" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Organisasi arrow Tentang ICMI Muda arrow Penyusunan ADRT
Penyusunan ADRT Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 28 Juni 2007

MUKADIMAH

ANGGARAN DASAR ICMI Muda

 

Sesungguhnya hikmah, amanah selaku khalifatan fil-ardh, dan tanggungjawab untuk mengemban peran pembaharuan berkesinambungan, adalah nikmat Allah subhanahu wataala yang tertinggi dan termulia yang dikaruniakan kepada hamba-Nya yang beriman, bertaqwa, berilmu, dan beramal. Oleh karena itu, penerima nikmat wajib bersyukur dengan memanfaatkan dan menunaikannya sebagai wujud pengabdian kepada Allah subhanahu wataala melalui perjuangan membangun umat, masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.

Dikaruniai nikmat hikmah yang berlimpah, cendekiawan muslim muda dalam kedudukannya sebagai abdi Allah subhanahu wataala selaku warga negara Republik Indonesia yang sadar akan besarnya tantangan perubahan paradigmatis internal dan eksternal yang sedang dan akan dihadapi oleh bangsa, berusaha mengembangkan peluang dan merumuskan pemikiran  dan konsep strategis, sekaligus mengupayakan pemecahan konkret permasalahan strategi lokal, regional, nasional dan global.

Perwujudan berhikmah berupa pengembangan peluang, rumusan pemikiran dan konsep strategis, serta upaya pemecahan permasalahan strategis, selanjutnya perlu dibumikan dalam serangkaian amalan nyata yang didasari niat pengabdian kepada Allah subhanahu wataala. Cendekiawan muslim muda selaku khalifatan fil-ardh dan sebagai generasi penerus, pengganti, pelopor, dan pembaharu yang mengemban tanggung jawab secara berkesinambungan, secara cerdas dan kritis, energik dan produktif, progresif dan penuh percaya diri, serta istiqamah dan kaffah, sekaligus rendah hati dan lemah-lembut, harus berkinerja dan bersinergi untuk membumikan nikmat hikmah tersebut melalui perjuangan membangun umat, masyarakat, bangsa, negara, dan dunia, sekaligus mewujudkan kepemimpinan umat yang shiddiq, tabliq, fathanah, dan amanah.

Berdasarkan keyakinan dan kesadaran tersebut serta dengan memohon taufiq dan hidayah Allah subhanahu wataala, maka para cendekiawan muslim muda Indonesia bersepakat untuk bersatu dalam suatu wadah pergerakan dengan membentuk Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Muda (ICMI Muda.

Perspektif Al-Qur’an dan Hadits Sebagai Dasar Menyusun

Muqaddimah Anggaran Dasar ICMI Muda


Pemuda dalam Al-Qur’an dan Hadits

Al-Qur’anul Karim telah menampilkan sosok pemuda yang menjadi bintang dan pertanda zamannya. Secara ekplisit tampak dalam surah Al-Anbiya : 60, Surah Al-Kahfi : 10-13, atau Surah Yusuf : 30, dengan kata-kata yang berakar pada “fatiya” (muda). Selain yang tersurat, terdapat pula ayat-ayat yang menyiratkan sosok pemuda seperti surah As-shaf : 14 yang menampilkan Nabi Isa yang berusia muda dll.

Surah Al-Anbiya : 60

  

 

“Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”

Surah Al-Kahfi :

Ayat 10. “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."

 Ayat : 13. “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”

Surah Yusuf : 30

“Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz(raja Mesir) menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."

Surah As-Shaf : 14

 
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.”

Dalam Al-Qur’an peran pemuda disebutkan sebagai generasi penerus (AthThur : 21), yaitu meneruskan  nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu kaum. Disebut juga sebagai generasi pengganti (Al-Maidah : 54), yaitu menggantikan kaum yang memang sudah rusak dengan karakter mencintai dan dicintai Allah, lemah lembut kepada kaum mu’min, tegas pada kaum kafir dan tidak takut celaan orang yang mencela. Sebagai generasi pembaharu (Maryam : 42) yakni memperbaiki dan memperbaharui kerusakan yang ada pada suatu ummat/bangsa.

Surah Ath-Thur : 21

 

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Surah Al-Maidah : 54

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”

Surah Maryam : 42

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

Al-Qur’anul Karim juga telah menggambarkan sejumlah karakter yang ada dalam diri pemuda seperti sikap kritis yang ditunjukkan pemuda Ibrahim saat bertanya pada kaumnya :”Apakah berhala-hala itu mendengar do’amu sewaktu kami berdo’a kepadanya?” Pertanyaan ktiris berangkai dengan pernyataan berani seperti terungkap dalam surah Al-Anbiya : 54

  

“Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata".

Karakter kedua tampak dalam kepeloporan yang ditunjukkan oleh pemuda Ibrahim ketika menjadi orang pertama mengahncurkan berhala dengan kapak. Berhala adalah simbol kebatilan dan kapak adalah simbol alat atau cara dala menghancurkan kebatilan. Kepeloporan diperlihatkan juga Ibrahim dan Ismail muda ketika membangun Ka’bah. 

Karakter pemuda dalam Al-Qur’an selanjutnya adalah sikap tegar yang tersurat dalam surah Al-Kahfi : 14 dengan tampilnya beberapa pemuda yang dengan tegar menyatakan aqidahnya yang berasaskan tauhid dihadapan seorang raja yang zalim, Dikyanus.

  

“Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran".

Ketegaran ditunjukkan juga Nabi Isa As. Ketika berhadapan dengan Fir’aun melalui argumentasi yang kuat, menghembaskan kesombongan Fir’aun, sang Tiran.

Karakter pemuda lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah sikap rendah hati seperti ditunjukkan pemuda Yusuf ketika terhindar dari maksiat, mengatakan bukanlah karena dirinya perkasa melainkan karena rahmat dari Allah, SWT (QS. Yusuf : 53).


Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang

Demikian halnya pemuda Zulkarnain, penakluk dunia Barat dan Timur pelindung agresi yang didirikannya untuk melindungi kaum lemah dinyatakan sebagai rahmat dari Tuhan-Nya (QS. Al-Kahfi : 98).

 

Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar".

 Karakter orang muda lainnya dalam Al-Qur’an ditunjukkan oleh sikap lemah lembut Ibrahim muda, yang tidak berhasil meyakinkan ayahnya  mengenai tauhid dan kebatilan, kendatipun diusir oleh ayahnya, tetap memperlihatkan sikap hormat, sayang dan penuh kelembutan pada orang tuanya. Demikian juga sikap pemaaf yang ditunjukkan pemuda Yusuf yang memperlihatkan  suatu sikap akhlaq mulia dengan memaafkan kesalahan yang pernah diperbuat saudara-saudaranya dimasa lampau karena beroleh hikmah dari Allah, SWT.

Sabda Rasulullah SAW tentang Pemuda :

Tujuh golongan yang mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang giat beribadah kepada Allah......”.(Al-Hadits)

“Diberitahukan kepada ahli surga : “Sesunguhnya kamu akan muda selalu, kamu tidak akan menjadi tua selama-lamanya.”

Berkata Ibnu Abbas r.a, “ Tak ada seorang nabipun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni 30-40 tahun). Begitu pula tidak seorang ‘alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia dari kalangan pemuda.  Kemudian Ibnu Abbas membaca firman Allah SWT, QS. Al-Anbiya : 60, lihat Tafsir Ibnu Katsir III/183.

Pengikut Rasulullah SAW yang merupakan generasi pertama kebanyakan dari kalangan pemuda bahkan sebagian masih anak-anak. Mereka mendapatkan transfer pemikiran (tsaqofah) Islam dari Rasulullah saw diantaranya Ali bin Abi Thalib dan Zubaer bin Awwam (8 tahun), Thalhah (11 tahun), Al-Arqam (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud (14 tahun), Saad bin Abi Waqqas (17), Ja’far bin Abi Thalib (18), Zaid bin Haritsah (20), Ustman (20), Mushab bin Umair (24), Umar bin Khattab (27), Bilal bin Rabah (30), Abu Bakar Ash-Shiddiq (37) dan masih banyak lagi. Dari sini terbentuk cikal bakal (embrio) generasi terbaik yang berhasil membongkar struktur paganis dan stagnasi pemikiran, kebodohan (adat jahili) yang telah mengakar  di Jazirah Arab. Selanjutnya risalah Islam dengan pemikirannya (Islamic though) dan metode penerapannya (Islamic method) berhasil menjadikan Jazirah Arab yang terlupakan, menjadikan pusat peradaban dunia dan berhasil menempatkan ummat Islam, di posisi puncak peradaban selama berabad-abad lamanya.

Ibnu Mas’ud berkata,” Kami bersama Nabi saw, sedangkan kami masih muda-muda.”  Anas bin Malik juga berkata,”Tujuh puluh orang pemuda sahabat Anshar dikenal sebagai ahli baca Al-Qur’an, mereka berada di masjid. Ketika sampai waktu sore, datanglah rombongan pemuda dari Madinah. Mereka belajar dan sholat, menghitung-hitung keluarga mereka yang berada di masjid itu, dan menghitung-hitung orang-orang yang berada di masjid itu yang termasuk keluarga mereka. Ketika waktu shubuh, mereka diguyur air dan diperingatkan dengan tongkat kayu, maka mereka mengadukan hal itu ke balik Nabi saw. Mereka membeli makanan dari ahli shufah (orang yang suka bermusuhan).

Rasululllah saw bersabda,”Sesungguhnya dajjal itu memanggil-manggil orang yang suka memuaskan nafsunya dengan kesukaan orang-rang muda, maka ia membunuh dengan pedangnya dan mematahkan dengan ketangkasannya. Ia lemparkan panahnya pada orang yang mengharapkannya, kemudian ia mengajaknya, maka ajakan itu diterima dengan muka berseri-seri karena hatinya tertawa...” (Al-Hadits)

Malik bin Al-Khuwairits r.a. berkata,”Kami datang kepada Rasulullah saw, sedang kami masih muda dan berdekatan umurnya. Maka kami menetap di rumah beliau selama 20 hari (siang dan malam). Sedang Rasulullah bersifat pengasih lagi penyayang. Ketika beliau menyangka aku terputus dengan keluarga kami, beliau bertanya kepada kami tentang siapa yang kami tinggalkan. Kami memberitahukannya; lalu beliau bersabda “Kembalilah kamu sekalian kepada keluargamu, tetaplah bersama mereka, ajari mereka dan suruhlah mereka serta katakan sesuatu, yakni “Sholatlah kamu sebagaimana aku melaksanakan sholat, maak apabila telah sampai waktu sholat, beradzanlah salah seorang dari kamu untuk kamu dan untuk oarng-orang yang lebih tua dari kamu!”

( Dari Kitab : Waqafat Ma’asy Syabab, karya Ibrahim Al-Mahmud)

Pribadi Ulul Albab :

Posisi penting dan terhormat menurut Al-Qur’an hanya layak bagi seorang yang berilmu dan berhikmah, sebagaimana dalam firman-Nya :

“Dan tatkala dia cukup dewasa[749] Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” QS. Yusuf : 22.

[749]. Nabi Yusuf mencapai umur antara 30 - 40 tahun.

Antara ilmu dan hikmah ibarat dua sisi mata uang yang terpisahkan. Ilmu, baik yang murni (pure science) maupun terapan (appplied science) diperlukan oleh bangsa/ummat yang akan dan sedang membangun. Namun, faktor penting yang sangat menentukan adalah ada tidaknya hikmah di tengah bangsa itu, terutama dikalangan pengendali dan pelaku pembangunan bangsa itu. Orang yang memiliki ilmu dan hikmah inilah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai cendekiawan atau pribadi Ulul Albab.

Istilah ulul albab disebut dalam berbagai ayat dalam, Al-Qur’an. Dalam Mu’jam Mufahras li Alfadz Al-Qur’an disebutkan bahwa kata “ulul albab” berulang sebanyak 16 kali dalam sepuluh Surah dalam konteks yang berbeda-beda. Kata ulul albab diterjemahkan dengan “orang yang berakal”, artinya orang yang mampu mengambil kesimpulan, pelajaran dan peringatan dari ayat-ayat qauliyah yang terdapat dalam Al-Quran maupun ayat-ayat kauniyah yang terdapat di jaqad raya. Ulul albab adalah orang yang memiliki sikap keilmuan dengan melakukan secara teratur upaya-upaya pengamatan, penelitian, pengakajian dan penafsiran terhadap gejala-gejala alam.

 

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” QS. Al-Baqarah : 269.

Dalam ayat di atas dipahami bahwa yang dimaksud ulul albab adalah seorang dngan kualitas tertentu. Kata “albab” merupakan jamak dari kata al-ulb, yang berarti otak, pikiran, intelek. Baik karena kecerdasan maupun intensitasnya. Dengan kata lain adalah seorang pemikir, cendekiawan, cerdik atau seorang filosof yang berfikir mendalam. Pemahaman seperti ini dapat dilihat dalam surah Ali Imran ayat 7, dimana Allah SWT. Menggandengkan ayat (orang-orang yang mendalam ilmunya) dengan   (orang-orang yang berakal).

 Al-Qur'an menyebut beberapa ayat pengamatan ulul albab berupa gejala alam. Demikian juga halnya pada ayat-ayat yang mengandung perintah untuk melakukan pengkajian (tadabbur), penalaran (ta’qilun), Pengamatan empiris (tubsirun), Pemahaman (tafaqqahun), pemikiran (tafakkarun).

Dari kajian itu akan muncul kesadaran yang dalam akan kebesaran Allah, SWT sebagai pencipta segala sesuatu (keseimbangan fikir dan zikir). Segala yang dilakukan oleh manusia hanyalah merupakan upaya untuk menemukan hukum-hukum Allah SWT (sunnatullah), dan memahami secara sadar bahwasanya kebahagian dunia-akhirat hanya tercapai jika manusia berjalan sesuai apa yang disyari’atkan oleh Allah SWT.

Upaya memahami ayat-ayat Allah tersebut tentu saja membutuhkan kesungguhan dan ketelitian sambil mengharapkan karunia dan kemudahan dari Allah SWT. Disinilah dibutuhkan semangat al-hikmah, yang salah satu maknanya berarti kearifan untuk meneliti dan membuktikan itu semua. Tujuan diutusnya seorang Rasul kepada ummat manusia antara lain mengajarkan kepada mereka kitab suci dan hikmah agar manusia senantiasa memperoleh pancaran cahaya Ilahi. Cakupan hikmah sendiri sedemikian luas, maka hikmah bisa diterangkan  dalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya  wisdom, kebijaksanaan atau kearifan (Hans Wehr, A. Dictionary of Written Arabic). Hikmah juga berarti ilmu pengetahuan, filsafat, kebenaran, juga merupakan “rahasia”  Tuhan yang tersembunyi  yang hanya bisa diambil manfaat dan pelajaran pada masa dan waktu yang lain.

Al-Qur’an memberikan petunjuk mengenai sikap keteladanan orang tua dalam menyiapkan generasi atau mendidik anak-anaknya melalui penggambaran Luqman, yag didahului pujian karena memperoleh hikmah, yang berarti menerima kebajikan yang besar.

 

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman : 12)

Seorang ulul albab memiliki al-hikmah dalam arti kearifan dalam menatap, menafsir dan mengkaji persoalan-persoalan dalam kehidupannya, baik yang bersifat individual, sosial kemasyarakatan, ummat dan manusia pada umumnya. Tumbuh rasa dan kepedulian sosial yang termanifestasikan dalam sikap, perbuatan dan tindakannya. Disinilah pentingnya kepedulian dan peran cendekiawan muda untuk pandai-pandai membaca realitas sosial sehari-hari, menangkap dan memahaminya secara cerdas dan bertanggung jawab, mencari solusi atas berbagai problematika ummat dengan menjadikan Islam sebagai poros rujukan. Dengan demikian, Ulul Albab adalah implementasi “Khaerah Ummah” yang dilahirkan di tengah-tengah manusia yang mempersyaratkan tegaknya amar ma’ruf nahi munkar. Kiranya sosok pemuda yang diimpikan Al-Qur’an yang berilmu dan berhikmah menjadi sumber insprasi cendekiawan muslim muda sebagai  sumber inspirasi untuk hari ini dan esok, sehingga dapat memberikan kontribusi yang terbaik untuk ummat, bangsa dan negara

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” QS. Ali Imran : 110

Manusia Sebagai Khalifatul Fil Ardhi :

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah : 29-30). 

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya” QS. Hud:61.

           Allah SWT memberitakan karunia-Nya yang besar kepada anak adam, menyebut keadaan mereka sebelum diciptakan dihadapan malaikat. Khalifah berarti kaum yang silih bergantian menghuni dan kekuasaaanya, pembangunannya. Dari kata “Khalf” yakni belakang, kemudian maknanya berkembang menjadi wakil, asisten dan pemimpin. Allah SWT menjelaskan bahwa bumi dan semua isinya diciptakan  untuk manusia. Karena Allah tidak menjelmakan diri-Nya dibumi, maka ditunjuklah seorang makhluk, sebagai asisten atau wakil Tuhan di muka bumi, sebagai pengelola yang bertanggung jawab.

          Ibnu Jarir berkata,” tafsir ayat ini, Aku akan menjadikan khalifah di bumi menggantikan Aku dalam menjalankan hukum dengan adil diantara makhluk-Ku, yakni menghukum dengan tuntunan-Ku, yaitu Adam dan siapa saja yang mengikuti jejaknya dalam melaksanakan benar-benar tuntutan wahyu dari Allah, SWT. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid I, hal. 81).

          Alqur’an mengisyaratkan, bahwa Allah tidak menjadikan alam semesta dan manusia sebagai permainan atau sesuatu yang percuma. (QS. Al-Mu’minun : 115), sesuatu yang sia-sia (Ali Imran : 191), Shaad : 27, Al-Qiyamah : 36, tetapi justru ada maksud dan misi yang diemban. Suatu misi dan tujuan hidup yang serius sehingga oleh Allah diberi karunia akal, wahyu dan penyediaan seluruh sarana alam untuk melaksanakan amanah. Amanah Allah yang merupakan kewajiban azasi bagi manusia berupa amanah Khalifah, membina kemakmuran, peradaban dan kebudayaan dengan melaksanakan aturan-aturan dan petunjuk Allah SWT; Dan amanah ibadah, agar seluruh manusia beribadah, tunduk dan berbakti kepada Allah SWT (Adz-Dzariat : 56).

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >