Filosofi dan Profil Kepribadian Cendekiawan Muslim Muda
Sabtu, 30 Juni 2007

A. Filosofi

Cendekiawan ialah orang yang mempunyai wawasan, sikap dan perilaku cendekia, yang tercermin dalam kemampuannya untuk menatap, menafsirkan, dan merespons lingkungan hidupnya dan perkembangan masyarakatnya dengan sikap kritis, kreatif, obyektif, dan analitis, atas dasar tanggung jawab moral dan kemanusiaan.

Kecendekiawanan merupakan panggilan nurani untuk melakukan peranan dan missi dalam masyarakat. Kecendekiawanan terletak terutama pada komitmen seseorang untuk melibatkan diri dalam masalah-masalah kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Ciri dasar kecendekiawanan adalah kepedulian pada kemanusiaan dan kemasyarakatan, serta terus menerus berusaha memberikan respon yang tepat dan bertanggung jawab.  Kaum cendekiawan harus bisa mengartikulasikan diri sesuai dengan misi kecendekiawanannya.

Demikian pula alam pikiran terbuka yang melekat pada sub-kultur kaum cendekiawan, memberikan keleluasaan untuk melakukan kritik sosial. Kritisisme itu dapat mencakup segi moral, etik, sosial, politik, budaya, estetis, dan lain sebagainya.

Kata cendekiawan yang dalam Al-Qur’an yang disebut Ulul albab adalah perwujudan aktifitas akal dan hati. Akallah yang telah membuktikan kebenaran Islam dan setelah terbukti hati akan meyakini, selanjutnya mendorong setiap muslim yang memahami dan meyakininya untuk bergerak, menjadi agen-agen perubah di tengah-tengah masyarakat.

Kata kunci muslim menunjukkan bahwa berislamnya seseorang menuntut adanya totalitas. Karakter Islam yang syumul mewarnai seluruh aspek kehidupan sehingga pola pikir, emosi, perasaan dan juga fisik terwarnai dengan Islam. Dengan syahadah, seorang muslim meyakini dia memang diciptakan hanya untuk beribaah kepada Allah, bahwa tidak ada yang dapat memberinya kemudharatan keculai atas izin Allah, sehingga dengan demikian tidak ada satupun yang ditakutinya. Kalaupun ia harus berkorban harta bahkan sampai nyawa sekalipun,  dia sadar apapun hasilnya akan berupa kebaikan, matinya adalah syahid dan hidupnya adalah kemuliaan.

Kata muda menunjukkan sosok yang produktif, progresif, kreatif serta inovatif, yang menunjukkan besarnya potensi sekaligus tanggung jawab. Cendekiawan muslim muda adalah adalah orang Islam yang berusia muda, energik dan produktif, peduli terhadap lingkungannya, terus menerus meningkatkan kwalitas iman dan taqwa, kemampuan berpikir, menggali, memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kehidupan keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan untuk diamalkan bagi terwujudnya masyarakat madani.

B. Profil Kepribadian Muslim

Cendekiawan ialah orang yang mempunyai wawasan, sikap dan perilaku cendekia, yang tercermin dalam kemampuannya untuk menatap, menafsirkan, dan merespons lingkungan hidupnya dan perkembangan masyarakatnya dengan sikap kritis, kreatif, obyektif, dan analitis, atas dasar tanggung jawab moral dan kemanusiaan.

          Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim  tercermin pada orang-orang yang rajin melaksanakan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanya salah satu aspek yang harus ada dalam diri pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standard pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang wajib dirumuskan, sebagai acuan bagi pembentukan pribadi muslim. Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya terdapat 10 (sepuluh) profil atau ciri khas yang hendaknya ada pada pribadi seorang muslim.

a). Salimul Aqidah

          Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang sepatutnya ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT sehingga tidak menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya Sholatku, Ibadahku, Hidup dan Matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. 6 : 162).

Karena pentingnya memiliki aqidah yang salim, Rasulullah dalam dakwahnya ara sahabat di Makkah mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

b). Shahihul Ibadah

          Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting, sebagaimana sabda beliau : ”sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan peribadatan haruslah merujuk kepada Sunnah Rasulullah SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

c). Matinl Khuluq

          Akhlaq yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlaq mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Baik dalam hubungannya kepada Allah maupun kepada makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlaq mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik dunia maupun di akhirat.

          Karena begitu pentingnya memiliki akhlaq mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlaq dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaqnya yang agung sehingga diabadikan dalam Al-Qur’an : ”Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung” (QS. 68 : 4).

d). Qowiyyul Jismi

          Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksnakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Sholat, zakat, puasa, haji dan perang di jalan Allah harus dilaksanakan dengan fisik yang kuat. Oleh karena itu, kekuatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim, dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada mengobati. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sering sakit. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda : “Mukmin yang kuat aku cintai daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim).

e). Mutsaqqoful Fikri

          Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fathonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkapkan ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya : ”Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS. 2 :219).

          Dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Dapat kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman-Nya : ”Samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. 39 : 9)

 

f). Mujahadatul Linafsihi

          Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim. Karena setiap manusia memiliki kecendrungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecendrungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan  tunduk pada ajaran islam. Rasulullah SAW bersabda : “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim).

 

g). Harishun Ala Waqtihi

          Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam tersebut, ada manusia yang beruntung dan tidak sedikit manusia yang merugi. Karena itu tepat semboyan yang mengatakan ; Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi

          Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut memenej waktunya dengan baik, sehingga waktu  dapat berlalu  dengan penggunaan yang efektif dan tidak sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, rehat sebelum sibuk dan kaya sebeleum miskin.  

h). Munazhzhamun fi Syuunihi

          Teratur dalam suatu urusan (munazhzhamum fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun Sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terikat dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun  yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapatkan perhatian. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya penerusan dan berilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

i). Qodirun alal Kasbi

          Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kekuasaan (qadirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bilamana seseorang memiliki kekuasaan, terutama dari segi ekonomi. Tidak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena itu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shodaqah, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun Al-hadits dan hal tersebut memiliki keutamaan yang amat tinggi.

          Dalam kaitan menciptakan kekuasaan inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rezki dari Allah SWT, karena rezki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau keterampilan.

j). Nafi’un Lighoirihi

          Bermanfaat bagi orang lain atau nafi’un lighoirihii merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal mungkin agar dapat bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim tidak bisa mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya. Sabda Rasulullah SAW : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermnafaat bagi orang lain”. (HR. Qudhy dari Jabir). 

(Disusun oleh Departemen Pengembangan Kepribadian Muslim-MP ICMI Muda Pusat)