" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow Menyingkap Selubung Globalisasi
Menyingkap Selubung Globalisasi Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Rabu, 21 Maret 2007
Oleh: Rokhmat S. Labib

Istilah globalisasi telah demikian akrab di telinga kita. Namun tahukah kita bahwa di balik kata yang terdengar indah itu terdapat bahaya terselubung di dalamnya. Proses pemiskinan global terhadap negara-negara yang sudah miskin adalah salah satu di antara bahaya yang diakibatkan.

Menjelang abad XXI dunia memasuki era baru, yakni era globalisasi. Era ini ditandai dengan kian terbuka dan mengglobalnya peran pasar, investasi, dan proses produksi dari perusahaan-perusahaan transnasional, yang kemudian dikuatkan oleh ideologi dan tata dunia perdagangan baru di bawah suatu aturan yang ditetapkan oleh organisasi perdagangan bebas secara global.

Secara historis, periode globalisasi ini merupakan kelanjutan periode sebelumnya yang sering disebut era pembangunan atau era developmentalisme. Yakni sebuah era di mana kolonialisme secara fisik sudah tidak terjadi, namun dilakukan dengan hegemoni ideologi, politik, dan ekonomi. Hanya bedanya, jika dalam era pembangunan lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi nasional, dalam era globalisasi negara-negara dunia ketiga didorong untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi global, di mana aktor utamanya bukan hanya negara tetapi perusahaan transnasional (TNCs) dan bank-bank transnasional (TNBs), serta lembaga keuangan multilateral seperti Bank Dunia dan IMF, juga birokrasi perdagangan regional dan global seperti WTO, NAFTA, APEC, dan semacamnya. Sehingga, globalisasi merupakan penyatuan (integrasi) dan penundukan ekonomi lokal ke dalam perekonomian dunia,

Wajah Globalisasi

Secara leksikal globalisasi berasal dari kata global yang berarti universal. Sehingga makna kata globalisasi adalah universalisasi. Meskipun istilah globalisasi digunakan dalam pelbagai sektor kehidupan, akan tetapi yang menonjol adalah aspek ekonomi.

Dalam sektor ekonomi, secara sederhana globalisasi diartikan sebagai proses pengintegrasian dan penundukan ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam sistem ekonomi global. Sistem ekonomi global yang dimaksud adalah sistem ekonomi kapitalis dengan cara memaksakan penerapan format ekonomi swasta ke dalam struktur perekonomian dunia, serta menjadikan ekspor setiap negara ditujukan untuk pasar dunia.

Semua itu mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang, dan jasa. Pasar perekonomian dunia semacam itu tentu tidak mustahil dapat dilakukan dalam perekonomian yang tertutup atau terproteksi, melainkan perekonomian yang terbuka terhadap segala kekuatan ekonomi. Maka berbagai hambatan perdagangan antara negara, seperti pajak, bea masuk, dan ketentuan-ketentuan mengenai proteksi dan monopoli perekonomian negara mutlak harus dihapuskan.

Jalan menuju globalisasi mulai terwujud sejak ditandatanganinya kesepakatan internasional tentang perdagangan pada bulan April 1994 di Marrakesh, Maroko, yang dikenal dengan GATT (General Agreement on Tariff and Trade). GATT merupakan suatu kumpulan aturan internasional yang mengatur perilaku perdagangan antar pemerintah, juga merupakan pengadilan untuk menyelesaikan jika terjadi perselisihan dagang antarbangsa. Jalan tersebut makin lempang dengan didirikannya organisasi pengawasan perdagangan dan kontrol perdagangan yang dikenal dengan WTO (World Trade Organization) yang mengambil alih GATT.

Semua mekanisme dan proses globalisasi yang diperjuangkan aktor-aktor globalisasi sebanarnya dilandaskan pada ideologi kapitalisme. Dalam peristilahan mutakhir sering disebut neoliberalisme. Sebagai sebuah paham, ide dasar neoliberalisme ini secara prinsipil tidak berbeda dengan dengan paham liberalisme lama yang digagas Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776).

Pilar utama dari ide ini adalah bahwa aparatus negara seharusnya tidak ikut berperan dalam kegiatan-kegiatan pokok ekonomi nasional maupun internasional. Maka perusahaan-perusahaan swasta harus dibebaskan dari pemerintah. Pemerintah juga harus menghentikan subsidi kepada rakyat karena hal itu selain bertentangan dengan prinsip menjauhkan campur tangan negara juga bertentangan dengan prinsip pasar bebas. Sebagai konsekuensinya, pemerintah harus melakukan privatisasi terhadap semua perusahaan milik negara karena perusahaan negara pada dasarnya dibuat untuk melaksanakan subsidi negara terhadap rakyat dan menghalangi persaingan bebas.

Terwujudnya globalisasi tidak lepas dari peran negara-negara kapitalis, seperti Amerika dan Inggris. Lembaga-lembaga multilateral, seperti Bank Dunia, IMF, dan bank-bank pembangunan regional, seperti Asian Development Bank (ADB) dijadikan sebagai kepanjangan tangan untuk keperluan transformsi tersebut. Negara-negara sedang berkembang yang memperoleh dukungan pinjaman dana dari lembaga-lembaga tersebut harus terlebih dahulu menandatangani perjanjian yang memuat prinsip-prinsip yang dikenal dengan the Washington Consensus.

Melalui berbagai saluran, konsensus kaum elit kekuasaan negara adidaya itu dipaksakan kepada negara-negara miskin. Resep itu bisa ditemukan dalam program Structural Adjusment Loan (SAL) yang diperkenalkan Bank Dunia pada akhir 1970-an. Persyaratan yang sama juga menjadi pegangan IMF ketika merundingkan Letter of Intent (LoI) dengan negara yang memerlukan bantuannya.

Disamping menggunakan perangkat-perangkat ekonomi, Amerika juga memaksakan pengambilan sekumpulan ide-ide tertentu sebagai syarat dasar untuk memasuki era globalisasi. Di antara ide tersebut adalah sekularisme, rasionalisme, perdamaian antar bangsa, kebebasan, pluralisme, perubahan kurikulum pendidikan, pengembangan masyarakat sipil (civil society), dan sebagainya. Semua ide itu tidak lain merupakan nilai dan gaya hidup peradaban Barat yang dipandang lebih unggul dari semua ideologi dan peradaban lain. Dengan demikian, globalisasi yang kini sedang berlangsung adalah universalisasi ideologi kapitalisme dengan menjadikannya sebagai satu-satunya ideologi dan peradaban dunia.      Dengan melihat fakta-fakta tersebut, sangat absurd jika kaum muslimin turut serta mempropagandakankan globalisasi seolah-olah globalisasi merupakan vonis mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. 

Dampak-Dampak Globalisasi

Dampak nyata globalisasi adalah hilangnya kemerdekaan ekonomi negara-negara Dunia Ketiga kepada lembaga-lembaga internasional, seperti WTO, IMF, Bank Dunia, demi kepentingan kapital transnasional dengan dalih interdependsi  dan pasar bebas. Perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi nasional akan ditaruh dalam pengawasan internasional. Ini tentu saja akan menghilangkan kemungkinan bagi negara Dunia Ketiga untuk menempuh jalan pembangunan yang independen.

Globalisasi yang memberikan kemudahan dan perlindungan beroperasinya perusahaan-perusahaan transnasional serta keleluasaan perusahaan tersebut melakukan investasi, produksi, dan perdagangan bebas, tidak saja akan memarjinalkan rakyat miskin, namun juga berebut kepentingan dengan petani kecil, nelayan, pedagang sektor informal. Akibat selanjutnya, akan terjadi peningkatan pengangguran dan angka kemiskinan. Dengan demikian, penerapan globalisasi akan semakin memperlebar jurang pemisah antara yang miskin dan yang kaya. Dikotomi miskin-kaya dan ketidaksolidan dalam bidang ekonomi akan mewarnai setiap negara. Berkah trickle down effeck yang sering diteorikan oleh kapitalisme dalam kenyataannya tak pernah terbukti. Bahkan dalam kenyataannya, penghisapan kekayaan oleh para pemilik modal terus-menerus terjadi.

Akibat-akibat ini --dan akibat lainnya-- merupakan konsekuensi logis  dari ide-ide kufur yang telah diskenariopkan oleh kapitalisme. Hakikatnya globalisasi adalah bencana masa depan yang akan terus menerus membayangi dunia. Bila tidak ada kekuatan yang menghadapinya, maka seluruh dunia akan terjerumus ke dalam penderitaan yang mengerikan dan kesengsaraan yang tiada taranya.

Hanya Daulah Khilafah

Tidak akan ada yang mampu menghentikan globalisasi ini, kecuali dengan berdirinya Khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya kekuatan yang menghentikan globalisasi yang hanya didasarkan pada kekuasaan modal dan harta benda tak mengenal kekuasaan lainnya serta tak mengenal pertimbangan akal, diskusi, dan perdebatan. Khilafah Islamiyahlah satu-satunya kekuatan yang mampu menyelamatkan umat manusia dari bahaya-bahaya kelaparan, kebinasaan, dan kehancuran yang dihasilkan oleh skenario-skenario kapitalisme yang kafir.

Bahwa Khilafah Islamiyyah mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi umat manusia bukan merupakan klaim kosong adalah karena Islam yang diterapkan di dalamnya berasal dari Allah SWT, Dzat yang memiliki seluruh keempurnaan. Maka Islam yang berasal dari-Nya pun akan terhindar dari cacat dan kelemahan.  Di samping itu, keunggulan sistem Islam juga dapat dibuktikan kebenarannya.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >