" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).Ē QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Organisasi arrow Aktifitas arrow TELAAH BULANAN ICMI MUDA : REFLEKSI ISRA MIíRAJ
TELAAH BULANAN ICMI MUDA : REFLEKSI ISRA MIíRAJ Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 30 Juni 2007

ICMI Muda menggelar acara Telaah Bulanan bertepatan peringatan Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW, tanggal 27 Rajab 1427 H atau 21 Agustus 2006 bertempat di rumah kediaman ketua Presidium ICMI Muda di Jl. Datuk Patimang 147 Makassar. Acara yang dipandu sekretaris ICMI Muda Pusat, Bahrul ulum Ilham mengambil tema : Isra Mi'raj dan Perjalanan Kesejarahan, dihadiri beberapa pengurus ICMI Muda Pusat, dewan pakar, TiKWil ICMI Muda Sulsel dan TiKDa ICMI Muda Makassar. Diskusi yang berlangsung santai tapi serius ini mengurai Isra Mi'raj dari berbagai perspektif, antara lain perspektif iman, ideologis, sains dan kebangkitan.

Perisitiwa Isra' dan Mi'raj diisyaratkan oleh Al-Qur’an dalam dua surah yang berlainan. Kisah isra diterangkan dalam Al-Qur’an surah Al-Isra : 1

Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS al-Isra’ [17]:1).

Sedangkan kisah Mi’raj dan hasilnya diisyaratkan dalam Al-Qur’an surah An-Najm, 13-18

“ Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Yaitu di Sidratul Muntaha. Muahmmad melihat ketika di Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (Kekuasaan) Tuhannya yang paling besar’ (QS. An-Najm, 13-18).

Acara diskusi dimulai dengan pengantar oleh Bahrul ulum, yang menguraikan bahwa peristiwa Isra Mi’raj sesungguhnya sarat makna. Peristiwa ini tidak boleh direnungkan sebagai peristiwa tersendiri, tetapi harus direnungkan sebagai satu kesatuan dengan sejarah perjuangan Rasul saw.  Peristiwa Isra Mi’raj terjadi setelah Rasul saw. bersama para sahabat beliau telah menempuh waktu sebelas tahun perjalanan dakwah dalam menyerukan Islam ke tengah-tengah masyarakat. Menurutnya, Isra Mi’raj dilakukan Rasulullah setelah sebelumnya beliau mengalami peristiwa-persitiwa  yang menyedihkan dalam perjuangannya. Pemboikatan umum atas kaum muslimin oleh kaum Quraisy, meyusul tahun duka cita, dimana Khadijah dan Abu Thalib sebagai pendukung dan pelindung dakwah wafat, Bahkan di Thaif, bukan hanya dakwah beliau yang ditolak namun beliau juga dilempari batu dan diusirr dengan kekerasan karena dianggap orang gila yang akan merusak masyarakat.

Berlatar belakang beberapa peristiwa yang menyedihkan itulah, Rasulullah SAW di isra Mi’raj-kan oleh Allah untuk lebih memperkuat dorongan dakwah dan keyakinan belaiau. Beliau semakin yakin bahwa tidak ada yang memiliki kekuatan dasn kekuasaan selain Dia semata. Dalam peristiwa ini pulalah beliau melihat langsung sebagian kebesaran Allah, agar hati Rasulullah penuh keyakinan dan hanya bersandar kepadanya dalam memperjuangkan islam untuk menghadapi kaum kafir quraisy. Ditunjukkan-Nya kebesaran dan keajaiban kekuasaan-Nya adalah mukjizat yang selalu dimiliki nabi dan rasul. Inilah kekuatan luar biasa yang dapat meyakinkan umat manusia yang mendustakan risalah kenabian Muhammad SAW.

 

AM. Iqbal Parewangi mencoba mengurai dari perspektif sains perjalanan isra dan Mi'raj. Menurutnya, perdebatan apakah Rasulullah Isra’ Mi”raj dengan jasmani dan ruh atau ruh semata menjadi tak berarti dengan pendekatan sains. Fisika modern, seperti relativity dan quantum membuka cara pandang baru tentang alam semesta. Demikian halnya astrofisika memberitahu “batas” semesta. Jarak sangat jauh pada suatu dimensi akan menjadi sangat dekat dengan “melompat” atau lewat “pintu” hiper-dimensi. Bisa juga “langit” adalah satu universe lain dengan hukum-hukum fisika yang berbeda. Keduanya bisa dihubungkan dengan “pintu” hiper-dimensi.

Ahyar Anwar mencoba melihat Isra’ Mi’raj dalam perspektif cinta. Dengan perspektif cinta, seorang hamba yang telah menjadi kekasih-Nya akan dapat “berjalan” menuju Tuhan tanpa lagi melihat waktu dan tempat. Kita dapat berjalan menuju Tuhan dengan cinta, memandang Tuhan sebagai kekasih. Bukankah Tuhan berfirman bahwa kecintaan kepada-Nya harus didahulukan dari kecintaan selain-Nya?  

Adapun bagi Hasyim Kamaluddin, anggota Departemen Seni dan Budaya ICMI Muda Pusat mengatakan, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan refleksi dari hablum minannas (peristiwa isra’) dan hablumminallah (peristiwa mi’raj) yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehrai-hari. Mengemuka pula bahwa kita bisa Mi’raj seperti Rasulullah melalui shalat karena sholat adalah mi’rajnya. Oleh karena itu sholat yang kita lakukan harus dapat berbekas dalam kehidupan sehar-hari. 

Rasulullah dalam Isra’ Mi’raj mendapatkan penghormatan dengan dikenalkannya kepada setiap rasul yang lain lalu mereka menyambut dengan ucapan “Marhaban bi Akhi shohih” (Selamat datang saudaraku yang salih). Hal ini secara jelas menempatkan Islam sebagai agama yang bersifat universal dan agama yang berlaku bagi seluruh umat manusia, sehingga tidak akan ada perbedaan antara kaum muslimin yang berada di Palestina dengan kita yang berada disini. Juga kaum muslimin di seluruh dunia, ikatannya adalah aqidah islamiyah. Apabila tanah Al-Quds sendiri telah diberkahi Allah SWT, juga tanah sekelilingnya merupakan tanahnya kaum muslimin, ungkap Alimuddin, Ketua Departemen Kajian ekonomi.

Palestina adalah negeri Islam yang merupakan bagian selatan dari negeri Syam yang telah ditaklukkan oleh kaum Muslim dengan mengorbanklan darah mereka. Karena itu, tidak boleh ada sejengkal pun tanah Palestina lepas dari pelukan kaum Muslim. Palestina adalah milik seluruh kaum Muslim. Kaum Muslim wajib mengambilnya kembali dari tangan penjajah tersebut sekalipun mesti mengorbankan darah dan nyawa mereka, tambahnya. (Bahrul ulum
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >