" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow Sebait Metamorfosa Untuk Guru
Sebait Metamorfosa Untuk Guru Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 22 Maret 2007

Oleh : AM Iqbal Parewangi

(Pemerhati & Praktisi Manajemen Pendidikan)

“Sebagian semangatku ada dalam doamu.” Penggalan tembang Ayah Aku Mohon Maaf itu disenandungkan Ebiet G. Ade dengan lirih dan penuh rintih. Kemarin pagi, saat mencermati ulang warta tentang satu-dua oknum guru yang disinyalir men-smackdown muridnya, sambil ditemani tembang-tembang lawas Ebiet, penggalan itu bermetamorfose dalam imajinasi saya: guru, sebagian semangat generasi ada dalam doamu.

Entah apakah Ebiet seorang anak guru. Tetapi, banyak diantara kita adalah anak guru—dalam makna paling sederhana sekaligus mewah, pencerdas generasi. Ketika spektrum pemaknaan diperluas, sesungguhnya kita semua adalah anak guru—dalam makna sedikit jumawa, meliputi pemeranan guru kehidupan.

Karena itulah, mungkin, kita tidak pernah benar-benar mampu geram terhadap guru. Selalu ada-ada saja “interupsi pendidikan” yang mencoba mengintrusi kesalehan peran guru, memang, seperti smackdown itu. Tetapi peran guru sendiri sedemikian salehnya, dan masih tak tergantikan, ditambah kesalehan peran itu pun sudah penuh dibaluri interupsi keperihan hidup, maka siapa kuasa geram. Di ujung-ujung setiap interupsi pendidikan itu, justru yang muncul adalah empati suram.

Oleh tabiatnya untuk menyemai dan menumbuhkan kecerdasan dan kesadaran, hingga mungkin berbuah kecendekiaan dan keikhlasan, guru adalah peletak pondasi sekaligus pelaku utama risalah kesejarahan. Di dalam risalah itu ada cinta, citra, inspirasi dan motivasi, ada etika dan persahabatan, juga peradaban, dan seluruh artefak-artefak suci yang memungkinkan manusia menegaskan kemanusiaannya. Tanpa guru, kita semua hanyalah pithecantropus erectus yang berseliweran tak tentu.

Dalam makna guru kehidupan seperti itu kita menemukan sosok guru dalam diri seorang nabi, dalam diri seorang ibu yang kinasih, dan dalam diri guru itu sendiri. Juga dalam diri seorang Ebiet, penyair yang bernyanyi itu, yang berceloteh lincah dan indah, sesekali suram dan geram, tentang banyak hal. Termasuk tentang ayahnya. Dan ayah yang dicelotehinya itu juga seorang guru.

Guru digugu dan ditiru. Masalahnya, guru yang terus dituntut mempersembahkan “pengorbanan yang tak sia-sia untuk negeri yang dicintai”, mengutip Ebiet dalam Seraut Wajah, ceritanya jadi lain di negeri ini. Jadi empati suram. Guru masih dijamu kemewahan yang menganga hampa, “pahlawan tanpa tanda jasa” itu. Juga, guru dengan mudah ditimpuk warta kelam semacam smackdown. Saat bersamaan, guru dibiarkan terpagut oleh gigih, letih, dan sepinya sendiri. Gigih yang terlatih, letih tersisih, dan sepi yang mengoase lirih.
Iklan Guru

Sebuah tayangan iklan di tv menggambarkan bagaimana seorang guru mengemban risalahnya dengan gigih. Guru itu seorang perempuan muda, rambut keriting, kulit sedikit legam. Ia duduk di atas batang besar yang melintang di atas sungai, jauh di sudut pedalaman sana. Dengan sesungging senyum empati yang lamat-lamat, seperti timbul tenggelam enggan, ia saksikan ulah murid-muridnya. Ada episode dimana bocah-bocah pedalaman itu membolak-balik halaman buku yang terbatas, episode lain menunjukkan keriangan mereka berloncatan dan berkecipak di air sungai yang jernih.

Tak sepatah pun sesal atau kesal terucap dari bibir perempuan muda itu. Tapi sorot matanya dalam, sorot mata guru. Ada episode tak tertangkap kamera di situ. Ketika ia seperti menerawang pada sebuah celah sempit yang terpaksa harus hadir diantara kegigihannya yang tulus dan ketulusannya yang tergadai. Celah itu bergetar lembut jauh di dasar palung hatinya. Toh, yang tampak, ia memang gigih dan tulus.

Boleh jadi ada yang ingin berucap kepada perempuan muda itu, seperti halnya sebagian kita hendak berucap kepada setiap guru, dengan memetamorfosa tembang Ebiet yang lain, Titip Rindu Buat Ayah. “Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu... namun kau tetap tabah. Meski nafasmu kadang tersengal memilkul beban yang makin sarat, kau tetap bertahan.”

Tak puas, karena di situ belum termaktub pergulatan pengalaman dan kesetiaan perempuan muda itu, dan para guru, kita lantas mengeja bait selanjutnya. “Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini. Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan... namun semangat tak pernah pudar. Meski langkahmu kadang gemetar, kau tetap setia”

Toh, dengan kegigihan yang terlatih untuk tetap tabah, dengan ketulusan yang tersulam angkuh dan kukuh oleh semangat yang tak pernah pudar, dengan seluruh empati ikhlas guru dalam mengemban risalahnya sebagai pencerdas generasi yang menuntutnya tetap bertahan dan tetap setia, pertanyaannya ternyata masih itu-itu juga: siapa peduli?

Letih Tersisih

Narasi dan visualisasi iklan selalu jauh lebih indah dan lebih sumringah dibanding kenyataan yang dicoba digambarkannya. Kenyataannya, “gaji Guru Besar di Indonesia lebih kecil dari gaji buruh kasar di Malaysia.” Metafrase ironik ini bukan narasi iklan. Itu terpulung dari akumulasi kepedulian beberapa ribu pelajar terhadap nasib guru mereka. Januari 2006 lalu, sebagai rangkaian hajatan 16 tahun kiprah pendidikan GAMA College Indonesia yang bertema “Guruku, Matahari Masa Depanku!”, mereka acungkan ironi pendidikan yang mengenaskan itu lewat lembar-lembar poster hitam-putih di gedung DPRD Sulawesi Selatan.

Mungkin remaja putih-abuabu itu peduli, atau belajar peduli. Tetapi dalam letih tersisih, yang mendera diam-diam risalah dan gairah banyak guru, sedikit kepedulian seperti itu bisa jadi penyejuk. Betapa pun, guru belum bisa berharap banyak pada beragam kebijakan publik di negeri ini.

Ketika harga BBM bergerak naik, disusul lonjakan otomatis harga-harga sembako, guru terjepit telak dan menjerit. Tanpa kenaikan harga pun gaji guru sudah di bawah pas-pasan, meski sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka tidak heran, sebagian kemudian jadi tukang ojek sampai larut malam. Sebagian kembali menekuni sawah-ladang sepetak yang juga tak cukup luas. Saya sempat menemukan beberapa bakso gerobak malam di Palu, mie ayam dorong di Jakarta, dan setidaknya tiga kios tepi malam di Makassar, penjualnya adalah guru yang terpaksa harus nyambi akibat di-smackdown oleh kehidupan.

Bukan rahasia lagi bahwa sebagian guru terjebak dalam jejaring bisnis penerbit. Jadi sales yang murah dan efektif bagi bisnis buku pelajaran yang tetap saja hegemonik dan sentralistik. Insentif mereka sekitar 35 persen dari harga buku, dan penerbit tentu sudah kalkulasi itu semua secara cermat bisnis.

Ketika sekolah tertentu di Bogor harus diliburkan secara aneh beberapa waktu lalu, hanya karena kunjungan George W. Bush, guru tak dimintai pendapatnya.

Tetapi, ketika para pengamat menyosorot tajam rendahnya kualitas pendidikan, ketika bisnis buku pelajaran digugat oleh masyarakat, ketika intrusi budaya dari Barat semisal smackdown itu menggerogoti karakter generasi, yang ditampakkan hanya pucuk gunung esnya. Yaitu, guru. Bukan kebijakan publik, para pialang dan petualang politik global, atau penerbit yang lebih dulu ditelisik. Melainkan guru. Guru dituding tak bergairah. Dipersepsi sebagai pedagang bermantel pendidik. Dinilai tak mewibawakan budaya bangsa. Idealisme pendidikan guru digugat. Profesionalisme guru dihujat. Yang sungguh tak adil, hampir tidak ada yang menggugat mengapa sampai guru harus meng-ojek dan berladang, mengapa guru harus nyambi di sana-sini, mengapa guru terpaksa harus menceburkan diri dalam jejaring bisnis buku berimbalan 35 persenan itu.

Dan, ada satu fakta yang tak terangkat hingga kini. Yaitu, guru adalah salah satu diantara empat kelompok masyarakat negeri ini yang paling kesulitan melanjutkan pendidikan anak-anaknya sendiri ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih layak. Ironis sekali. Mereka mendidik anak orang, mencerdaskan generasi, tetapi anak sendiri terlantar pendidikannya. Tiga kelompok senasib lainnya adalah petani, nelayan, dan buruh.

Oase Lirih

Sudah lama guru diterlantarkan dalam sepi yang mengoase lirih. Kemewahan sepi seperti dalam jargon “pahlawan tanpa tanda jasa”, sekarang hanya cocok untuk bocah yang gandrung cerita robotika. Tak lagi untuk guru. Guru juga manusia, bukan dewa, apalagi hamba sahaya. Guru juga butuh baju baru dan kado istimewa. Butuh aktualisasi bermartabat. Butuh ensiklopedi dan internet. Butuh kemerdekaan kreatif. Butuh mencium hajar aswad. Butuh memboyong piala, selain pahala. Juga, butuh hati yang dirona motivasi dan prestasi.

Ebiet, dalam Cita-cita Kecil Si Anak Desa, mengaku “pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil,” sambil berharap “siapa tahu nanti aku kan terpilih jadi kepala desa.” Ia akui cita-citanya itu sederhana, tetapi “aku merasa bangga setidak-tidaknya aku punya cita-cita.” Pengakuan Ebiet itu terasa lentik, menjentik sisi paling mewah dari sebentuk kesederhanaan.

Dalam Ayah Aku Mohon Maaf, Ebiet membuat pengakuan lain. “Aku bangga jadi anakmu... Warisan yang kau tinggal, petuah sederhana, aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan.” Dengan lirih ia akui bahwa “Sesungguhnya aku merasa belum cukup berbakti.” Maka Ebiet pun bersimpuh luruh, “Ayah, aku mohon maaf atas keluputanku.” Pengakuan ini terasa bening, mampu melengkingkan dawai kemanusiaan seorang anak manusia.

Kemarin pagi, dalam henyakan warta smackdown, bauran dua pengakuan Ebiet itu justru bermetamorfosa dalam imajinasi saya menjadi serentet tanya berempati suram. Apakah kita pernah punya cita-cita untuk guru, yang telah mewariskan banyak petuah dan melimpahi kita rasa bangga? Jika ada, apa? Dan, apakah kita cukup bangga dengan itu, sesederhana apapun cita-cita itu? Tersadarikah bahwa sesungguhnya bangsa ini belum cukup berbakti pada guru? Tidakkah bangsa ini harus mengajukan permohonan maaf atas keluputannya terhadap guru? Tidakkah semua upaya perbaikan bangsa ini ke depan harus kembali dimulai dari belajar mengeja permohonan maaf atas keluputan itu?

Guru adalah ayah kandung generasi, sekaligus ibu kandung peradaban. Bangsa ini tentu tak boleh di-smackdown menjadi yatim-piatu. Maka bangsa ini harus menebus seluruh keluputannya terhadap guru.

 (Makassar, 2 Desember 2006)
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >