" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow ICMI Muda Mengusung Alih Generasi Bangsa
ICMI Muda Mengusung Alih Generasi Bangsa Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Rabu, 21 Maret 2007

Oleh : AHMAD TAUFIK NASUTION

Ketika ICMI Muda akan dideklarasikan di wilayah Sumatera Utara, sahabat saya Harmaini el-Harmawan (yang terpilih sebagai sekretaris TiKWil) meminta saya bergabung dalam deklarator ICMI Muda Wilah Sumatera Utara. Saya merespon dengan positif, tapi juga memunculkan berbagai pertanyaan dalam benak saya, dan ketika kami turun ke berbagai daerah di Sumatera Utara pertanyaan-pertanyaaan para sahabat di berbagai daerah sama persis dengan apa yang ada dibenak saya: Aapakah ICMI sudah retak? Mau digiring kemana ICMI Muda? Sanggupkah kaum muda di daerah memikul nama "cendikiawan"? Pertanyaan terakhir ini membuat saya tertawa ketika seorang sahabat dari daerah mengirim SMS  dengan pesan, "untuk mengumpulkan di daerah beberapa inisiator yang "agak-agak" (baca: mirip) cendikiawan saja suli!t".

Pertanyaan-pertanyaan terus diajukan dengan bahasa yang lebih propokatif, untuk kepentingan siapa ICMI Muda? Apakah ada skenario untuk suksesi kepemimpinan 2009? Mengingat para deklarator dan orang-orangnya diwarnai dari bagian Timur Indonesia? Mengingat salah seorang dari sana sedang menduduki posisi sebagai wakil presiden sekarang ini. Semua pertanyaan ini wajar disuarakan, mengingat perjalanan ICMI yang didirikan oleh Habibie  sekarang ini gaungnya dinilai tidak seperti awal berdirinya.

 

ICMI Bersama Habibie.

Ketika ICMI dilahirkan di Malang, lima belas tahun silam, gegap gempitanya menggaung keseluruh nusantara. Banyak kalangan ketika itu menilai konstalasi peta politik berubah, meskipun ICMI bukan sebuah partai politik, tapi individu-individu didalamnya banyak dikenal ketokohannya seperti Imanuddin Abdurrahim, M.Amin Rais, Nurcholis Madjid, Dawam Raharjo dan tokoh lainnya. Awal pembentukan ICMI membuat rezim pada masa itu khawatir akan pengaruhnya, namun posisi Habibie ketika itu menjadi jaminan bahwa ICMI tidak akan bermain api dengan penguasa ketika itu, Soeharto.

Saya masih ingat ketika Pak Habibie datang ke Asrama Haji Medan tahun 1991, Beliau  meresmikan Pengurus Wilayah ICMI Orwil Sumatera Utara, ruangan Asrama pada waktu itu penuh sesak dengan orang-orang dari berbagai daerah--bahkan hingga ke luar ruangan; masih ingat dalam ingatan saya-- ketika itu baru dibangku Madrasah Aliyah, Habibie tampil dengan semangat dan gayanyanya yang khas; sementara itu para hadirin sering mengiringi sambutan Habibie dengan gemuruh tepuk tangan. Pertemuan itu mengesankan dalam diri saya bahwa wadah ICMI akan melahirkan tokoh-tokoh pemimpin nasional yang cerdas dan kritis-- dan memang akhirnya banyak tokoh-tokoh ICMI yang duduk dipemerintahan.

Disatu sisi membuat umat Islam bangga ketika itu, dan setelah itu tidak sedikit mereka menjadi orang-orang yang mewarnai dan mengambil keputusan di pemerintahan. Suasana ini membuat banyak para tokoh mulai berani menyuarakan susuatu yang tidak adil. Kasus "terpanas"  adalah Free Fort, sekitar tahun 1997 Amien Rais yang ketika itu sebaga Dewan Pakar ICMI bersuara lantang bahwa pembagian hasil tambang emas Free Fort lebih menguntungkan pihak luar. Kasus Free Fort  ini membuat Soeharto ketika itu menjadi berang, lalu meminta kepada Habibie agar Amien Rais "disingkirkan" dari ICMI. Permintaan ini membuat Habibie dilematis karena ia dekat dengan Amien Rais, sementara Soeharto ketika itu penguasa yang sangat kuat. Akhirnya Amien Rais sendiri mengundurkan diri dari Dewan pakar ICMI setelah melihat posisi Habibie seperti itu.

Ketika era reformasi yang digulirkan mahasiswa tahun 1998 membuat banyak tokoh turun untuk mendirikan dan bergabung dengan partai politik, dengan tujuan dapat  memperoleh kekuasaan. Reformasi bergulir dengan cepat, Soeharto turun, Dwifungsi ABRI di cabut, UUD 1945 diamandemen. Perubahan ini berjalan demikian cepat, sementara itu ICMI seperti kenderaan kosong. Hiruk pikuk reformasi,  disikapi dengan berbagai kepentingan-kepentingan jangka pendek: bagaimana bisa menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati, atau anggota dewan.

Meskipun demikian ruh kecendikiawanan para tokoh dan mahasiswa Islam masih hidup. Meskipun geliatnya secara politis tidak bergema dengan lincah di kanca nasional, hal ini kuat terlihat setelah Habibie tidak lagi memimpin ICMI. Terasa ada sesuatu semangat yang hilang ketika itu, mungkin "icon" imtaq dan iptek melekat pada vigur Habibie. Akhirnya, realitas perjalanan ICMI dan geraknya pada muktamar ke IV di Makasar belum melahirkan hasil-hasil yang dipandang dan dirasakan langsung oleh umat. Orang-orang "tua" di ICMI pasca muktamar tidak terlihat geliatnya,  terlebih-lebih diberbagai wilayah dan daerah. Apakah ICMI mati suri?

 

Sebuah Revitalisasi atau Beban Sejarah

Ketika Iqbal Parewangi, bersilaturahmi dengan TiKWil sumut dan 17 TiKDa pada 13 Juli 2006 di LP3I Medan, Beliau menjelaskan kronologis  sejarah munculnya gagasan ICMI Muda, serta suasana deskriptif pertemuan Habibie, Muslimin Nasution (ketika itu menjabat ketua ICMI) dengan 10 inisiator yang dipelopori Iqbal. Saya menangkap antara pertemuan mereka sampai pembentukan hingga muktamar pertama, secara zhahiriyah ada kesan Iqbal dkk. mencoba ingin menjadi lokomotif  untuk menggerakkan ruh ICMI itu melaui kaum Muda.Tapi sayang, Iqbal tidak menguraikan bagaimana 10 deklator yang ia pimpin ini bisa berkumpul? Adakah tokoh lain di balik Iqbal? Sebab Iqbal duduk di  posisi Wakil Ketua Pengururs wilayah ICMI Orwil Sulsel, memunculkan pertanyaan adakah orang-orang di pusat yang melakukan komunikasi dan menggerakkan Iqbal untuk itu semua?

 Sekali lagi saya melihat dengan persepsi yang terbatas bahwa gerakan Iqbal dkk. sebenarnya muncul dari  sebuah keprihatinan, lalu diaktualisasikan dalam sebuah keinginan adanya wadahnya yang mampu menampung semangat kaum muda yang dapat membangkitkan kembali  "hasrat" kecendikiawanannya.

Jika ini benar, maka kita harus mendukungnya. Mengenai nama, kita serahkan pada muktamar, apakah itu nanti bernama ICMI Muda atau Forum Cendikiawan Muda ICMI, Forum Kader ICMI, Forum ICMI Muda. Bahkan sahabat-sahabat dari Sumatera Utara ada yang siap tidak membawa nama ICMI. Mengapa? Bagi mereka revitalisasi itu adalah ruh bukan raga. Raga (nama) memang penting, tapi jauh lebih penting adalah ruh (semangat kecendikiawanan). Apalah artinya nama ICMI dilekatkan jika semangat itu hanya pada tataran  nama--ICMI. Apapun namanya, asal ia diisi dengan semangat atau ruh maka nama itu bisa menjadi besar. Dengan kata lain, "bunga mawar itu, meskipun tidak bernama mawar ia akan tetap wangi."

Ada yang berpendapat lain, bahwa nama ICMI akan menjadi beban, karena selama ini ICMI terlahir pada masa Orde Baru, dan Habibie tercitra sebagai "murid" Soeharto, maka nama itu dapat menjadi penghalang bagi lajunya gerakan kecendikiawanan kaum muda Islam, menjadi beban sejarah. Saya pikir kekhawatiran akan menjadi beban sejarah, akibat cara berpikir kita selama lebih kurang 32 tahun dikoptasi oleh kekuatan yang bersifat sentralistik. Artinya, saya ingin mengatakan kepada Anda, bahwa marilah kita menghindari paradigma berpikir seperti itu. Mengapa? Karena gagasan pembentukan ICMI  ini bergerak dari bawah berdasarkan nlai-nilai silaturrahmi, bukan bergerak dari atas yang berdasarkan katabelece atau mandat.

Namun ada suatu hal yang harus dipertimbangkan dalam merekrut anggota, sehingga perlu dibuat kriteria rekrutmen untuk menjadi anggota. Pertimbangan ini perlu dikedepankan, karena belajar dari organisasi dan partai politik lain yang cenderung terkontaminasi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan terselubung. Sehingga citra sebuah wadah atau lembaga menjadi rusak.

Kriteria itu bisa gali dari  prinsip sifat-sifat Rasulullah saw. yang memiliki sifat: (1) Siddiq (jujur/transparan), nilai kejujuran merupakan indikasi seseorang itu objektif dan independen dalam menyikapi perbagai persoalan yang dihadapi umat. Nilai ini didorong dari "nawaitu" yang steril dari kepentingan yang bersifat materi. (2) Amanah (dapat dipercaya/kredibel), merupakan buah dari nilai-nilai kejujuran, orang yang tidak jujur, maka ia akan tidak dipercaya. Banyaknya perpecahan dikalangan umat karena memandang jabatan bukan lagi sebagai target antara, tapi sudah menjadi target akhir, artinya tujuan akhir yang ingin diperoleh adalah jabatan, konsekwensi logisnya, ia akan menghalalkan segalam macam pendekatan yang tidak santun. (3)Fathanah (cerdas/pintar), untuk mencapai tujuan yang baik, dibutuhkan kemampuan dalam mengelola strategi untuk mencapai tujuan, oleh karena itu kepintaran menjadi prasyarat mutlak menjadi seorang cendikiawan. Pintar disini tidak hanya diukur dari kemampuan Intellegentia Quetion; kecerdasan otak, tapi juga Emotional Question; kecerdasan emosi, dan semuanya tidak akan bermakna jika tidak diiringi dengan Spiritual Question; Kecerdasan Spiritual. (4) Tablig (menyampaikan/pembimbing), sebuah nilai-nilai yang tidak ditunggangi oleh kepentingan apa pun kecuali keridhaan Allah, tidak punya beban untuk tidak disampaikan, walaupun sesuatu yang disampaikan itu akan sangat berat bagi yang mendengarkannya.

Ketika saya melihat logo ICMI Muda berisi abstraksi kalimat tauhid, laailaha illallah dalam bentuk kaligrafi Kufi berbentuk lingkaran. Ada sebuah ketakjuban bagi saya yang mungkin bisa dijadika nilai-nilai filosofis bagi gerakan ICMI Muda untuk dapat membangkitkan semangat tauhid para kaum cendikiawan muda. Filosofis yang saya tangkap seperti ini: makna tiada Tuhan selain Allah, maksudnya kita jangan menjadikan ICMI Muda sebagai tempat ketergantungan kita, sebab itu bisa menjadi "ilah".  Logo itu ingin menegaskan, bahwa hanya Allah yang harus menjadi sandaran perjuangan ICMI Muda; ICMI Muda jangan dijadikan kenderaan untuk kepentingan individu, tapi semata-mata sebagai wadah untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.                Apakah nilai-nilai tauhid itu? Secara lebih dalam dan bermakna dapat dilihat dari penjabarannya melalui Asmaul Husna 99. Konkritnya, bagaimana wadah ini dapat menjadi arena bagi para cendikiawan muda untuk menggagas konsep-konsep besar yang akan ditawarkan kepada bangsa ini berbasis spiritualitas dari nilai Asmaul Husna itu sendiri. Misalnya, diantara 99 nama itu ada yang disebut, ar-Rahim; Maha Pengasih, nilai ini harus menjadi drive bagi kita untuk melakukan program-program ICMI muda kedepan, sehingga dengan mencontoh sifat pengasih-Nya--tentunya dalam batas kodrat diri manusia, maka akan memancarkan ruh spiritualitas bagi bangsa ini. Satu contoh lagi, nama Allah, al-Jami' ; Maha Menghimpun, mengumpul. Nilai ini yang harus mendorong kita bergabung dan berhimpun dalam ICMI Muda sehingga akan dapat menjadi perekat yang dahsyat bagi perjuangan ICMI Muda. Dan nilai-nilai prinsip Asmaul Husna yang lainnya, yang tentunya dapat para pembaca pahami. Subhanallah!

Masih dalam filosofis logo, kalimat tauhid berbentuk lingakaran atau lambang nol mengingatkan saya akan rumus 1 dibagi O menghasilkan nilai tidak terhingga. Satu (1) adalah mewakili tauhid, dan nol (0) adalah mewakili keikhlasan, maka gerakan ICMI Muda jika dilandasi rumus itu akan memperoleh hasil yang tidak bisa dibatasi pada jabatan, harta dan popularitas, bahkan dunia dan isinya tidak akan mampu menandingi kebesaran gerakan yang dilakukan dengan konsep tauhid. Subhanallah! Semoga Allah mencurahkan rahmadnya.

Ahmad Taufik Nasution, Penulis, Deklarator ICMI Muda Sumut
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >