" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Organisasi arrow Aktifitas arrow Ketua DP ICMI Muda: Indonesia Tertinggal Jauh
Ketua DP ICMI Muda: Indonesia Tertinggal Jauh Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 30 Juni 2007

Indonesia sebagai negara besar, hanya besar pada populasi, namun kompetitifnya tertinggal jauh dengan negara-negara lain. Seharusnya dengan kebesaran yang dimiliki Indonesia bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar di dunia.

Demikian dikatakan Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat Djohar Arifin dalam seminar dan musyawarah Wilayah I ICMI Muda Sumut yang bertema: ‘Kecendekiaan, Keislaman Kepemudaan Ke-Indonesiaan’ di Sumatera Village Sabtu (23/12).

Tampak hadir dalam acara tersebut Prof. Dr. Nur Ahmad Fadhil Lubis (guru besar IAIN Sumut) selaku pembicara, presidium ICMI Muda Pusat Indra Syahrin, Ketua Tim Kerja ICMI Muda Sumut Tatang Hidayat Pohan, Divisi Pengembangan Wilayah ICMI Muda Nelly Armayanti.

Djohar dalam sambutannya mengatakan, potensi besar yang dimiliki Indonesia yang sebenarnya bisa berkembang menjadi negara yang besar. Namun sayangnya Indonesia hanya bisa menjadi bangsa dengan komunitas yang besar.

“Kita hanya bangsa dengan komunitas yang besar. Padahal sebenarnya bisa menguasai ekonomi, politik dan kekuatan dengan kekuatan besar yang kita miliki,” ujarnya.

Tapi sayangnya dibandingkan dengan negara-negara di dunia, Indonesia hanya besar pada populasi, dari segi kompetitifnya tertinggal jauh. “Kita belum menyadari hebatnya Indonesia dari segi besarnya Indonesia tersebut. Bagaimana caranya memanage negara yang besar ini,” ujar Deputi Menpora Bidang Kepemudaan ini.

Usaha untuk mengatur negara ini terkendala karena Indonesia belum mampu membangunnya. “Ada yang salah yang memang harus dicari. Tapi bukan mencari siapa yang salah. Tetapi apa yang salah,” katanya.

Indonesia harus segera menyadari adanya ramalan Perang Dunia ke III yang disebutnya ‘Perang Global’ sebagai satu ancaman besar yang justru sudah jauh-jauh dipikirkan oleh negara lain. “Tidak usah dibandingkan dengan Singapura, tetangga kita saja seperti Malaysia, mereka sudah lama mengingatkan warganya menuju 2020. Artinya akan ada perang global pada tahun tersebut sehingga mereka mempertahankan SDMnya. Tapi Indonesia tetap tenang-tenang saja, padahal dengan SDM yang kuat, kita akan mampu untuk mengatasi banyak persoalan-persoalan,” katanya

Di tengah kelemahan Indonesia, lanjutnya, bagaimana pun negara ini tetap punya sisi kekuatan. Di Indonesia warga tidak semuanya miskin. Yang mampu diperkirakannya dari data yang ada sekitar 70 juta. “Ini merupakan market masa depan. Bayangkan dibandingkan dengan warga Singapura hanya 3,5 juta orang. Brunei hanya 300 ribu orang,” ujarnya.

Menurut Djohar, Indonesia merupakan surga bagi para investor dengan jumlah penduduk dan sumber daya alam yang cukup besar. Banyaknya investor tersebut justru pasti akan mengambil orang setempat dan bukan dari negara lain yang bisa dijadikan peluang bagi masyarakat Indonesia.

“Seharusnya digali dari orang-orang kita, salah satunya dari para ICMI muda. Jadi tingkatkan kemampuan sejak dini,” tandasnya.

Dia berharap untuk memajukan Indonesia, adanya tokoh-tokoh Islam tapi yang benar-benar mengerti Islam bukan hanya Islam ‘KTP”. “Islam harus mengambil posisi untuk merebut dunia ini. Yang mengerti Al-Quran, sehingga bisa memimpin bangsa dan dunia ini,” katanya.

Perlu berzikir dan berpikir

Sementara Fadhil dalam sambutannya mengatakan, perlunya umat Islam untuk selalu berzikir dan berpikir. “Zikir itu bukan hanya waktu shalat saja. Tapi kapan saja dan dimana saja selalu mengingat Allah. Sebaiknya cara berpikir Islam secara inklusif. Jadi bukan karena ikut mazhab ini atau itu sehingga mudah dipilah-pilah, seperti kue, gampang dicabik-cabik orang,” tegasnya.

Menurut Fadhil, berpikir inklusif yakni berjuang untuk kejayaan Islam dan pengertian yang lebih luas rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam) mencakup seluruh alam semesta, bukan untuk kelompok-kelompok. (m42) (sn)
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >