" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow Melahirkan ICMI Muda, Kenapa Tidak ?
Melahirkan ICMI Muda, Kenapa Tidak ? Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Rabu, 21 Maret 2007

Oleh: Andi Nur Aminah

Sebuah pertemuan berlangsung di salah satu ruangan Hotel Sahid Makassar, Sulawesi Selatan, 5 Desember 2005. Pertemuan itu antara sepuluh orang yang menamakan diri Deklarator Forum ICMI Muda dengan pendiri Ikatan Cendekiawan Muda Indonesia (ICMI) Prof Ir Ing BJ Habibie. Selain Habibie, pertemuan di lantai 11 Hotel Sahid itu dihadiri pula Dr Muslimin Nasution yang ketika itu masih menjabat sebagai Ketua Umum ICMI.

Sepuluh deklarator yang dinakodai AM Iqbal Parewangi itu kemudian memanfaatkan sedikit waktu di sela Muktamar ICMI IV untuk menemui Habibie. Tujuannya, untuk menyampaikan rencana membentuk Forum ICMI Muda sebagai salah satu wadah untuk regenerasi di tubuh ICMI. Rencana tersebut disambut positif oleh Habibie.

Ia kemudian menyampaikan agar paling lambat satu tahun pasca-Muktamar ICMI, forum muda ini juga melakukan Muktamar. BJ Habibie pun mewanti-wanti agar pelaksanaan Muktamar tersebut dilakukan di kota Makassar, karena ide tersebut lahir dari orang-orang muda Makassar. ''Segeralah Muktamar, dan saya akan hadir,'' ujar BJ Habibie saat itu.

Dalam obrolan yang santai, bersahaja dan penuh kasih sayang antara bapak dan anak tersebut, kemudian muncullah empat alternatif nama. Di atas secarik kertas kecil, Muslimin kemudian menuliskan Forum Cendekiawan Muda ICMI, Forum Kader ICMI, Forum ICMI Muda, serta Forum Pemikir, Pembaharu dan Pejuang ICMI. Kertas kecil itu lantas disodorkan Muslimin ke Habibie. Habibie kemudian mengamatinya dan memberi tanda setuju.

Muslimin lantas menyampaikan dalam pertemuan tersebut agar deklarator menentukan satu nama. Namun yang pasti, apapun pilihannya, istilah 'ICMI' tidak boleh ditanggalkan. Muslimin juga menambahkan coretan, 3 khittah, 5K, dan 4 program di bawah nama-nama tersebut yang semuanya tak lain sendi dasar pendirian ICMI.

Coretan fakta sejarah

Pertemuan lima bulan lalu itu kemudian menjadi amanah yang dipegang para deklarator yang notabene juga adalah pengurus ICMI Orwil Sulsel. Secarik kertas kecil goresan tangan Muslimin Nasution berisi empat nama itu kemudian menjadi fakta sejarah restu Habibie terhadap Forum ICMI Muda. Meski akhirnya tak seluruh deklarator terlibat, rencana pelaksanaan Muktamar pada 21 hingga 23 Juni mendatang pun mulai disiapkan. Iqbal bersama deklarator Forum ICMI Muda lainnya, Ahyar Anwar dan Arqam Azikin kemudian membentuk Tim Kerja Nasional (Tiknas) yang bertugas menyiapkan pelaksanaan Muktamar serta menampung aspirasi dari daerah yang juga ingin membentuk ICMI Muda.

Kemudian lahirlah Tim Kerja Wilayah (Tikwil), Tim Kerja Daerah (Tikda), Tim Kerja Khusus (Tiksus), dan Tim Kerja Luar Negeri (Tiklu) ICMI Muda. Hingga saat ini, tercatat sudah 20 provinsi yang mendeklarasikan terbentuknya ICMI Muda. Di Sumatera terwakili oleh Kepulauan Riau, Kalimantan oleh Kaltim dan Kalbar, Sulawesi di seluruh provinsi, Maluku oleh Maluku Utara, serta Maluku bahkan hingga ke Papua. Khusus untuk Sulawesi Selatan, seluruh kabupaten sudah mendeklarasikan terbentuknya ICMI Muda. Pendeklarasian ICMI Muda juga sudah menembus batas negara dengan terbentuknya IMCI Muda Tiklu Jepang.

Mengisi ruang kosong

Pendeklarasian ICMI Muda di berbagai wilayah ini bagaikan cendekiawan yang mencendawan. Pertanda apakah ini? Dalam acara Tudang Sipulung ICMI Muda, Sabtu (13/5) lalu, terungkaplah alasan sejumlah peserta. Wakil dari Papua dan kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, mengatakan, menginginkan ICMI menjangkau mereka di daerah yang nun jauh di sana. Peserta dari Papua malah mengatakan, meskipun sudah ada ICMI di sana, namun mereka tak melihat kontribusi yang telah dilakukan oleh pengurus ICMI.

Peserta dari daerah lain juga mengutarakan, ada ruang kosong terutama untuk kaderisasi yang selama ini terlewatkan oleh ICMI. Nana, salah seorang peserta dari Makassar mengatakan, setelah bergabung dengan Majelis Sinergi Kalam (Masika) di masa menjadi mahasiswa, memang ada kegiatan yang bisa diikuti. Tapi setelah lepas dari Masika, menjadi tak punya wadah mau ke mana. Mau gabung di ICMI juga rasa-rasanya belum pantas. Padahal, mereka ingin berbuat sesuatu untuk umat. Akhirnya, potensi merek tersia-siakan.Ruang kosong kaderisasi selepas dari Masika itu juga salah satu yang melatarbelakangi pembentukan ICMI Muda. Ketua Tiknas ICMI Muda Iqbal Parewangi mengatakan, setelah bergabung di Masika yang usianya antara 17 hingga 25 tahun, maka muncullah ruang kosong tersebut.

Celakanya, kekosongan itu melanda rentang usia produktif antara 25 hingga 40 tahun. Usia inilah yang ingin dibidik ICMI muda, bukan usia yang sama dengan Masika.

Persoalan usia memang menjadi hal yang menjadi perdebatan terutama di kalangan pengurus ICMI. Ketua Presdium ICMI, Marwah Daud Ibrahim, dalam Tudang Sipulung menyebut usia ICMI Muda sama dengan usia bergabungnya kader ICMI dan Masika.

Tapi, menurut Iqbal, ICMI Muda sama sekali tidak dibentuk untuk membenturkan usia yang ada di Masika. Bagi dia, di sinilah letak kesalahannya. Marwah menaggapi, presidium akan melakukan pertemuan yang mengendakan tentang pembahasan ICMI Muda ini.

Menurut Marwah, yang akan dibahas adalah usia dan fokus kegiatannya. Marwah sendiri sebetulnya mendukung lahirnya ICMI Muda. Di hadapan peserta Muktamar, ia mengatakan, saat ini bangsa Indonesia tengah menanggung beban terlalu berat yang harus diselesaikan bersama. Tanpa dukungan orang muda, beban tersebut akan sangat berat dipikul.

Piagam Deklarasi

Namun sebagai sebuah organisasi, Marwah mengatakan, apa boleh buat jika ingin menggandengkan nama ICMI pada sebuah organisasi baru, maka pendatang baru tersebut harus tunduk pada aturan yang ada. Pengurus ICMI Pusat, bahkan telah mengedarkan surat ke seluruh Orwil, Orda, dan Orsat untuk mendapatkan masukan perlu tidaknya membentuk wadah baru untuk mengakomodir cendekiawan muda tersebut. Dalam surat yang diberi batas waktu jawabannya hingga 15 Juni mendatang itu, dikatakan, jika memang perlu, apakah wadah tersebut harus dibentuk segera atau masih harus menunggu sampai Muktamar ICMI berikutnya.

Selain itu, Marwah menyampaikan, jika para deklarator tetap ingin melakukan Muktamar, silahkan saja, dengan catatan tidak mencantumkan nama ICMI dalam acara itu. ''Mau namanya Muktamar cendekiawan muda, atau apa saja, silahkan. Tapi nama ICMI tolong jangan dipakai dulu,'' ujar Marwah.

Isi surat edaran serta pernyataan untuk tidak menggunakan kata ICMI tersebut kontan ditanggapi setengah hati terutama deklarator yang telah berubah format menjadi Tiknas. Peserta forum Tudang Sipulung yang dihadiri sekitar 900 orang dari wilayah Indonesia Timur itu pun mengajukan keberatan. Bahkan, di akhir acara Tudang Sipulung, peserta melahirkan sebuah 'Piagam Deklarasi'. Isinya ada dua poin. Pertama, penetapan nama organisasi dilakukan saat Muktamar. Kedua, Muktamar pertama dilaksanakan dengan tetap memakai nama 'ICMI Muda'.

Karena itu, Tiknas ICMI Muda akhirnya memutuskan, disetujui atau tidak oleh ICMI, Muktamar ke satu akan tetap dilaksanakan. ICMI Muda menurut Iqbal, tidak akan tergantung pada jawaban surat edaran yang ditujukan ke seluruh Orwil. Tiknas hanya mengemban amanah dari pendiri ICMI, BJ Habibie untuk segera melakukan Muktamar. Mereka yakin, pengurus ICMI sekarang juga tidak akan mengkhianati pendiri ICMI. Lagi pula, jika ICMI Muda melakukan Muktamar dan akan membuat AD/ART sendiri, semuanya akan mengacu pada AD/ART ICMI juga.

Agaknya, jika ingin menyederhanakan persoalan, kenapa tidak ICMI bercermin saja pada organisasi besar seperti Muhammadiyah yang memiliki underbow seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Aisyiah, dan lain-lain. Bukankah mereka pun melakukan Muktamar dan memiliki AD/ART sendiri-sendiri? Apapun itu, dukungan lahirnya ICMI Muda sebetulnya terkait masalah aturan organisasi semata. Toh, Ketua Presidium ICMI sebelum meninggalkan acara Tudang Sipulung secara elegan mengatakan: ''Anda dengan ICMI atau tanpa ICMI, saya tetap bersama Anda''. So what?

Andi Nur Aminah, Wartawan Republika

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >