" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow Metastase Historis Cendikiawan Muda Islam Indonesia Dalam Globalmorfosis
Metastase Historis Cendikiawan Muda Islam Indonesia Dalam Globalmorfosis Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 22 Maret 2007

Oleh: Ahyar Anwar

Sekedar kembali dalam sebuah latar belakang dari sebuah sejarah tentang cendikiawan Indonesia. Dalam suasana musim penghujan yang dingin dan basah itu (6 Desember 1990) dalam sebuah ruang gedung student Centre Kampus Universitas Brawijaya Malang, berlangsung sebuah simposium yang berangkat dari gagasan beberapa kaum muda mahasiswa yang progresif dan dinamis. Simposium itu, kemudian dikenal dengan kelahiran sebuah organisasi yang fenomenal yang bernama Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Konsep substansi tentag cendikiawan yang dituju adalah orang-orang yang memiliki kepekaan dan komitmen tinggi terhadap persoalan masyarakat banyak. ICMI menjadi sekumpulan cendekiawan yang merasa bertanggung jawab terhadap untuk pengemban “pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya” melalui peningkatan kualitas Iman, kualitas piker, kualitas kerja, kualitas karya, dan kualitas hidup (5K) dalam sebuah kerangka misi pembangunan dan perubahan sosial.

Jelas, bahwa visi dan misi ICMI adalah sebuah konsep paripurna dari apa yang seharusnya dilakukan oleh kumpulan para cendikiawan muslim. ICMI adalah sebuah fenomena keterpanggilan dan responsibilitas yang kuat terhadap fenomena kebangsaan diera orde baru yang “sakit”. ICMI mulai “dipercaya” untuk menjadi sebuah “obat” yang dapat menyembuhkan kanker social, politik, dan ekonomi yang mulai terasa -8 tahun sebelum orde baru di amputasi-.

Bapak B.J. Habibie yang menjadi tokoh sekaligus ketua ICMI, menjalani sebuah konsekuensi politik menjadi presiden menggantikan soeharto. Sebuah era penting dan puncak dari perjalanan ICMI di belantara politik –yang sebelumnya selalu diingkari oleh tokoh-tokohnya-. Dikatakan puncak, karena pasca kejatuhan B.J. Habibie, ICMI pun terpuruk dan terbuai. Terus terpuruk, terbuai, dan mati suri hingga setengah dekade pasca reformasi terjadi di Indonesia.

Mengapa ICMI Gagal Membidani Perubahan?

Pernyatan tersebut, menjadi penting karena terikat dengan berbagai gagasan dasar ICMI tentang : (1) pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya, (2) Pembangunan dan perubahan sosial, serta (3) keterampilan dan responsibilitas. Mengapa semua itu, harus terbuai pasca kejatuhan B.J. Habibie yang menjadi ikon ICMI? Adalah pernyatan sampiran yang pasti akan terpetakan.

Mungkin salah, tetapi bisa jadi justru benar bahwa terjadi sebuah kudeta spiritualistik tentang gagasan organisasi kecendikiawanan muslim yang digagas oleh sekumpulan pemuda-mahasiswa di malang. Ketika para pemuda muslim itu “memaksakan” sebuah spirit cendekiawan muslim untuk sebuah perubahan, maka sekelompok para cendekiawan senior merasa diberikan justifikasi ruang yang lebih elegan dalam politik. Sejauh apapun itu diingkari, akan semakin dirasakan dalam perjalanan ICMI di era Reformasi.

ICMI secara sadar mengkooptasi diri dengan politik, dengan melakukan proses penetrasi partisipasi massif (mobilisasi kekuatan islam di Indonesia) dua tahun sejak berdiri sampai pada pemilu tahun 1992. sekali lagi tidak dapat dipungkiri, bahwa peran ICMI menjadi sangat fundamental dibidang politik pasca pemilu tahun 1992, sehingga muncullah anekdot plesetan tentang ICMI sebagai sinonim dari Ikatan Calon Menteri Indonesia. Meskipun dari ruang politik itu, ICMI mampu melakukan terobosan-terobosan penting dibidang ekonomi.

Tetapi yang pasti, 5 tahun pasca terbentuknya, ICMI telah “dikuasai” oleh segerombolan para cendikiawan muslim yang patrilinial. ICMI difeodalisasi dalam sebuah hirarkhi pendidikan yang formalistik–meski tidak sepenuhnya terjadi- ICMI telah menjadi hegemoni yang tidak lagi egaliter. Posisi cendikiawan muslim muda, digradasi dalam sebuah lembaga bernama Majelis Sinergi Kalam (Masika) sebuah ruang sempit yang disisakan untuk generasi muda.

Spritualisme cendekiawan muda muslim yang menjadi akar dari terbentuknya ICMI, tidak setengahnya ditangkap an dikembangkan. ICMI berubah menjadi sebuah “monster” dalam perspektif politik Indonesia, yang dinilai oleh presiden Soeharto saat itu, sebagai sebuah kekuatan berbahaya yang harus diakomodasi kepentingangnya untuk menutupi segala kejahatan-kejahatan orde baru. Maka jadilah ICMI sebagai sebuah organisasi maha penting untuk sebuah sarana kepentingan politik bagi serombingan para cendekiawan-cendekiawan muslim. Dalam periode politik 1992-1997 sangat sulit menemukan cendekiawan muslim di Indonesia yang tidak tergabung dalam ICMI.

Spritualisme pemuda yang menggagas ICMI semakin tidak relevan hingga detik-detik akhir hayat pemerintah orde baru. ICMI bahkan tidak secara signifikan mengambil peran formalistic adari sebuah gelombang besar spiritual para pemuda yang memiliki kepekaan damn komitmen terhadap perubahan, bahkan sebelumnya, bapak Amien Rais seorng tokoh cendekiawan muslim yang memilki kepekaan dan komotmen terhadp perubahan di pecat dari ICMI.

Gelombang besar itu, tidak saja menjatuhkan segala benteng ideologis orde baru, tetapi menjadi sebuah awal dari tsunami bagi organisasi ICMI yang terlibat sangat sentral dalam masa-masa akhir orde baru. Puncak dari tsunami itu adalah penolakan laporan pertanggung jawaban preside B.J. Habibie dalam siding MPR/DPR. Hungga sewindu reformasi berlalu, sampai pada muktamar ke IV ICMI di Makssar bulan Desenbar 2005, ICMI belum sepenuhnya pulih untuk kembali mengembang “pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya”.

Metastase Historis

Desember 2005 di Makassar, spirit para cendekiawan muslim muda di Malang mengalami  sebuah metastase sejarah. Menjadi sebauah latar depan dari kemunculan kembali spirit dasar tentang perubahan yang di bingkai dari kesadaran tentang pluralitas, demokrasi, dan egaliter. Keyakinan tentang pentingnya sebuah visi strategis dalam mengusung sebuah tanggung jawab besar yang “terlanjur” dilekatkan di pundak para cendekiawan muslim Indonesia melalui ICMI tepat 15 tahun yang lampau.

Metastase sejarah itu bertumpu pada dua subtansi. Pertama adalah substansi historis tentang peran sentral para pemuda dan kesetiaanya dalam mengawal sebuah perubaha, sejak berdirinya Boedi oetomo yang memberikan sebuah arah perubahan gerakan nasionalisme di Indonesia, lalu di cetuskannya sumpah pemuda yang menjadi kostruksi bangsa Indonesia, “penculikan” soekarno yang dibarengi dengan “pemaksaan” untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia yang menjadi titik tumpu berdirinya Negara Republik indonesi, hingga pendudukan kantor MPR/DPR yang menjadi awal berlangsungnya reformasi di Indoesia.

Kedua, metastase sejarah juga bertumpu pada ruang depan melalui konsep long march tahap II yang dikemukakan oleh bapak B.J  Habibie dalam muktamar IV ICMI di Makassar akhir tahun 2005. Fase kedua ICMI adalah sebuah fase global yang membuat tugas ICMI tidak semakin ringan. Klesadaran tentang perjuangan untuk memabangun kualitas manusia (5 K ICMI) akan semakin membutuhkan energi yang besar, sebuah energi dinamis yang progresif yang umumnya dimiliki oleh para cendekiawan muslim muda.

Metastase sejarah itu muncul melalui gagasan tentang organisasi dalam payung ideologis ICMI yang menghimpun para cendekiawan-cendekiawan muslim muda yang setiap tahunnya jutaan ditelurkan dari pendidikan-pendidikan formal akademik di seluruh Indonesia. Sebuah organisasi yang menghimpun para cendekiawan muslim muda yang sifatnya lebih strategis dan sinergik dengan ICMI daripada Majelis Sinergi Kalam (Masika).

Seperti halnya spirit awal daripada pemuda muslim di Malang yang dalam situasi hujan, dingin, dan basa, di Makassar digagas tentang ICMI Muda disambut dengan sebuah visi strategis yang tidak berubah, ICMI Muda disambut dengan sangat egaliter oleh Bapak B.J. Habibie dan Bapak Muislimin Nasution selaku ketua umum ICMI, sebagai jawaban strategis dan visioner atas tantangan-tantangan ICMI melakoni fase perjalanan panjang tahap ke II.

Simbolis Kebangkitan

­ICMI muda atau para cendekiawan muslim muda Indonesia yang berproses secara sehat dalam visi dan misi ICMI, adalah sebuah simbolisasi dari kebangkitan ICMI. Hanya dalam hitungan minggu, gagasan tentang organisasi cendekiawan muslim muda dibawah payung ICMI mendapat tanggapan dan respon positif dari lebuh dari seribu tokoh-tokoh cendekiawan muslim muda dari seluruh Indonesia yang melakukan deklarasi terbentuknya ICMI Muda di berbagai dan daerah.

Terlepas Dari kontroversi internal ICMI atas kuatnya respon organisasi yang lebih spesifik menaungi para cendekiawan muda di lingkungan ICMI. Para cendekiawan muslim muda yang mendeklarasikan ICMI Muda, sesungguhnya berangkat dari sebuah respon atas fenomena internal ICMI dan bertumpu pada komitmen sebagai cendekiawan muslim muda untuk melakukan partisipasi strategis secara langsung terhadap pembanguna masyrakat madani di Indonesia.

Para cendekiawan muslim muda yang tergabung dalam deklarator ICMI Muda se-Indonesia adalah sebuah cerminan konsep pluralitas, demokrasi, dan egaliter. Berbagai kalangan tokoh cendekiawan muslim muda yang memiliki komitmen terhadap perubahan tergabung, membuat ICMI Muda lekat dengan konsep “pelangi”. Para cendekiawan Muslim Muda  dari kalangan akademisi, politisi, budayawan, seniman, wartawan, LSM, pengusaha, dll dan dari berbagai latar belakang organisasi seperti KNPI, HMI, KAMMI,PMII, IMM, Hizbut Tahrir, Muhammadiyah, NU, dan sebagainya bergabung dalam sbuah spirit yang sama. Spirit yang berkecambah di Malang.

Berbeda dengan organisasi massa lainnya yang menempatkan organisasi kepemudaannya hanya dalam misi pengkaderan. ICMI MUDA lebih mengarah pada sebuah gerakan yang kurang lebih sejajar dengan ICMI. Seperti sebuah laras senapan yang secara bersamaan dapat memberikan kekuatan penetrasi yang lebih dahsyat untuk melakukan perubahan-perubahan social menuju masyrakat Madani. Bahkan ICMI Muda siap untuk menjadi sebuah anak panah dari sebuah busur bernama ICMI untuk melakukan perubahan-perubahan strategis.

ICMI Muda yang menhimpun dan mengakomodasi para cendekiawan muslim muda Indonesia, adalah sebuah “nyawa” dari “jiwa” ICMI. Dan ICMI adalah sebuah “jiwa” bagi ICMI Muda. Relasi “jiwa” dari “nyawa” adalah sebuah relasi subtansial yang terkait dengan adanya komitmen, respon, visi, dan misi yang sama. Jiwa tanpa nyawa adalah sebuah nihilitas, sama konteksnya jika nyawa tanpa jiwa. Jiwa dan nyawa adalah sebuah sinergi kesatuan tentang hidup dimana tubuh bertumpu.

ICMI Muda : Latar Depan Sejarah dan Kesadaran Globalmorfosis

Pertemuan mendasar dari ICMI dan ICMI Muda terletak pada wacana besar tentang globalmorfosis yang menajdi salah satu agenda penting berdirinya ICMI Muda. Globalmorfosis termaktub secara implisit dalam gagasan tentang perjalanan panjang tahap kedua yang dikemukakan oleh Bapak B.J. Habibie. ICMI Muda menyadari akan tantangan besar yang dihadapi di era globalisasi dan keterbukaan mondial. Globalisme telah menyadarkan para cendekiawan muslim muda di Indonesia untuk membangun sebuah wacana besar tentang perubahan yang berskala global, terutama melalui jalinan-jalinan dan aktivitas-aktivitas sinergik dengan kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi pemuda muslim di seluruh dunia.

Bila, spirit kemudaan dapat menjadi sebuah spirit besar dalam latar belakang sejarah Indonesia, maka spirit kemudaan bisa menjadi sebuah alternatif penting dalam latar depan sejarah perubahan tidak saja masyarakat Indonesia, tetapi juga pada masyrakat dunia.ICMI Muda adalah gambaran tidak hanya masa depan ICMI tetapi lebih jauh pada masa depan komunitas muslim dunia dan masa depan masyarakat dunia itu sendiri. Meski masih menjadi sbuah HARAPAN dan tergangtung seberapa jauh ICM<I itu sendiri memiliki kepentingan masa depan dari sebuah sejarah besar.

Dr. Ahyar Anwar, S.S., M.Si, Deklarator nasional ICMI Muda, Dosen universitas Negeri Makassar

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >