" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow ICMI Muda News arrow ICMI Muda Klaim Bukan Tandingan ICMI
ICMI Muda Klaim Bukan Tandingan ICMI Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 30 Juni 2007

Rabu, 26 Juli 2006

MAKASSAR (Suara Karya): Para cendekiawan muda yang tergabung dalam anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Muda pada Muktamar I di Makassar yang berakhir, Selasa, menegaskan akan tetap jalan terus meskipun Presidium ICMI Pusat Marwah Daud Ibrahim meminta organisasi ini dibubarkan karena akan membuat pengkotak-kotakkan dalam tubuh ICMI.

Ketua Umum Tim Kerja Nasional (TikNas) Muktamar I ICMI Muda, Iqbal Parewangi di sela muktamar di Makassar, Selasa, mengatakan, ICMI Muda merupakan jejak ideologis ICMI dan bukan lagi sebagai bagian dari jejak organisatoris.

Dia juga membantah bahwa penolakan ICMI terhadap ICMI Muda ini adalah berdasarkan keputusan Presidium ICMI. Pasalnya, saat bersilaturrahmi dengan Hatta Radjasa- salah seorang Presidium ICMI- Hatta Radjasa menyatakan dapat memahami dan menyambut positif gagaSan pembentukan ICMI Muda.

Hatta Rajasa saat ditemui dalam sebuah silaturrahmi serangkaian Muktamar ICMI di Jakarta 22 Juni 2006 mengatakan, "ICMI Muda harus menjadi sumber kader bagi kesinambungan kepemimpinan ICMI ke depan dan bahwa yang perlu dikaji adalah keputusan-keputusan muktamar ICMI Muda tidak bertentangan dengan apa yang diputuskan dalam Muktamar ICMI".

Iqbal malah menuding bahwa siapapun yang berusaha menghalangi keberadaan dan keberlangsungan ICMI Muda itu berarti sama saja mengkhianati bangsa Indonesia. Ia menambahkan, selama Muktamar ICMI Muda ini berlangsung, tidak pernah ada pengambilan keputusan yang dilakukan dengan sistem voting. Hal ini menunjukkan ICMI Muda menginginkan kearifan demokrasi Islami yang berlandaskan musyawarah untuk mufakat. Sebab, harus diakui pengambilan keputusan dengan voting merupakan produk (demokrasi) barat.

Lebih lanjut Iqbal mengatakan, keberadaan ICMI Muda ini bukan untuk menandingi ICMI atau akan terlibat dalam politik praktis apalagi bila dikatakan mendapat dukungan backing dari salah satu pejabat negara.

Sebelumnya terdengar informasi bahwa keberadaan ICMI Muda ini mendapat dukungan dana dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla untuk mengimbangi massa Marwah Daud Ibrahim yang dilaporkan berselisih dengan orang nomor dua di Indonesia itu.

"Penyelenggaraan muktamar ini mendapatkan dukungan dana dari beberapa orang yang simpatik dengan keberadaan ICMI Muda termasuk Pemerintah Kota Makassar dan Pemprov Sulsel," ujar Iqbal.

Dia menyebutkan, sejumlah pejabat pemerintah yang memberikan sumbangan material di antaranya Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Boedihardjo, Gubernur Sulsel HM Amin Syam, Wagub Syahrul Yasin Limpo, Walikota Makassar HM Ilham Arief Sirajuddin, Menhub Hatta Radjasa dan HM Aksa Mahmud.

"Bila dikalkulasi sumbangan dana dari para pejabat-pejabat itu ditaksir mencapai Rp 125 juta," tutur Iqbal. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak bisa menyebutkan satu persatu jumlah sumbangan yang diterima ICMI Muda yang menggelar muktamar dengan biaya sekitar Rp 300 juta itu. (Antara)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >