" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow ICMI Muda Idealisme Kecendekiaan Versus Kepentingan politik
ICMI Muda Idealisme Kecendekiaan Versus Kepentingan politik Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Rabu, 21 Maret 2007

Oleh: Ahmadin

Beberapa hari belakangan ini, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) kembali menjadi top wacana di samping isu nasional penting lainnya. Betapa tidak, atas gagasan dan prakarsa beberapa tokoh muda asal Sulsel lalu membentuk dan telah mendeklarasikan ICMI Mudah. Komitmen kuat yang prospektif ini pun diterima dengan baik oleh barisan kaum muda ditandai sambutan yang cukup responsif. Hal ini dibuktikan oleh pendeklarasian organisasi baru ini yang tidak hanya berlangsung di Makassar, tetapi juga di beberapa kabupaten seperti Pangkep, Barru, Sinjai, Sidrap, Takalar, dan sejumlah kabupaten/kota lainnya.

Pertanyaan menarik yang perlu dicermati bersama sekitar pendirian dan deklarasi ICMI Muda, yakni mengapa harus terjadi separasi istilah antara kedua organisasi cendekia tersebut. Jika organisasi yang baru digagas ini disepakati keberadaannya, maka secara otomatis di Indonesia (atau Sulsel) akan dikenal ICMI Muda dan ICMI Tua. Bahkan tidak mustahil akan melahirkan kesan buruk di kalangan masyarakat, bahwa mungkin ada masalah internal ICMI yang fundamental sehingga harus pecah menjadi dua bagian. Karena itu, akan pergi ke mana ICMI Muda kiranya merupakan pertanyaan mendasar yang perlu dijawab sebelum Muktamar pada 21-23 Juni 2006 mendatang.

Untuk menilai orientasi ICMI Muda serta prospeknya tersebut, maka tentu saja upaya menemu-kenali karakter cendikiawan dan eksistensi ICMI adalah prasyarat utama. Hal ini penting mengingat bahwa deskripsi singkat tentang kiprah ICMI secara historis, akan membantu upaya evaluasi kita dalam menentukan perlu atau tidaknya kehadiran ICMI Muda. Bahkan akan diperoleh sebuah perbandingan komparatif antara efektivitas ICMI Tua yang telah menunjukan kiprahnya dan ICMI Muda dalam mengakumulasi segenap aspirasi kecendekiaan baru yang di gagasnya.

Karakter Cendekiawan

Edward Shils di tahun 1980 telah mengintrodusir secara klaster-universal tentang siapa sesungguhnya cendekiwan itu. Bahkan telah menguraikan macam dan motifnya, lembaga dan tradisinya, sumber kebutuhannya, serta peran dan tanggung jawabnya. Meskipun demikian, hingga kini masih tampak adanya kecenderungan orang memberikan definisi masing-masing berdasarkan sudut pandang yang digunakan dan tujuan yang dicita-citakan.

Cendekiawan secara umum diartikan sebagai orang yang karena pendidikannya, baik formal, informal, maupun non formal, mempunyai perilaku cendekia. Ciri cendekia ter-refleksi-kan melalui kemampuannya dalam menatap, menafsirkan, dan merespon lingkungan hidupnya dengan sifat dan sikap kritis, kreatif, objektif, analitik, dan bertanggung jawab. Atas dasar seperti itulah sehingga cendekiawan sering dianggap sebagai seseorang yang memiliki wawasan dan pandangan yang luas, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dalam versi lain Ahmad W Praktiknya melalui buah penanya Anatomi Cendekiwan Muslim, menggambarkan bahwa ciri cendekiwan muslim disamping mempunyai kualitas perilaku cendekia, juga dilengkapi iman dan senantiasa committed pada Dinul Islam sebagai pandangan hidupnya. Dalam bahasa Al-Qur’an sifat-sifat cendekiawan dikenal dengan istilah Ulul-Albab. Pertama, cendekiawan adalah mereka yang mampu menatap dan menafsirkan tanda-tanda atau ayat kekuasaan Allah di balik penciptaan alam semesta sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an (Surah Ali-Imran: 190-191).

Kedua, cendekiawan muslim adalah mereka yang memiliki kearifan (Al-Hikma) atau wisdom dalam menatap, menafsirkan, dan merespon persoalan yang muncul dalam kehidupannya, baik bersifat individual maupun menyangkut kepentingan masyarakat dan kemanusiaan. Kearifan dalam hal ini disertai oleh tanggung jawab penuh yang dihadapkan kepada Allah. Dalam mengaruniakan al-hikmah Allah bersifat selektif sebagaimana  firmanNya: “Dialah Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh ia telah menerima kebaikan yang melimpah. Dan tidak ada yang mengerti kecuali golongan Ulul-Albab (Q-S Al-Baqarah: 269).

Melalui kedua ciri dan perilaku cendekia itu, dapat dipahami bahwa ultimate goal dari eksistensinya adalah tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Kearifan yang harus dipertanggung jawabkan inilah pada gilirannya akan menghasilkan kebaikan yang melimpah (Khairan Katsira). Selain itu, penekanan nilai tanggung jawab seorang cendekia sekaligus berfungsi sebagai pembeda dengan manusia lain.

Kiprah ICMI dalam Sejarah

Membahas cendekiawan muslim dalam konteks keindonesiaan, tentu mengacu pada keberadaannya. Sebagai seorang Indonesia yang telah hidup berbaur dengan berbagai keadaan yang dihadapi bangsanya. Sejak berdirinya 7 Desember 1990 sebagai organisasi yang menghimpun cendekiawan, ICMI secara historis telah memberi kontribusi penting dalam perkembangan politik Islam terutama dalam kurun dekade ini. Selama kurun waktu tersebut para braintrust dan aktivitasnya, telah berhasil mengawinkan secara kolaboratif IMTAQ (Iman dan Taqwa) dan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan Teknologi). Karena itu, wajar jika gagasan cemerlang ini menyebabkan ia tampil menempati posisi penting dalam masyarakat.

Gebrakan kultural berdimensi Islam ini, juga tercatat telah berhasil memudarkan secara gradual kecenderungan negara mencurigai Islam. Hal ini ditandai olah lahirnya gerakan akomodasi baik menyangkut persoalan struktur, kultural maupun peraturan perundang-undangan. Bahkan lebih jauh di berikan dispensasi bagi perbankan Islam untuk beroperasi dan undang-undang peradilan agama pun disahkan. Berbagai bentuk akomodasi kepentingan Islam yang dilakukan sebagai wujud kebijakan negara terhadap salah satu agama mayoritas Indonesia, sungguh merupakan angin segar bagi pertumbuhan organisasi ini.

 

 

Kepentingan Politik

Terlepas dari munculnya kekhawatiran akan prospek ICMI karena persoalan pemimpin atau justru sikap optimis akan perkembangan organisasi cendekia ini ditangan Marwah Daud Ibrahim, akan tetapi perihal yang menyisakan masalah adalah akan dibawa ke mana ICMI di tangan barisan muda. Pertanyaan bernada khawatir akan prospek ICMI dengan penggunaan dua nama tersebut, akan dihubungkan dengan beberapa statement analitik berikut ini.

Pertama, pembentukan ICMI Muda dengan segenap aktivitas terpisah meski tetap berpedoman pada ideologi utama ICMI dalam tataran praktisnya dikhawatirkan (semoga tidak) akan melahirkan dua wujud dan wajah yang saling berbeda. Dalam posisi seperti ini biasanya harus ada diantara keduanya yang dikorbankan, dan umumnya adalah pihak yang tua (lama). Hal ini dipahami mengingat bahwa emage yang kadang muncul adalah kata reformis dan visioner selalu diletakkan pada peran kaum muda, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa yang tua (lama) pun telah menunjukkan kiprahnya.

Kedua, pembentukan ICMI Muda dengan sengaja atau tidak telah membentang emage beragam tentang eksistensi organisasi yang menghimpun kaum cendekia ini. Meski BJ Habibi, Marwah Daud, serta sederet tokoh ICMI Muda tersebut, namun apakah telah terpikirkan bakal adanya efek ganda yang ditimbulkan. Sebut saja rivatilitas dalam meraih popularitas, tentu adalah sebuah kenyataan yang sulit dihindari terutama jika ada sejumlah target dan tujuan berbeda yang akan dicapai.

Ketiga, proses kelahiran ICMI Muda di tanah Celebes ini terjadi saat wacana tentang siap figur ideal untuk memimpin Sulsel periode berikutnya mulai diperdebatkan (dipromosikan) melalui media. Bahkan tatkala gagasan untuk mendeklarasikan organisasi cendekia ini digulirkan, spontan para politisi dan aktivis parpol pun menyambut baik serta menyatakan diri bergabung di dalamnya. Tampaklah ICMI Muda bak bola liar yang diperebutkan sebagaimana kita lihat bahwa ia telah di jemput secara bersemangat di berbagai daerah.

Ketiga uraian yang menunjukkan adanya sejumlah kekhawatiran akan prospek ICMI tersebut, menarik untuk didiskusikan bersama. Sebab jika kembali pada ideologi dan defenisi cendekiawan, kita akan dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar yakni apakah untuk sebuah perjuangan menunjukkan kiprah kecendekiawan kita (kaum muda) mutlak harus membentuk wadah baru. Jika hal ini harus disepakati, maka mengapa harus menggunakan popularitas ICMI padahal rasionalnya bahwa jika kaum muda memang memiliki komitmen kuat yang visioner untuk menunjukkan kepiawaian mereka seharusnya memulai itu semua dari awal dengan organisasi berbeda. Misalnya, Komunitas Cendekiawan Muslim Muda (KCMM), Masyarakat Cendekiawan Muslim Indonesia (MCMI), dan sejumlah nama lainnya bermark-kan cendekiawan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kita pada keinginan kuat barisan kaum muda untuk menunjukkan kecendekiaan mereka melalui organisasi baru yang dibentuknya, maka untuk meng-counter lahirnya emage negatif, diperlukan sebuah definisi operasional tentang ICMI Muda. Bahkan hal ini akan menepis anggapan keliru banyak orang akan bertahtanya kepentingan politik dalam organisasi ini, karena bukannya di lingkungan akademik dibicarakan tetapi justru di lingkungan aktivis parpol. Mampukah idealisme kecendekiaan mensterilkan dirinya dari dominasi kepentingan politik dan akan ke mana ICMI Muda, itulah pertanyaan yang membutuhkan jawaban jujur.    

Ahmadin, Dosen Sejarah UNM Makassar
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >