Pergerakan Umat Islam dalam Sejarah Nasional Indonesia
Kamis, 22 Maret 2007

1.    Beberapa catatan dari Tarikh Indonesia  (Abad 14 – 18)

1389 – 1520

Kemunduran Majapahit; berkembangnya Malaka (Islam).

1477 - 1488

Sultan Alauddin Syah - puncak kebesaran Malaka (juga sebagian Sumatra).

1500 – 1546

Timbul dan berkembangnya kesultanan Demak (mengusai seluruh jawa dan sebagian besar kepulauan di luar Jawa).

1512

Ekspedisi Demak ke Malaka (menggempur Portugis), tapi gagal.

1525

Sunda kelapa diberi nama Kayakarta oleh fatahillah (22 Juni)

1568 – 1586

Kerajaan Pajang di Jawa.

1575 – 1601

Pemerintahan Panembahan Senopati (Mataram) di Jawa Tengah dan Timur.

1596

Datangnya Belanda (Houtman dan Keyzer)

1602

Pendirian kongsi dagang Belanda – Vereinigte Ost-indische Companie (VOC).

1607 – 1641

Zaman kebesaran Aceh (seluruh Sumatra dan Malaya).

1613 – 1645

Sultan Agung Mataram (seluruh Jawa dan Madura).

1628 – 1629

Mataram mengepung Batavia.

1629

Iskandar Muda (Aceh) merebut kota Malaka dari Portugis.

1672 – 1680

Trunojoyo (Madura) memerangi Mataram yang dibantu VOC.

1686 – 1708

Perang merebut tahta.  Pangeran Puger diakui VOC sebagai Paku Buwono I dan bukan Sunan Mas anak Amangkurat II.

1718 – 1723

Perlawanan menentang Belanda di Surabaya dan Madura (Untung Suropati).

1749 –1757

Pembagian Mataram setelah wafatnya Paku Buwono II (sebelum wafat dia serahkan seluruh Mataram kepada VOC)

1750 –1751

Perlawanan Banten dipatahkan VOC; Lampung diserahkan.

1755

(13 pebruari)

Perjanjian Gianti: Mataram dibagi menjadi Surakarta (Sunan Paku Buwono III) dan Yogyakarta (Hamengku Buwono I).

1757

(17 Maret)

Mas Said tunduk kepada Sunan Paku Buwono III, mendapat sebagian wilayah dengan gelar Mangkunegoro.

1799

(31 Desember)

VOC dibubarkan.  Per 1 Januari 1800 Belanda mengangkat Gubernur Jenderal untuk mewakili Raja Belanda memerintah seluruh wilayah Nusantara.

2.      Beberapa catatan dari Tarikh Indonesia (Abad 19)

1811 –1816

Pemerintahan sementara Inggris (Raffles) – setelah Belanda yang di taklukkan Perancis, dan Perancis dikalahkan oleh Inggris., Paku Alaman dibentuk.

1821 –1845

Perang di Sumatra Barat (Tuanku Imam Bonjol).  Para ulama menentang adat yang bertentangan dengan syara’.  Pemuka adat minta bantuan Belanda.

1825 –1830

Perang Jawa (Pangeran Diponegoro).  Diponegoro dibuang ke Makassar.

1873 –1903

Perang Aceh (Teuku Umar, Teungku Cik Di Tiro, Cut Nya’ Dien).

1900 – 1905

Perang Kalimantan Selatan (Pangeran Antasari)

3. Empat pemberontakan Santri Pada Abad ke19

CLIFFORD GEERTZ dalam bukunya Islam Observed: Religious Development in Marocco and Indonesia mencatat empat kali pemberontakan santri melawan imperalis Belanda pada Abad ke 19 ini:

Pertama, di Sumatera Barat (1821 –1828). Dalam hal ini Clifford Geertz tidak menamakan pemberontakan itu sebagai Perang Paderi.  Hanya disebutkan timbulnya pemberontakan sebagai akibat para ulama menentang adat.  Pemberontakan ini diakhiri setelah invasi militer Belanda.  Selain perbedaan penamaan, ada juga perbeda masa pemberontakan tersebut.

Kedua, di Jawa tengah (1826 –1830). Geertz tidak menyebut nama Diponegoro, hanya menjelasakan pemberontakaan ini timbul akibat tumbuhmya gerakan Mahdi yang melancarkan perang sabil terhadap imperalis Bealnda dan antek-anteknya.

Ketiga, di barat laut Jawa pada 1840 dan 1880.  Di sini tidak disebut nama daerah dan tokoh pemimpin pemberontakan tersebut. Sebenarnya pemberontakan ini adalah respon Ummat Islam Banten atas Tanam Paksa, dan pemberontakan berulang (1834, 1836, 1842, 1849, 1880 dan 1888).

Keempat, di Aceh (1873 – 1903).  Di sini hanya disebutkan bahwa pemberontakan ini berhasil mengacaukan imperialis Belanda selama 30 tahun.

4.  Pergerakan Sosial, Dakwah dan Pendidikan

1900

Jauh sebelum tahun 1900 sudah berjalan lama pengajian Surau Jembatan Besi Padang Panjang di bawah asuhan Syaikh ‘Abdullah. Dari bibit ini kemudian tumbuhlah Sumatra Thawalib di Padang panjang yang kemudian pusat pertumbuhan ulama dan Zuama Islam bertebaran di seluruh Indonesia.  Disamping Syekh Abdullah para pemimpin lain gerakan Sumatera Thawalid antara lain: Syaikh Daud Rasyidi (ayah H.M.D. Dt. Palimo Kayo), Syaikh A. Lathif Rasyidi (ayah H. Muchtar Luthfi), Syaikh H.A. Karim Amrullah (ayah Hamka), Tuanku Muda Abdul Hamid Hakim, Zainuddin Labay el Junusi, Syaikh Ibrahim Musa Parabek dan lain-lainnya.4)

1905

Tanggal 16 Oktober 1905 Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (S.D.I).  (Budi Utomo, yang dianggap Hari Kebangkitan Nasional, didirikan tiga tahun setelahnya, yaitu 20 Mei 1908).  Pada tahun 1905 resmi berdiri pula al-Jam’iatu ‘I-Khairiyah.

1911

S.D.I. diubah namanya menjadi Sarekat Islam (S.I.).

1912

Kiai Haji Ahmad Dahlan, salah seorang alumnus al-Jam’iyatu ‘l-Khairiyah, mendirikan Muhammadiyah pada 12 November 1912.  Dasar gerakannya ialah Al-Quran dan As Sunnah, anti taqlidisme, menentang bid’ah, mendirkan perguruan, mendirikan departemen khusus wanita Muhammadiyah (yaitu Aisyiah). Para pemimpinnya antara lain: Mas Manyur, Ki Bagus Hadikusumo, AR. Sutan Mansur, KH. Fakih Usman, Junus Anis, Prof. Dr. HM. Rasyidi, Dr. Aboe Bakar Atjeh, Dr. Hamka, Prof. A. Kahar Mudzakir, Kasman Singodimejo dan HAR Fachruddin.

1913

Syaikh Ahmad Sukarti al Anshari, seorang ulama Jam’iyatu ‘I-Khairiyah, mendirikan gerakan al-Irsyad, yang dapat menampung gagasan yang sangat radikal.

1916

Pada tahun 1916 berdirilah Matla’ul Anwar (M.A.) di Menes Banten.

1923

K.H. Zamzam mendirikan Persatuan Islam (Persis) tanggal 12 september 1923 di  Bandung. Tujuannya ialah berlakunya hukum hukum dan ajaran Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Aktivitasnya terutama membasmi bid’ah, khufarat ,takhayul, taqlid dan syirik dikalangan ummat; memperluas tabligh dan da’wah islam. Para pemimpinnya antara lain: A.Hassan, K.H Ma’shum, K.H. Moenawar Chalil, T.M Hasbi ash-Shiddieqy, K.H. Imam Ghazali, M.Natsir, K.H.M. Isa Anshary, Fachruddin Alkahiri, K.H.E. Abdurrahman, A. Qadir Hasan, Qomaruddin Shaleh, Rusjad Nurdin dan lain-lainya.

1926

Pada 1 Januari 1926 Nahdatul Ulama didirikan di Surabaya oleh Syaikh Hasyim Asy’ari, sebagai reaksi terhadap gerakan pembaharuan yang dibawa terutama oleh muhammadiyah. Usahanya antara lain mengembangkan dan mengikuti salah satu dari keempat madzhab fiqih. Tahun 1945 bergabung ke Masyumi, namun 1952 menjadi partai politik sendiri, dan ikut berkompetisi bersama Masyumi pada Pemilu 1955.

1930

Pada 30 Nopember 1930 lahir di Medan al Jami’iyyatull Washliyah, berasas Islam, dalam hukum fiqih bermahzdhab Syafi”I dan I’tikad mengikuti pendirian ahlu‘s Sunnah wa’l Jama’ah. Para pemimpinnya antara lain : Abdurrahman Sjihab, Arsjad Thalib Lubis, Udin Sjamsuddin, Adnan Lubis dan Bahrum Djamil.

5. Pergerakan Politik

1905

Lahirnya Sarekat Dagang Islam.  1911 menjadi Syarikat Islam. 
1923 menjadi Partai Syarikat Islam.  1927 Partai Syarikat Islam Hindia Timur.

1930

Syarikat Islam Hindia Timur menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).
Para pemimpinnya ialah H.Samanhudi, H.O.S.Tjokroaminoto, S.M.Kartosoewirjo,
Dr Sukiman Wirjosandjojo, Abikusno Tjokrosoejoso, H. Agus Salim,
Arudji Karwinata, Sjech Marhaban, dan Ch. Ibrahim.

1932

Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) didirikan sesudah Thawalib Sumatera direorganisasikan.  Semula bergerak di lapangan sosial: sejak 1932 merupakan suatu organisasi politik radikal, berhaluan non-koperasi dan anti adat istiadat Minangkabau: bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.  Melakukan aksinya juga di Tapanuli , Bengkulu dan Palembang.Pada 18 oktober 1937 organisasi tersebut dibubarkan.

1934

Pada 4 oktober 1934 didirikan Partai Arab Indonesia dibawah A.R. Baswedan sebagai wadah turunan Arab untuk berjuang bagi tanah-air dan bangsa Indonesia.

1937

Atas inisiatif KH. Mas Mansur dan K.H. Dahlan terbentuklah Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) sebagai wadah federasi kumpulan Islam, pada tahun 1937.

1938

Pada tahun 1938 berdirilah Partai Islam Indonesia. Diantara para pemimpin yang terkenal ialah: Dr Sukiman Wirjosandjojo, Wiwoho, Ki Bagus Hadikusumo, A. Kahar Muzakir, M. Natsir dan K.H. Mas Mansur (sebagai Penasihat).

1943/
1944

Sebagai pengganti M.I.A.I. maka pada zaman kedudukan Jepang didirikan bersamalah Madjlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai gerakan non-politik.

1945

Tanggal 22 Juni 1945 ditanda tanganilah Piagam Jakarta oleh para pemimpin Indonesia: Soekarno, Mohammad, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahr Muzakir, H.A. Salim, Ahmad Subardjo, Wahid Hasyim dan Muhammad Yamin.

 

Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia.

1947

P.S.I.I. keluar dari Masjumi.

1952

Dalam kongresnya di Palembang NU memutuskan keluar dari Masjumi dan menjadi Partai Politik Islam.  Para pemimpinnya yang terkenal ialah: Wahab Chasbullah, Bisri Sjansuri, Wahid Hasjim, K.H.M. Dahlan, K.H. Idham Chalid, K.H. Saifuddin Zuhri, K.H. Masjkur, K.H. Sjaichu, H. Zainul Ariifin, dan K.H. Jusuf Hasyim.

1955

Pemilu: Masjumi 57, N.U.45, Partai Islam lain: 13 44% dari seluruh Kursi DPR.

1960

Masjumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada Agustus 1960 karena dianggap mentolerir pemberontakan-pemberontakan (DI/TII).  Para pemimpinnya antara lain: M. Natsir, Dr Sukiman Wirjosandjojo, Mr Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangkususmito, Mr Sjafruddin Prawiranegara, Mr Burhanoeddin Harahap, Dr Abu Hanifah, Mr Mohamad Roem, M. Yunan Nasution, K.H.M. Isa Anshary, E.Z Muttaqien.

1968

Berdiri partai Muslimin Indonesia (Parmusi) sebagai wadah untuk menampung aspirasi ummat yang belum berpartai.  Ketua Umum: Faqih Usman (diusulkan dari dalam) ditolak pemerintah.  Pimpinan selanjutnya: H Djarnawi Hadikusumo (ketua Umum) dan Lukman Harun (sekjen).  Mr Mohamad Roem yang dipilih Muktamar I di Malang juga tidak diterima pemerintah.  Djarwaji –Lukman pun “di-coup” oleh J. Naro dan A. Imran Kadir, dan akhirnya pemerintah mengangkat H.S. Mintaredja sebagai Ketua Umum.

1971

Pemilihan Umum tahun 1971 menghasilkan susunan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sebagai Berikut: Golkar 227 (ditambah wakil dari Irian Barat 9) ,NU 58, Pramusi 24,PNI 20 PSII 10.  Anggota yang yang diangkat terdiri dari ABRI 75 dan non ABRI 25.  Pemilu ini adalah pemilu pertama Orde Baru, yang berkuasa 32 tahun. 
Pada 1973 Orde Baru “menyederhanakan” parpol-parpol.  Seluruh partai berkonstituen massa Islam dihimpun dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

1998

Orde Baru lengser.  Soeharto digantikan Habibie, yang membuka keran politik.  Lahirnya banyak partai baru.  Pada Pemilu 1999, keluar sebagai pemenang:
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang berhaluan sekuler-nasionalis;
Partai Golongan karya – ex Orba yang tinggal dikendalikan alumni HMI;
Partai Persatuan Pembangunan – ex partai di era Orba, berasas Islam;
Partai Kebangkitan Bangsa – yang tidak berasas Islam namun berbasis massa NU;
Partai Amanat Nasional – yang tidak berasas Islam namun berbasis Muhammadiyah;
Partai Bulan Bintang – berasas Islam, berbasis massa Masyumi.
Beberapa partai Islam lainnya mendapat suara kurang dari 2% sehingga pada pemilu mendatang harus ganti nama. 
Di antaranya adalah Partai Keadilan, menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

1999

Abdurrahman Wahid (Gus Dur), deklarator PKB menjadi presiden atas usul Amien Rais (PAN) dan dukungan Golkar dan partai-partai Islam, mengalahkan Megawati yang partainya (PDIP) meraih suara terbanyak pada Pemilu.  Tahun 2001 Gus Dur diturunkan oleh Sidang Istimewa MPR karena kasus “Bulog Gate”.

6. – Pergerakan - Pergerakan . Lainnya

Biasanya masing masing Organisasi terutama partai politik mempunyai organisasi bawahannya yangsecara khusus menggarap masalah masalah tertentu: Wanita, buruh, tani ,Mahasiswa, pelajar, dan lain sebaginya. Disamping Organisasi “kekaryaan” bawahan partai, ada beberapa organisasi”kekaryaan ýang independen, seperti sarikat tani islam Indonesia (S.T.I.I.) Gasbindo (Gabungan Sarikat Buruh Islam Indonesia) K.B.I.M. (Kongres Buruh Islam Merdeka), S.N.I.I. (Persatuan guru Islam Indonesia) dan lain sebagainya .

7. Pergerakan Generasi Muda Islam

7.1.  Pergerakan Pelajar : Pelajar Islam indonesia (P.I.I independen): Ikatan Pelajar Nahdtul Ulama (IPNU, bawahan NU) Sarikat pelajar Muslimi Indonesia (Sepmi, Bawahan P.S.I.I) Ikatan Pelajar Muhamdiyah (IPM. Bawahan Muhamadiyah)

7.2. Pergerakan mahasiswa: Himpunan Mahasiswa Islam (H.M.I independen) pergerakan Mahasiswa Islam indonesia P.M.I.I. bawahan N.U); Sarikat Mahasiswa Muslimi Indonesia  (Semmi, bawahan P.S.I.I.) Gerakan Mahasiswa  Islam Indonesia (Germahii. Germahii, bawahan Perti) Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (I.M.M., bawahan Muhammadiyah) dan lain sebaginya.

7.3. Pergerakan Pemuda: Gerakan pemuda Islam (G.P.I., Independen); Gerakan Pemuda Ansor (bawahan  N.U.); Pemuda persatuan Islam (bawhan persatuan Islam): Badan koordinasi pemuda Masjid Indonesia Dan lain sebagainya.

7.4. Pergerakan Sarjana : Persatuan Sarjana Muslimin Indonesia (Persami, Independen), Ikatan Sarjana Islam Indonesia , (ISII, bawahan N.U); Sarikat Sarjana Muslim Indonesia (Sesmi bawhan P.S.I.I.) dan lain sebagainya. 

Sumber : Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif, Penulis MR. Kurnia, dkk. Penerbit Pustaka Al-Azhar, 2005