggota dari berbagai latar belakang profesi, latar belakang organisasi, latar belakang keilmuan maupun sikap politik merupakan asset potensil bagi penyediaan sumber daya manusia Indonesia. Secara kelembagaan ICMI Muda yang lahir di tengah kompleksitas masalah umat dan bangsa serta tantangan global, belum memiliki beban sejarah sehingga kedepannya memiliki andil cukup besar dalam berkontribusi pada ummat dan bangsa. Asset potensial tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan, tergantung pada kualitas aktifisnya dan kualitas kelembagaan ICMI Muda.

Dewasa ini bangsa Indonesia dihadapkan pada dinamika kehidupan yang makin kompleks dan mengancam; serta perkembangan global political economy yang tidak selalu menguntungkan. Ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi informasi, komunikasi, dan bioteknologi, berkembang pesat. Globalisasi ekonomi, sosial, budaya, dan politik dengan segala dampaknya semakin luas dan cepat, disertai issues tentang terorisme global yang menimbulkan ancaman terhadap persatuan dan kesatuan umat dan bangsa, serta  bangsa-bangsa.

Sementara itu, masyarakat Indonesia --utamanya umat Islam-- berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Kondisi ini dapat dilihat pada indikator-indikator agregat seperti rendahnya : tingkat  pendapatan, penerimaan pajak, investasi, produktivitas modal dan tenaga kerja, rentannya stabilitas moneter dan neraca perdagangan, indeks pembangunan manusia, indeks good governance dan clean government, penegakan hukum,  dan lain-lain; serta tingginya tingkat korupsi, money politics, pengangguran, kemiskinan, penyelundupan, ketergantungan kepada hutang luar negeri, kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan hidup, dan lain-lain.

Di tengah bencana alam yang terjadi di sana-sini seperti gempa, banjir, flu burung, busung lapar, kelangkaan BBM dll, kondisi menyedihkan ditambah oleh ulah sejumlah manusia yang oleh karena kebodohan, kemalasan atau kerakusannya yang melakukan korupsi dengan skala besar dan semakin merajalela. Penghasilan pejabat justru semakin melangit, walaupun tak jelas prestasi mereka dalam menolong rakyat yang menjerit. Harta benda dan kekayaan alam umat telah dikeruk, dijarah atas nama privatisasi, konsesi, kontrak karya, Penanaman Modal Asing (PMA) dan berbagai dalih lainnya. Di bidang kebudayaan, terjadi ghazwul fikri dengan mencekoki kaum muslimin dengan budaya-budaya kafir. Pergaulan bebas, pornografi, free sex, cara berpikir ala Barat, perbuatan trend dan gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Umat Islam juga makin terpojokkan dengan isu terorisme serta penghinaan atas Islam dan Nabi Muhamad SAW.

Millenium ketiga merupakan era globalisasi dan informasi. Dalam kaitannya dengan globalisasi, Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut menyetujui dan terlibat aktif dalam berbagai kesepakatan perdagangan global, seperti WTO, GATT, APEC dan sebagainya. Dalam era globalisasi dan informasi, hampir semua faktor produksi,seperti uang, teknologi, jasa, pabrik dan peralatan dapat bergerak melintasi tapal batas negara tanpa kesulitan berarti. Dunia terasa menjadi semakin sempit, jarak terasa semakin dekat, waktu terasa berjalan semakin cepat, dan mobilitas orang dan barang semakin tinggi.

Untuk membangun bangsa yang mandiri berbicara tentang empat sumberdaya, yaitu: SDA, SDM, SDK, dan SDI; lengkap dengan distribusinya (baik menurut tempat dan waktu) serta interaksinya (yang berarti hubungan antar jenis-jenis sumberdaya) yang akan menyebabkan dinamika (perubahan) jumlah dan mutu pada masing-masing sumberdaya.

Sumber Daya Alam (SDA) terdiri dari tanah, air, lahan pertanian, hutan, tambang, laut, sumber energi terbarui, dsb. Sumber Daya Manusia (SDM) meliputi penduduk dengan berbagai fungsinya dalam ekonomi, baik sebagai produsen maupun konsumen. Sumber Daya Kapital (SDK) adalah mencakup cash flow (mata uang yang konvertibel) dan sumberdaya buatan yang pembangunannya memerlukan kapital (seperti bangunan, pembangkit listrik, pabrik, sarana dan prasarana transportasi serta telekomunikasi, hingga instalasi pengolah limbah). Adapun  Sumber Daya Informasi (SDI) adalah informasi yang diperlukan dalam mengurus kebutuhan masyarakat seperti data administrasi penduduk, peta, hasil riset, cetak biru industri, hingga data intelijen.

Kunci membangun Indonesia yang mandiri berada pada keberadaan SDM yang handal, karena SDM inilah yang akan mengelola sumberdaya lainnya. Kalau SDM yang handal tidak memadai, atau ada namun tidak dapat dimanfaatkan dengan optimal, maka lagi-lagi keberadaan SDA akan diperas habis-habisan oleh asing.  Saat ini saja, ditaksir ada lebih dari 70.000 tenaga asing di negeri ini, tentu saja dengan standar bayaran asing yang puluhan hingga ratusan kali lipat dari tenaga lokal—meski mengerjakan pekerjaan yang sama.

 

B. Peta Potensi Pemuda di Indonesia

 

            Pemuda merupakan aset bangsa, penentu arah masa depan kehidupan yang lebih baik. Keberadaan mereka menjadi energi pembaharuan dan kritis terhadap kemapanan yang menyimpang.

            Di Indonesia, pengertian pemuda adalah penduduk yang berusia antara 15 sampai dengan 35 tahun. Potensi pemuda Indonesia dapat dilihat dari indikator makro kependudukan pemuda. Populasi pemuda di Indonesia pada tahun 2004 mencapai sebanyak 80.659.718 jiwa atau sekitar 37,2 % dari jumlah populasi penduduk Indonesia secara keseluruhan. Bila dirinci menurut jenis kelamin, data jumlah pemuda tercatat 41,13 juta perempuan dan 39,52 juta laki-laki. Bila dilihat dari jumlah pemuda di pedesaan dan perkotaan tercatat 43,34 juta atau 54 % berada di pedesaan, sementara 37,31 juta atau 46 % berada di perkotaan. Kondisi ini memberikan indikasi perlunya peningkatan upaya pembangunan pemuda minimal sesuai dengan proporsi jumlah pemuda di daerah yang bersangkutan.(Menegpora dan BPS, profil Pemuda Indonesia 2005).

            Tak ada satu bangsa pun di dunia yang maju dengan mengabaikan pendidikan pemuda, penididikan merupakan proses membentuk pengetahuan, nilai dan kemanusiaan untuk kemudiah hari menjadi faktor penentu wajah peradaban suatu bangsa. Indikator pendidikan pemuda secara umum dapat dilihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lama sekolah, buta huruf dan angka partsipasi sekolah. Sebagian besar tingkat pendidikan pemuda di daerah pedesaan hanya pada tingkat sekolah dasar (SD), baik yang putus sekolah maupun tamat SD, yaitu sebesar 55,24 %. Besarnya prosentase yang berpendidikan SMP adalah 28,15 %, sementara yang berpendidikan minimal  SMA hanya sebesar 16,61 %. Sementara di perkotaan tingkat pendidikan pemuda memperlihatkan pola sebaliknya, yaitu prosentase terbesar minimal berpendidikan SMA sebesar 44,99 %, diikuti SMP sebsar 28,69 %, sementara yang putus sekolah maupun tamat SD sebesar 26,32 %.

            Besarnya prosentase pemuda buta huruf di pedesaan hampir empat kali lipat dari prosentase pemuda buta huruf di perkotaan. Terdapat antara 3-4 diantara 100 pemuda di daerah pedesaan, adalah pemuda buta huruf. Sementara dari 100 di daerah pedesaan, hanya satu yang buta huruf. Dari aspek kebiasaan membaca, ada perbedaan yang cukup nyata antara kualitas pemuda perkotaan dibanding pemuda pedesaan.

            Dari aspek letenagakerjaan, dapat dilihat dari tingkat partisipasi angkatan kerja pemuda (TPAK). Sebaran TPAK pemuda antar provinsi, tidak memperlihatkan adanya pola tertentu antara wilayah Barat dan Timur dan Indonesia. Provinsi Bali adalah dengan provinsi dengan TPAK pemuda tertinggi, yaitu sebesar 73,07 %. Sebaliknya Nangroe Aceh Darussalam (NAD) adalah provinsi dengan TPAK pemuda terendah, yaitu sebesar 56,21 %. Rata-rata TPAK antar provinsi adalah sebesar 62,73 %.

            Partisipasi pemuda dalam tanaga kepemimpinan tidak memperlihatkan adanya pola tertentu antar provinsi. Kemungkinan adanya pengaruh karakter sosial budaya masyarakat setempat ikut berparan dalam menentukan pemimpin. Rata-rata tingkat partisipasi pemuda dalam tenaga kepemimpinan pada tingkat propinsi sebesar 30,48 %. Prosentase pemuda belum menunjukkan proporsi yang ideal antara proporsi pemuda dan proporsi keterwakilan pemuda  di DPR-RI. Pemuda hanya mempunyai 6 % wakilnya di DPR, padahal proporsi pemuda dalam struktur pemuda Indonesia mencapai sekitar 37 %. Dari 550 anggota DPR-RI jumlah pemuda hanya 33 orang. Dari jumlah pemuda miskin, tercatat 4.417.713 pemuda miskin di daerah perkotaan, lebih separuhnya atsu sebanyak 2.240.502 adalah pemuda miskin perempuan. Demikian juga di daerah pedesaan, dari sebanyak 5.273.265 pemuda miskin, lebih separuhnya (sebanyak 2.687.565) adalah pemuda miskin perempuan.

 

C. Potensi ICMI Muda

 

Dalam penyusunan Rencana Strategis, ICMI Muda harus memperhatikn kondisi internal ICMI Muda sendiri, baik dalam kaitannya dengan kekuatan dan kelemahan maupun langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan. Oleh karena itu, ICMI Muda perlu mengidentifikasi secara lebih cermat dan jujur kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan tersebut serta dapat merumuskan strategi yang tepat untuk mengoptimalisasikan kekuatan dan meminimalisasikan kelemahan tersebut.

Kekuatan-kekuatan serta peluang yang dimiliki ICMI Muda, diantaranya :  kekuatan utama berupa Aqidah Islamiyah sebagai sumber motivasi dan tenaga penggerak utama merupakan asset potensil bagi penyediaan sumber daya manusia Indonesia; Potensi pemuda muslim yang berusia antara 26 sampai 45 tahun dengan berbagai latar belakang profesi, latar belakang organisasi, latar belakang keilmuan dan latar belakang organisasi maupun sikap politik merupakan asset potensil bagi penyediaan sumber daya manusia Indonesia; Sambutan positif cendekiawan muslim muda se-Indonesia ditandai deklarasi ICMI Muda di seluruh tanah air, baik tingkat propinsi, kabupaten kota serta kampus. Dengan kekuatan jaringan dan potensi kader maka ICMI Muda berperan penting dan strategis dalam menggagas dan membawa kebangkitan ummat dan bangsa; ICMI Muda sebagai organisasi baru belum memiliki beban sejarah sehingga memberian peluang pengembangan ke depan; Adanya kesadaran untuk mengantisipasi perkembangan dan perubahan kedepan; Secara bertahap bersedia melangkah menuju profesionalisme melalui bentuk-bentuk evalusai diri.

Selain kekuatan dan potensi di atas, sebagai organisasi yang baru dibentuk ICMI Muda menghadapi berbagai kelemahan maupun tantangan, antara lain :ICMI Muda lahir di tengah kompleksitas masalah yang menimpa ummat dan bangsa; ICMI Muda lahir dan membentuk dirinya di tengah terjadinya pertentangan ideologis sebagai gejala yang menonjol dalam kehidupan sosial dan politik yang mengakibatkan terjadinya polarisasi kekuatan, baik dalam perebutan kekuasaan di lembaga pemerintahan maupun masyarakat; Tantangan perubahan zaman yang serba cepat; Secara organisatoris ICMI Muda belum memiliki pengalaman dalam mengelola sumberdaya secara mandiri; aspek-aspek kinerja yang terkait dengan proses dengan manajemen (SDI, finansial, sarana-prasarana) masih memerlukan banyak perhatian; belum termanfaatkannya berbagai jaringan kerjasama (networking). Maka sudah sewajarnya di fase awal pembentukan ICMI Muda terfokus pada upaya untuk mengkonsolidasi dan menggalang kesatuan segenap potensi cendekiawan muslim muda yang tersebar di seluruh Indonesia.

 

D. Arah Pengembangan

 

Eksistensi dan keberlanjutan ICMI Muda  sangat tergantung ada kualitas aktifisnya dan kemapanan ICMI Muda secara organisatoris. Terkait hal tersebut, eksistensi dan keberlanjutan ICMI Muda tertergantung pada kemapuan-kemampuan sebagai berikut. Pertama, kemapuan untuk menigkatkan kompetensi anggota secara terus menerus sehingga memiliki daya saing yang tinggi Kedua, kemampuan untuk mengembangkan berbagai ragam gagasan dan pemikiran yang mampu menghasilkan berbagai output keilmuan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Ketiga, kemapuan membangun organisasi yang efisien, efektif, akuntabel, dan transparan dalam rangka membangun organisasi ICMI Muda yang modern. Keempat, kemampuan untuk membangun kultur iqra’ dalam dimensi luas secara terus menerus dalam rangka kultur organisasi yang kokoh. Kelima, kemampuan meningkatkan eksistensi dan kiprah ICMI Muda secara berkelanjutan. Keenam, kemampuan meningkatkan modal sumberdaya insani secara berkelanjutan. Dan Ketujuh, kemampuan ICMI MUDA untuk membangun jaringan (network).

 

BAB IV

ARAH, SASARAN, STRATEGI, DAN

PENGEMBANGAN PROGRAM ICMI MUDA

A. Arah Kebijakan :

Garis-Garis Besar Kebijakan dan Program Kerja ICMI Muda berdasarkan ketetapan Muktamar Ke-1 ICMI Muda menyebutkan bahwa : Periode 4 Tahun Pertama, merupakan fase kelahiran atau pembentukan ICMI Muda. Pada periode ini ICMI Muda secara internal fokus pada upaya konsolidasi dan penggalangan potensi cendekiawan muslim muda yang tersebar di seluruh Indonesia, peneguhan karakter dan jati diri, penataan mekanisme organisasi yang diorientasikan pada penciptaan organisasi yang tertata, tertib, teratur dan terarah, perumusan rencana strategis dan formula gerakan, penaataan instrumen administratif dan atributif, serta terumuskannya pola pengakaderan ICMI Muda. Secara eksternal ICMI Muda mulai tampil sebagai organisasi yang diperhitungkan pengaruhnya dan berkontribusi pada ummat dan bangsa.

 

B. Sasaran Kebijakan

1. Sasaran Personal

-   Terciptanya cendekia muslim muda yang berwawasan luas, berorientasi ke depan, memiliki integritas dan moraltas religius baik dalam konteks kehidupan individual maupun sosial dengan terus menrus memberikan respon yang tepat dan bertanggung jawab.

2. Sasaran Institusional

-   Secara internal : terbinanya mental pimpinan dan/atau mekanisme kepemimpinan, keorganisasian dan administrasi sehingga secara bertahap terwujud suasana tata kepemimpinan, tata keorganisasian dan tata keadminsitrasian.

-   Secara Eksternal : Terbinanya kepemimpinan ICMI Muda yang tertib, baik vertikal (Kampus atau Daerah sampai Pusat) maupun horizontal (hubungan antar anggota pimpinan dalam satu tingkat) dalam rangka pelaksanaan program untuk pencapaian tujuan ICMI Muda; Terbinanya peran aktif ICMI Muda dalam berkontribusi kepada ummat dan bangsa serta terjalinnya komunikasi ICMI Muda dengan pemerintah dan lembaga lain.

 

C. Strategi

 

            Strategi pelaksanaan program lima tahunan diupayakan dalam rangka pencapaian sasaran pelaksanaan program jangka panjang, dengan strategi pelaksanaan program sebagai berikut :

  1. Memantapkan mekanisme kepemimpinan dan keorganisasian dengan menekankan pada penyusunan dan penyempurnaan tata aturan organisasi dan sosialisasinya pada seluruh jenjang kepemimpinan.
  2. Pelaksanaan program senantiasa memperhatikan antara pembangunan struktur dan infrastruktur dengan pembangunan sumber daya secara seimbang
  3. Mewujudkan  organisasi yang lebih dinamis dan fungsional melalui pengembangan program lintas sektoral dan terintegrasi
  4. Perluasan gerak organisasi melalui pengembangan bidang yang strategis dan kerjasama.
  5. Pemantapan peran dan partispasi ICMI Muda  dalam berbagai spek kehidupan
  6. Untuk kesinambungan program antar periode muktmar diperlukan transformasi ide dan gagasan melalui proses regenerasi yang terencana dan berkesinambungan
  7. Untuk menyerap keragaman dinamika dan permasalahan yang dhadapi pada jenjang kepemimpimpinan maka diberikan peluang kepada masing-masing jenjang kepemimpinan untuk mengembangkan pola kebijakan jangka panjangnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya dengan mengacu pada pola kebijakan ICMI Muda secara umum

 

D. Pengembangan Program

 

            Berdasarkan atas pokok-pokok pikiran dan pertimbangan di aats, kebijakan program pengembangan  ICMI Muda meliputi :

 

Bidang Kepemimpinan

-           Mensosialisasikan dan melaksanakan mekansime kerja pimpinan secara optimal

-           Meningkatkan efektifitas dan fungsionalitas pertemuan-pertemuan/rapat pimpinan guna penyamaan persepsi dan koordinasi kerja antar pimpinan

-           Selektifitas dalam memilih dan merekrut pimpinan guna peningkatan kualitas dan wibawa kepemimpinan

-           Meningkatkan kedisiplinan dan tertib kepemipinan

-           Transformasi dan konsolidasi kepemipimpinan.

 

Bidang Manajemen

-           Penataan mekanisme kerja organisasi sehingga lebih optimal, efisien dan efektif serta mampu menampung dan mendukung seluruh aktifitas oragnisasi

-           Penggalangan potensi dan kekuatan, serta koordinasi aktifitas organisasi sehingga tercipta tata organisasi tertata rapi, teratur dan terarah.]

-           Pembentukan, pembinaan dan pengembanagn aktifitas ICMI Muda yang diarahkan pada operasionalisasi peran ICMI Muda secara luas

-           Menciptakan jaringan  koumnikasi dan informasi untuk peningkatan wawasan dan pembinaan ukhuwah Islamiyah serta pengembanagn ICMI Muda secara eksternal

 

Bidang administrasi organisasi

-           Penataan dan penyempurnaan tertib administrasisehingga berfungsi efektif, efisien dan mampu mendukung seluruh gerak organisasi.

-           Pelayanan dan pemenuhan kebutuhan adiministrasi organisasi ICMI Muda.

-           Adanya pemahaman dan kemampuan pelaksanaan administrasi organisasi ICMI Muda.

-           Adanya inventarisasi dan pengelolaan data (data base) organisasi ICMI Muda secara nasional.

 

Bidang penggalian, pengelolaan dan pengembangan dana organisasi

-           Menyusun dan menetapkan perencanaan keuangan yang menyeluruh dan terpadu.

-           Melakukan intensifikasi, diversifikasi, dan ekstensifikasi melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga lain.

-           Mengkaji pos-posmata anggaran, merumuskan standar efesiensi dan akuntabilitas pengeluaran keungan.

-           Menyusun sistem akuntansi yang transparan, akuntabel dan mampu mendukung pengembangan.

-           Meningkatkan daya abadi yang mendukung pengembangan, keberlanjutan dan masa depan ICMI Muda yang lebih baik.

 

Bidang Konsolidasi Organisasi

Konsolidasi adalah salah satu komponen penting dalam sistem keorganisasian. Konsolidasi meliputi pembentukan pengurus dan pengotimalan fungsi dan peran organisasi. Dalam muktamar ini, akan dilakukan persiapan untuk melakukan pembentukan pengurus organisasi  baik majelis pengurus pusat, wilayah, daerah, satuan khus, luar negeri maupun badan otonom. Tujuannya adalah untuk memamantapkan peran  dan fungsi personalitas organisasi di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, program-proigram yang dilakukan dalam konteks konsolidasi organisasi adalah sebagai berikut.

-          Membentuk majelis pimpinan ICMI Muda pusat secara presidium beserta seluruh perangkat kelengkapannya.

-          Membentuk majelis pimpinan ICMI Muda wilayah di berbagai provinsi beserta seluruh perangkat kelengkapannya.

-          Membentuk majelis pimpinan ICMI Muda daerah di berbagai kota dan kabupaten beserta seluruh perangkat kelengkapannya

-          Membentuk majelis pimpinan ICMI Muda khusus di berbagai kampus perguruan tinggi beserta seluruh perangkat kelengkapannya

-          Membentuk majelis pimpinan ICMI Muda luar negeri diluar NKRI beserta seluruh perangkat kelengkapannya

-          Membentuk badan otonom ICMI Muda sesuai kebutuhan organisasi beserta seluruh perangkat kelengkapannya

 

Bidang Kadernisasi

Kadernisasi merupakan ikhtiar untuk,mempersiapkan SDM yang memiliki kecerdasan majemuk dalm rangka mengembanghkan dan memajukan organisasi. Kaderisasi menjadi bagian penting bagi keberadaan ICMI Muda sehingga menopang kelahiran cendikiawan muslim di Indonesia. Untuk itu, program kadernisasi adalah sangat strategis untuk melahirkan cendikiawan yang kritis dan  pemikiran analitis yang dapat dipertanggung jawabkan. Program kadernisasi diwujudkan dalam bentuk pelatihan, studi ilmiah, seminar, lokakarya (workshop). Potensi angkatan cendikiawan muda pada usia 26 hingga 45 tahun adalah usia produktif.dari segi ekonomi, sosial budaya. Pada era ini doharapkan melahirkan suatu kontribusi:aktif dalam konteks pemcahan semua umat. Seiring dengan hal itu diatas maka pemikiran harus dimaknai dalam suatu proses berfikir menuju umat dan bangsa yang lebih bermartabat. Program-program yang dilakukan dalam kaderisasi adalah sebagai berikut :

-           Melakukan pelatihan secara berjenjang mulai dari majelis pimpinan pusat sampai di badan-badan otonom sehingga melahirkan kader-kader yang tangguh.

-           Melakukan studi ilmiah untuk memberikan  pemamahan terhadap berbagai persoalan krusial melalui penelitian dan pengkajian.

-           Malakukan seminar dan dialog untuk membahas berbagai persoalan actual dan strategis.

-           Melakukan lokakarya untuk membahas isu-isu krusial dan menciptakan perangkat dan produk yang diperlukan untuk menanggulangi berbagai permasalahan umat dan bangsa.

 

Bidang Dakwah Sosial dan Keummatan

Umat Islam di Indonesia dari segi kuantitas sangat membanggakan tetapi dari potensi kualitas dalam berbagai aspek masih memperlihatkan hal-hal yang memperihatinkan. Masalah ini harus menjadi perhatian Islam, terutama ICMI muda untuk memberikan solusi terhadap apa yang dihadapi umat saat ini. Mengantisipasi hal ini, ICMI muda di setiap kepengurusan pusat, wilayah, dan kota/kabupaten perlu membuat strategi dakwah yang membangkitkan semangat penghayatan dan peningkatan  kualitas keimanan dan ketrakwaan, serta mengembangkan kegiatan ekonomi yang berorientasi syariah. Hal ini diamksudkan agar umat dapat hidup lebih mandiri, sejahtera, dan berkuatas.  Program-program yang dilakukan dalam kaderisasi adalah sebagai berikut.

-         Melakukan dakwah  sosial  sebagai wujud nilai-nilai ketauhidan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

-         Membangun jaringan informasi Islami dengan mengembangkan dan menggunakan berbagai media dan modus teknologi informatika.

-         Menciptakan citra Islam sebagai  agama rahmat bagi seluruh alam melalui komunkasi dakwah yang santun dan kritis.

 

d.   Pemikiran dan Kebudayaan

Peran dan fungsi pemikiran dan kebudayaan melalui penelitian dan pengembangan IPTEKS dalam peningkatan SDM adalah sangat penting. SDM yang unggul merupakan syarat utama bagi kemajuan bangsa dan kesejahtraan umat. Dalam konteks ini, maka ruang lingkup litbang ICMI muda mencakup:

-         Analisis masalah IPTEKS,

-         Alternatif pemecahan masalah,

-         Pengembangan IPTEKS dalam ranah pendidikan, dan

-         Pemanfaatan IPTEKS bagi kemaslahatan umat.

 

Gerakan pemikiran dan kebudayaan dibangun melalui wadah pengembangan konsep strategi dan implementasinya dilakukan lewat kegiatan sebagai beikut :

-         Pendidikan dan latihan,

-         Olimpide, dan

-         Rekayasa dan rancang bangun IPTEKS. 

e.   Pemberdayaan Masyarakat

Gerakan pemberdayaan masyarakat bertujaun untuk menyelenggarakan kegiatan social dan ekonomi dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat kecil dan kaum lemah guna mewujudkan keadilan social  ekonomi bangsa Indonesia.  Program-program yang dilakukan dalam bidang pemberdayaan masyarakat ini adalah sebagai berikut :

-         Mengedukasi kaum lemah agar menjadi kuat sehingga berwawasan usaha ekonomi.

-         Merancang kegiatan social ekonomi yang mendorong kaum lemah untuk bangkit melalui usaha kecil dan mikro ekonomi, seperti BMT dan industri rumah tangga.

-         Memfasilitasi kaum lemah untuk memperoleh modal usaha kecil melalui BUMN.

 

PENUTUP

            Keberhasilan pelaksanaan suatu usaha dan program serta kegiatan yang dilakukan tergantung dari niat, komitmen dan konsistensi dari segenap pimpinan dan anggota ICMI Muda secara keseluruhan. Keberhasilan pembinaan terhadap anggota ICMI Muda seyognyalah dapat dirasakan secara nyata dalam bentuk peningkatan kualitas hidup secara lahir-bathin, berkontribusi secara nyata pada ummat dan bangsa, sehingga semkain memudahkan bagi generasi berikutnya menuju cita-cita bersama.