" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Organisasi arrow Tentang ICMI Muda arrow Executive Summary ICMI Muda
Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 28 Juni 2007

Executive Summary :

ICMI Muda

Mengemban Amanah, Meretas Jalan Sejarah

Analogi untuk menggambarkan hubungan ICMI Muda dengan ICMI, seperti niat awal, yaitu: anak dengan orangtua, atau adik dengan kakak. ICMI Muda diniatkan berperan untuk semakin mengilau-suburkan ICMI, yaitu sebagai lembaga kaderisasi, penopang, dinamisator, dan inspirator bagi ICMI.

Dalam konteks lebih luas, ICMI Muda digagas untuk umat. ICMI Muda lahir dari kontraksi rahim empati yang sangat kuat terhadap kondisi kesejarahan dan kekinian umat—termasuk ICMI dengan keutuhan realitasnya dan ICMI sebagai salah satu komponen strategis umat dan bangsa.

Salah satu tanggungjawab generasi baru umat yang diemban ICMI Muda adalah: mencendekiakan umat dan mengumatkan kecendekiaan. Tujuan utamanya adalah mewujudkan kepemimpinan umat di seluruh lini kehidupan, meliputi kepemimpinan umat dalam bidang pendidikan atau disebut kepemimpinan pendidikan umat, begitu pun kepemimpinan IPTEKS umat, kepemimpinan ekonomi umat, kepemimpinan politik umat, kepemimpinan sosial dan budaya umat, dan lainnya.

Berangkat dari kesadaran dan nawaitu untuk umat, bangsa, dan ICMI, seperti itu, ICMI Muda hadir dengan spirit keislaman, keindonesiaan, kecendekiaan, dan kemudaan.

Amanah Pendiri ICMI

ICMI Muda pertama kali dideklarasikan dengan nama Forum ICMI Muda pada tanggal 29 September 2005 di Makassar.

Tanggal 5 Desember 2005, di arena Muktamar Ke-IV ICMI di Hotel Sahid Jaya Makassar, pendiri ICMI Bapak Prof. Dr.-Ing. BJ. Habibie bersama Ketua Umum ICMI ketika itu Bapak Dr. Ir. Muslimin Nasution menerima khusus sejumlah Deklarator Nasional ICMI Muda.

Pada kesempatan tersebut Bapak Habibie mengamanahkan dua hal. Pertama, amanah untuk melaksanakan muktamar pertama ICMI Muda paling lambat setahun setelah pertemuan itu, dan agar muktamar itu dilaksanakan di Makassar—tempat lahirnya gagasan ICMI Muda. Kedua, amanah untuk tidak menanggalkan kata ‘ICMI’, dengan memilih salah satu diantara empat alternatif nama, yaitu: (1) Forum Cendekiawan Muda ICMI, (2) Forum Kader ICMI, (3) Forum ICMI Muda, dan (4) Forum Pemikir, Pembaharu, dan Pejuang ICMI.

Untuk menunaikan amanah tersebut Deklarator Nasional ICMI Muda dimekarkan menjadi Tim Kerja Nasional (TiKNas) ICMI Muda dengan tanggungjawab utama adalah melaksanakan Muktamar Ke-1 ICMI Muda.

Menyusul terbentuknya TiKNas ICMI Muda, deklarasi ICMI Muda berlangsung hampir serempak di seluruh tanah air, baik tingkat provinsi, kabupaten/kota, maupun kampus. Hanya dalam jangka waktu kurang dari tiga bulan, tercatat deklarasi ICMI Muda sudah berlangsung di 23 provinsi, 118 kabupaten/kota, dan 16 perguruan tinggi, ditambah Iran dan Jepang.

Alhamdulillah, amanah dari pendiri dan pemimpin ICMI, Bapak BJ Habibie dan Bapak Muslimin Nasution, tersebut dapat ditunaikan. Tanggal 23 - 25 Juli 2006, bertempat di Hotel Sahid Jaya Makassar, Muktamar Ke-1 ICMI Muda berlangsung sukses dengan dihadiri peserta 700 orang perwakilan dari seluruh provinsi, kabupaten/kota dan kampus yang telah mendeklarasikan ICMI Muda. 

Tiga Prinsip Dasar

Muncul frasa motivasional, “cendekiawan muda tengah mencendawan”. Lewat ICMI Muda, cendekiawan muslim muda Indonesia bagai mencendawan. Mengapa dan bagaimana itu terjadi?

Ada tiga prinsip dasar. Prinsip pertama, bottom-up berazas kesetaraan. Ditambah sinergitas serta kerja dan kinerja cerdas, prinsip bottom-up berazas kesetaraan merupakan roh organisasi modern masadepan. Rekayasa bersifat top-down akan semakin kehilangan auranya. Di alam demokrasi publik, partisipasi saja sudah tidak memadai, inisiatif jadi lebih penting. Terbukti, jauh lebih efektif dengan membuka ruang seluas-luasnya bagi sahabat-sahabat muda di seluruh negeri untuk mengambil inisiatif mandiri mendeklarasikan dan mendirikan ICMI Muda di daerah masing-masing.

Prinsip kedua, prinsip pelangi: pelangi profesi, pelangi akademik, pelangi organisasi, dan pelangi politik. ICMI Muda diinisiasi dan diaktivasi oleh semua komponen muda strategis bangsa dan umat. Dengan prinsip pelangi, ICMI Muda akan terjaga dari kooptasi kepentingan kelompok atau golongan, apalagi pribadi. Sebaliknya, justru akan tercipta dinamika gravitasional, seperti halnya tatasurya bergerak dinamis dan seimbang oleh adanya gaya-gaya gravitasi perekat diantara planet-planet yang bermuatan dan berkarakter saling berbeda. Akan tercipta dynamic equilibrium atau keseimbangan dinamis di, dari dan oleh ICMI Muda.

Prinsip ketiga, kesadaran akan ruang kosong. Di ICMI, misalnya, terdapat ruang kosong pada rentang usia energik-produktif 26 - 45 tahun yang belum teroptimalkan partisipasi apalagi inisiatifnya. Lebih luas lagi, ruang kosong oleh umat. Keterlibatan umat pada berbagai ruang kehidupan umumnya sebatas partisipan, bukan pengambil inisiatif. Yang terjadi, kepemimpinan umat belum terwujud di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini.

Tiga prinsip itu bersemi di atas satu realitas penting, yaitu bahwa terdapat potensi baru maha dahsyat cendekiawan muda muslim di negeri ini yang tengah menunggu persemaian baru untuk mengakarkan kebersamaan, menumbuhkan peran kesejarahan umat, mewujudkan kepemimpinan umat, dan meranggaskan diri pada semesta kemanusiaan.

Menjaga Nawaitu, Komitmen, dan Konsistensi

Tidak semua berjalan mulus, memang. Kehadiran ICMI Muda masih harus menapak di atas hamparan panjang sajadah sejarah, itu sunnatullah. Tetapi mengapa amanah pendiri ICMI terhadap ICMI Muda tersebut tiba-tiba harus tersandung oleh dan dianggap tidak sesuai dengan aturan organisasional ICMI, sampai kini belum jelas masalahnya.

Namun dengan kerendahan hati yang cerdas, niat tulus yang konsisten, dan keteguhan sikap nan santun, ICMI Muda dapat memahami dan menyadari itu sebagai irama alamiah sejarah. Bahwa riak adalah doa-doa cendekia. Rintangan dan tantangan adalah suplai energi strategis. Badai sekalipun adalah nafas samudera, adalah jiwa sejarah.

Muktamar Ke-1 ICMI Muda adalah muktamar dengan keprihatinan mendalam: tanpa sponsor, juga tanpa rekomendasi. Muktamar itu menjadi mungkin terselenggara semata-mata karena ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Meski demikian, muktamar tersebut diyakini sebagai muktamar untuk memenuhi permohonan sejarah.

Yang juga diyakini hingga kini, bahwa ICMI Muda bukan hanya memiliki akar kesadaran yang memancang kuat di rahim kesejarahan ICMI. Tetapi juga dan terutama, ICMI Muda seharusnya diapresiasi sebagai solusi strategis bagi masadepan ICMI.

Karena itulah, maka dalam proses persiapan Muktamar Ke-1 ICMI Muda, Tim Kerja Nasional ICMI Muda melakukan serangkaian sowan silaturahim kepada tokoh-tokoh umat termasuk Presidium ICMI. Tanggal 13 Mei 2006, Ibu Dr. Marwah Daud Ibrahim berkenan menghadiri Tudang Sipulung Pra-Muktamar Ke-1 ICMI Muda di Makassar, dan memberi pernyataan motivasional, “Kalian dengan ICMI atau tanpa ICMI, saya tetap bersama kalian.” Tanggal 22 Juni 2006 di Jakarta, Bapak Ir. M. Hatta Rajasa berkenan menerima kami dan menyatakan dapat memahami dan menyambut positif gagasan pembentukan ICMI Muda. Melalui mailing list tertanggal 6 Juli 2006, Bapak Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie mengharapkan kehadiran ICMI Muda tidak hanya dipandang secara formal legalistik, tetapi juga secara substantif. Tanggal 11 Juli 2006 di The Habibie Centre Jakarta, Bapak Dr. Ahmad Watik Pratiknya, Direktur Eksekutif The Habibie Centre, berkenan menerima kami dan merespon ICMI Muda sebagai lembaga kaderisasi ICMI. Demikian pula dukungan positif Bapak Ir. Shalahuddin Wahid yang berkenan menerima kami di kediamannya, dan menyatakan bahwa sejak tahun 2001 sudah berlangsung diskusi diantara beberapa tokoh ICMI tentang perlunya lembaga kaderisasi bagi ICMI. Tanggal 14 Juli 2006 di Bandung, Bapak Prof. Dr. Nanat Fatah Nasir berkenan menerima kami dan berdialog dalam suasana kekeluargaan yang kental.

Bahwa kemudian Muktamar Ke-1 ICMI Muda berlangsung tanpa rekomendasi dari Ketua Presidium ICMI, itu kami apresiasi dalam dua pendekatan positif. Pertama, sejarah tidak mungkin dihentikan oleh ketiadaan rekomendasi. Sejarah bergulir lebih sering tanpa rekomendasi. Kedua, dalam mendidik anak-anaknya, seringkali orangtua secara arif dan bijaksana mengembangkan berbagai variasi cara. ICMI membutuhkan lahirnya kader-kader cendekia pelanjut yang tangguh, tidak bersimpuh cengeng dan mandul di pesisir peradaban. Mungkin, dan semoga, ICMI melihat peluang itu ada pada ICMI Muda. Maka ICMI Muda diperlakukan dengan cara-cara sangat khusus: berjibaku dengan kemandirian.

Alhamdulillah, Muktamar Ke-1 ICMI Muda telah melahirkan berbagai kebijakan, keputusan, dan ketatapan strategis organisasi. Antara lain, (1) bahwa ICMI Muda bukan pecahan dari ICMI dan tidak untuk memecah ICMI, (2) bahwa ICMI Muda berorientasi sebagai organisasi gerakan, meliputi gerakan dakwah sosial, gerakan pemikiran dan kebudayaan, gerakan kaderisasi, dan gerakan pemberdayaan masyarakat, (3) menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ICMI Muda, (4) menetapkan struktur organisasi dan kelembagaan ICMI Muda, (5) menetapkan Garis-Garis Besar Kebijakan dan Program Kerja ICMI Muda, (6) menetapkan Presidium ICMI Muda periode 2006-2011, (7) menetapkan Sumatera Utara sebagai tempat pelaksanaan Rapat Kerja Nasional Ke-1 ICMI Muda, dan (8) menetapkan DKI Jakarta sebagai tempat pelaksanaan Muktamar Ke-2 ICMI Muda.

Presidium

Majelis Pimpinan ICMI Muda Pusat

 

AM Iqbal Parewangi, S.Si.

Ketua Presidium

 

Drs. Ahyar Anwar, SS., M.Si

Presidium representasi TiKNas

Drs. Indra Syahrin, M.Si.

Presidium representasi Regional Sumatera

Ahmad Zakiyuddin, S.IP

Presidium representasi Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara

                                           Drs. HM. Taufik Fachrudin, MM

Presidium representasi Regional Sulawesi

                                                   Syafruddin, SH., M.Hum

Presidium representasi Regional Kalimantan

Arqam Azikin, S.Sos., M.Si.

Presidium representasi Regional Maluku & Papua

Sekretariat  Jendral

Sekretariat  Nasional

 

Sekretariat  Regional Sumatra

 

Sekretariat  Regional Jawa, Bali,

 Nusa Tenggara

 Sekretariat  Regional Kalimantan

 

Sekretariat  Regional Sulawesi

 

 Sekretariat  Regional Maluku & Papua

Jl. Cilandak KKO-Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Jl. Dr. Ratulangi No. 140 Makassar, Sulawesi Selatan

Tlp.0411-872789, Fax.0411-872789

Jl Jend. Ahmad Yani No.16 Lt.3, Medan, Sumatera Utara,

Tlp.061-77148000

Jl. Ir. H. Djuanda No. 282 B, Dago, Bandung,

Tlp. 022-2505142

Jl. Pulau Lumpuran Kampus Akper Kaltara, Kota Tarakan,

Kalimantan Timur

Jl. Kapasa Raya, Kawasan Industri Makassar, PT. Maruki

Int.ernasional Indonesia, Tlp.0411-512255, Fax. 0411-512266.

BTN Manusela Blok D No.23, Ambon, Tlp 0911-342799

 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >