" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow Pendidikan dan Ekonomi Tantangan Utama ICMI Muda
Pendidikan dan Ekonomi Tantangan Utama ICMI Muda Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 22 Maret 2007

Oleh : Sukardinur Sitompul

Pendahuluan

Pemuda adalah pemegang mandat maju mundurnya umat di masa mendatang. Ini tidak dapat dibantah. Untuk menghadapi tantangan di era digital dan kontemporer saat ini, berbagai komponen pemuda Islam harus cepat membuat gerakan dan langkah preventif serta antisipatif.

Tantangan sekarang ini bukan berbentuk fisik lagi, melainkan berbentuk perang lain seperti perang pemikiran (ghazwul fikri), peradaban, budaya dan ekonomi. Secara langsung perang-perang tersebut tidak terasa dampaknya. Tapi jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, umat akan merasakan dampaknya dan semakin termaginalkan di negeri sendiri.

Peringatan ini secara nyata telah dituliskan dalam Al Qur’an pada Surat Al Baqarah ayat 120. Berbagai upaya akan dilakukan pihak-pihak yang tidak menginginkan Islam sebagai way of life umat. Disinilah dituntut peran pemuda-pemuda Islam terutama bagi mereka yang memiliki kelebihan pengetahuan di bidang masing-masing.

Masalah kepemudaan, keagamaan, kebangsaan dan keintelektualan mutlak harus menjadi perhatian generasi penerus ini. Karena itu kiprah dan kepedulian pemuda di sector tersebut mutlak dilakukan sejak dini. Kalau terabaikan maka generasi yang memegang estafet eksistensi di masa mendatang terancam.

Tantangan

Tantangan umat di masa mendatang sangat jauh berbeda dengan di masa lalu dan sekarang ini. Perang terbuka (open war) mungkin tidak akan ditemukan antara umat Islam dengan kelompok yang membencinya. Tapi tidak terjadinya perang terbuka tersebut bukan berarti kita merasa aman dan terlena. Bahaya lebih besar telah menanti di hadapan kita semua, terutama para generasi penerus atau pemuda sekarang.

Perang tersembunyi melalui propaganda serta pemahaman lebih berbahaya dibandingkan dengan peperangan terbuka. Dengan system perang pemikiran (ghazwul fikri), kita tidak dapat mengetahui siapa sebenarnya lawan yang dihadapi.

Kemajuan tehnologi sehingga membuat dunia bagai tak berbatas semakin membuat arena ‘perang’ sudah berada di sisi kita. Sayangnya, sebahagian besar dari umat Islam tidak menyadari hal itu. Mereka terlena dengan berbagai program serta slogan-slogan yang dimunculkan para phobia Islam. 

Pihak yang tidak menginginkan Islam maju tersebut sangat menyadari tidak akan menang jika mereka melakukan perang terbuka. Pasalnya, sejahat apapun seorang penganut Islam, tapi jika masalah aqidahnya  nyata-nyata dikutak-katik, tentu akan melakukan perlawanan. Jadi, para phobia Islam itu mengubah system “perangnya” dengan perang pemikiran dan pemahaman. Contoh paling nyata kita dapat menyaksikan ‘perang’ ini melalui layar televisi di rumah masing-masing.

Berbagai tayangan yang dipertontonkan kepada anak-anak generasi muda kita secara perlahan namun pasti akan mengubap sikap dan karakter umat menuju dekadensi moral. Perubahan karakter tersebut semakin lama akan  menjauhkan umat dari pedoman utamanya yaitu Al Qur’an dan Hadits. Dan jika umat tidak lagi berpegang kepada warisan Rasulullah SAW tersebut, maka harapan untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin semakin jauh.

Kepiawaian mereka mengemas misi terselubung (hidden mission) tersebut sangat baik sehingga tidak terlihat nyata. Bahkan terkadang jargon-jargon Islam juga dimunculkan. Akibatnya, program tersebut seolah-olah telah sesuai dengan akidah dan ajaran agama Islam.

Karenanya pemahaman tentang keislaman secara benar harus segera dilakukan sejak sekarang kepada anak-anak dan generasi muda. Kemajuan perkembangan zaman membuat seluruh lapisan umat harus sama bergandengan tangan guna mengantisipasi tantangan yang semakin besar dan berat itu.

Kalau belum dapat berbuat di tingkat yang luas, paling tidak kita harus sama-sama memulainya dari diri, keluarga dan lingkungan masing-masing atau dengan sebutan ibda’ binafsika (mulailah dari dirimu). Ini telah diperintahkan Allah SWT dalam Al Qur’an Surat At Tahrim ayat 6. Setelah diri, keluarga dan lingkungan maka kita dapat memperluas ruang lingkupnya sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Sebagai intelektual di bidang masing-masing, generasi muda dituntut untuk dapat mengaplikasikan dan menginterpretasikan berbagai persoalan umat. Dengan majunya pemikiran membuat para intelektual cenderung menomorwahidkan akalnya dalam menghadapi berbagai masalah yang ada. Akibatnya, setiap persialan agama selalu dipertentangkan dengan logika berfikir ilmiah.

Ini dapat dilihat dari munculnya buku Fiqh Lintas Agama yang memicu perdebatan di tengah umat. Jika hal-hal seperti ini tidak disikapi secara benar, dikhawatirkan umat yang masih awam dapat terjebak dan semakin menjauhi prinsip dasar agama yang kita anut.

Apalagi para pemuda yang dalam periode kehidupannya mengutamakan logika guna mencarian jati diri mereka. Di posisi transisi tersebut para pemuda biasanya akan suka mencoba-coba sesuatu yang baru, walau terkadang hal baru tersebut nyleneh dan tidak sesuai dengan agama yang kita anut.

Pendidikan dan Ekonomi

Perang pemikiran yang terjadi sekarang terlihat nyata. Propaganda langsung atau terselubung melalui berbagai media massa yang sebahagian besar dikuasai kelompok kapitalis sudah dan terus berlangsung.

Lemahnya pengetahuan dan perekonomian sebahagian besar umat Islam membuat akses untuk menguasai kedua sector tersebut terbatas. Padahal, penguasaan informasi merupakan salah satu factor menentukan untuk menguasai dan mencapai sesuatu sasaran atau target.

Untuk mendapatkan pendidikan yang baik dibutuhkan dana tidak sedikit. Jika perekonomian tidak mendukung, maka peluang dan harapan mendapatkan pendidikan yang tinggi serta berkualitas menjadi terbatas kalau tidak malah terganjal. Demikian juga dengan informasi.

Dengan kemajuan ekonomi, untuk mendapatkan informasi sekarang ini lebih mudah. Tapi terkadang fasilitas mendapatkan akses informasi itulah yang mahal. Akibatnya masalah ekonomi kembali menjadi factor yang tidak dapat diabaikan dan harus menjadi perhatian.

Para phopia Islam yang ingin mencengkeram umat dengan misinya telah dan mencoba menguasai kedua sector itu, termasuk sector informasi melalui berbagai media miliknya. Mereka telah dan terus berupaya untuk melakukan penjajahan melalui pendidikan dan ekonomi. Jika kedua sector ini berhasil dikuasai para phobia Islam, maka posisi umat semakin sulit. Langkah untuk menjajah umat di sector ekonomi dan pendidikan saat ini sedang berlangsung walau tidak kentara.

Untuk itu, langkah awal yang perlu segera dilakukan adalah mempersiapkan pola pendidikan yang sesuai dengan kaidah agama. Pola pendidikan yang hanya mengutamakan kepentingan duniawi pada akhirnya akan menimbulkan generasi bermoral keropos karena mereka akan berorientasi pada kehidupan fana ini. Akibatnya mereka akan mengabaikan kaidah-kadiah untuk kepentingan ukhrowi karena dianggap hal tersebut bukan urusan mereka. Padahal seperti dikatakan Muhammad SAW lebih 14 abad lalu, dirinya diutus Allah SWT ke muka bumi adalah untuk memperbaiki moral sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat yang menjadi tujuan  setiap umat yang mengaku sebagai pengikuti Rasulullah SAW.

Pendidikan Islam jelas merupakan perpaduan antara ilmu pengetahuan duniawi dan persiapan menghadapi ukhrowi. Islam tidak menginginkan umat hanya berorientasi pada duniawi atau ukhrowi semata. Untuk mendapatkan dunia dan akhirat dituntut adanya ilmu pengetahuan.

Pentingnya pendidikan ini terlihat dari bagaimana wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Kekasihnya Muhammad SAW. Bukan perintah untuk beribadah atau amalan lain lain yang diperintahkan Sang Khaliq kepada utusanNya itu. Allah memberikan perintah pertama kepada Rasulullah SAW dengan kalimat IQRA’ (bacalah). Untuk membaca baik yang tersurat maupun yang tersirat diperlukan pengetahuan.

Untuk mendapatkan pengetahuan,  kita  yang hidup di masa sekarang lajimnya melalui pendidikan di sekolah formal. Bukan berarti pendidikan di lembaga non-formal tidak dinamakan sekolah atau menuntut ilmu. Tapi yang terpatri di benak kita, jika berbicara tentang pendidikan, maka yang terbayang adalah sekolah.

Dewasa ini baik diakui atau tidak, lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola umat Islam semakin tertinggal dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang dikelola pihak lain. Padahal, pendidikan merupakan salah satu pondasi untuk membentuk karakter (character building) generasi mendatang. Pembiaran terhadap keterpurukan pendidikan umat sama dengan menghancurkan masa depan umat.

Hal serupa juga terjadi di sektor ekonomi. Keterpurukan ekonomi merupakan ancaman bagi eksistensi keimanan umat. Hal ini seperti diutarakan Rasululaah bahwa “kefakiran dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir”. Padahal Islam telah mengajarkan bagaimana mengelola ekonomi yang menguntungkan dan memperhatikan kepentingan semua pihak.

Sekarang kita melihat bagaimana system kapitalis sekuler mulai menanamkan cakarnya di tempat kita masing-masing. Akibatnya, umat yang tidak memiliki modal tidak akan dapat berkembang yang pada akhirnya akan tergantung kepada para pemilik modal (kaum kapital). Setelah umat tergantung kepada kapitalis, maka roda kehidupan dapat dikendalikan atau dengan kata lain umat telah dijajah secara ekonomi.

 Konsep Islam jelas memerintahkan bagi yang memiliki kelebihan harta agar mengeluarkan zakat hartanya. Sementara penganut kapitalis tidak akan memperdulikan zakat yang dianggap hanya akan mengurangi asset mereka. Dengan zakat, kaum dhuafa dan anak yatim akan terjaga keberadaannya karena mereka memiliki hak di dalam harta para hartawan.

Memang, selain factor pendidikan dan ekonomi masih banyak factor lain yang tidak dapat diabaikan. Namun dalam pandangan penulis, jauh dari sikap mengabaikan berbagai factor lain yang juga perlu mendapatkan perhatian umat sekarang ini, kedua sector inilah yang paling strategis dan paling perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak, terutama dari cendekiawan muda Islam.

Terobosan-terobosan guna mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan dan ekonomi perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari segenap umat, terutama bagi generasi intelektual muda. Ini mutlak dilakukan. Melalui perbaikan pendidikan yang komprehensif, maka harapan untuk menjadikan generasi yang cerdas secara intelektual, emosional dan spritual lebh berpeluang terwujud.

Harapan serupa juga ditujukan untuk sector ekonomi. Dengan majunya perekonomian umat, maka terobosan serta program untuk  berbagai   kemajuan bangsa, negara dan agama lebih mudah dilakukan.

Al Qu’ran telah mengajarkan kepada kita agar dapat menyeimbangkan antara kebutuhan duniawi dan ukhrowi seperti yang tertulis dalam Surat Al Qashash ayat : 77.  untuk dapat mencapainya tentu kita harus menguasai pengetahuan baik untuk urusan duniawi maupun ukhrawi tersebut.

Peranan Cendekiawan Muda Islam

Tantangan seperti yang diutarakan diatas harus segera disikapi. Karena jika dibiarkan berlarut-larut, permasalahan umat yang multikompleks sekarang akan semakin bertumpuk lagi. Semakin banyak masalah sama dengan semakin berat beban yang dipikul umat.

Disinilah peranan generasi muda, terutama dari kalangan cendekiawan Islam sangat dibutuhkan. Seperti dikatakan pendiri Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman Al Banna atau yang lebih dikenal dengan Hasan Al Banna, sejak dahulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya, dalam setiap fikrah (pemikiran) pemuda adalah panji-panjinya.

Kalimat yang diucapkan pembaharu Islam tersebut secara jelas menegaskan kepada kita betapa signifikannya peran pemuda dalam kehidupan umat.  Pemuda selalu menjadi pionner dalam berbagai pergerakan di manapun.

Ini sangat disadari oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan pemuda atau generasi muda Islam maju dan berkembang. Untuk melalaikan pemuda agar tidak menyadari peran dan fungsi penting mereka, berbagai pemahaman serta sikap kesenangan duniawi ditawarkan oleh pihak-pihak tersebut.

Ironinya, tidak sedikit generasi dan pemuda Islam yang terjebak dalam perangkap pemahaman dan sikap pihak yang tidak menginginkan bangkitnya Islam. Kita melihat betapa banyak pemuda Islam yang awalnya berpegang pada prinsip dan kaidah syariat  tergelincir pada kehidupan hedonisme, borjuis dan kapitalis yang tidak sesuai dengan konsep agama rahmatan lil’alamin tersebut.

Disinilah dituntut kewaspadaan para cendekiawan muda Islam.  Masih sangat banyak  umat Islam yang  awam dan tidak atau belum dapat melihat serta menganalisis apa sebenarnya di balik berbagai kesenangan hidup yang ditawarkan para phobia Islam tersebut.

Memberikan pencerahan serta pemahaman tentang Islam yang benar harus segera dilakukan sejak sekarang. Inilah tugas utama para mujtahid muda di semua lini. Karena itu, berbagai terobosan perlu dikembangkan sehingga umat tidak semakin dalam terpuruk dalam ketidakmengertian dan ketertinggalan. Ini menjadi tantangan yang perlu disikapi secara dini.

Harapan

Kesadaran ini terlihat dari geliat para pemuda yang tergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Dilatarbelakangi kegelisahan positif, kreatif dan visioner untuk turut membantu mengemban serta mengembangkan peran tanggungjawab terhadap bangsa, negara dan umat, orang-orang muda di ICMI mencoba membidani lahirnya ICMI Muda.

Mengutip kembali Hasan Al Banna, generasi muda adalah rahasia kehidupan umat dan sumber mata air kebangkitannya. Kuat lemahnya umat sesungguhnya diukur dari sejauh mana kemampuan ‘rahim’ umat melahirkan tokoh-tokoh yang memenuhi syarat sebagai pelopor.

“Saya berkeyakinan –dan sejarah membuktikannya—bahwa satu orang pelopor (saja) dapat membangun umat jika ia memiliki karakter kepeloporan yang benar. Sebaliknya, ia mampu menghancurkan umat jika keadaan menuntut ia harus melakukannya,” kata pelopor Islam yang syahid itu dalam bukunya Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin.

Menurut Al Banna, sector pendidikan dan ekonomi termasuk diantara prioritas yang perlu mendapatkan perhatian  umat. Karena pentingnya kedua sector itu, ICMI Muda sangat diharapkan dapat menelurkan konsep-konsep bersifat komprehensif serta paripurna guna mengatasi kedua persoalan strategis tersebut.

Terlepas dari polemik yang melingkupi kelahiran ICMI Muda yang akan melaksanakan Muktamar pertamanya pada 23-25 Juli 2006 di Makassar itu, keinginanan generasi muda Islam untuk memberikan sumbangsih bagi bangsa, negara dan umat ini perlu didukung.

Sikap apriori harus dihindarkan. Bagaimana mengukur kemampuan ICMI Muda jika sebelum berbuat tapi vonis sudah dijatuhkan terhadapnya? Husnudh dhan (positif thingking) wajar diberikan kepada para pelopor (deklarator)  ICMI Muda. Ketulusan dan keikhlasan para deklarator untuk menggugah kepedulian para cendekiawan muda agar sama-sama peduli terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat sekarang ini perlu mendapat acungan jempol.

Walau diakui, dengan modal semangat saja tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. Karenanya dari para senioren dan tokoh-tokoh Islam yang berkecimpung di berbagai bidang kehidupan sangat diharapkan. Kritikan dan sumbang saran konstruktifr bagi kemajuan bersama di masa mendatang akan menjadi masukan sangat berarti guna kemajuan dan perbaikan umat. Dengan demikian ghirah (semangat) cendekiawan muda Islam semakin besar untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi umat dewasa ini.

Kita berharap ICMI Muda dapat berperan sesuai dengan konsep idealisnya  tanpa ada muatan-muatan lain di belakangnya yang dapat membuat cacat itikad baik dari segenap deklaratornya. Jadikan tantangan dan kritikan yang mewarnai perjalanan sebagai pengalaman serta pengetahuan sebagai penambah semangat. Buktikan bahwa pemuda yang tergabung dalam ICMI Muda juga bisa berbuat untuk bangsa, negara dan umat sehingga harapan menjadikan Indonesia negara yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur dapat terwujud. Bravo ICMI Muda dan Selamat Bermuktamar. (***)

*) Penulis adalah salah satu deklarator ICMI Muda Kabupaten Labuhanbatu, Sumut
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >