" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow ICMI Muda dan ICMI ?Tua? Bersinergilah
ICMI Muda dan ICMI ?Tua? Bersinergilah Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Rabu, 21 Maret 2007

Oleh : Azwar Hasan

Sejarah mencatat, bahwa latar belakang lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)  adalah berkat perjuangan sekelompok anak muda/mahasiswa angkatan 1987 dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur. Mereka adalah Erik Salman, Ali Mudakir, Muhammad Zaenuri, Awang Surya, dan Muhammad Iqbal.

Bermula dari diskusi kecil awal Februari 1990 di Mesjid Kampus Universitas Brawijaya, dimana sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondisi ummat Islam yang semakin asyik dengan masing-masing kelompoknya sendiri-sendiri. Mereka pun bertekad mempertemukan sejumlah cendekiawan untuk mencari solusinya, dengan cara menghadirkannya dalam sebuah symposium.

Dalam pada itu, mereka pun menemui Imaduddin Abdul Rachim dan M Dawan Rahardjo di Jakarta yang kemudian keduanya mendukung gagasan mereka, dan menyarankan meminta kesediaan Emil Salim untuk turut serta menjadi pendukung utama. Namun ketika Emil Salim ditemui, beliau menyarangkan B.J Habibie terlebih dahulu dimintai dukungannya.

Enam bulan kemudian, tepatnya 23 Agustus 1990, kelima anak muda tersebut, ditemani Imanuddin, Dawam, dan Syafi’i Anwar, menemui Habibie, sekalipun meminta untuk memimpin perhimpunan cendekiawan yang akan dibentuk. Secara pribadi, Habibie tidak berkeberatan, tetapi sebelumnya beliau merasa perlu berbicara dahulu dengan Presiden Soeharto, dan menharapkan agar para mahasiswa tersebut, membuat daftar cendekiawan yang mau mendukung gagasan mereka. Dalam waktu singkat, berkat kerja keras, kelima mahasiswa tersebut   berhasil mendapatkan 49 tanda tangan cendekiawan yang berkualifikasi doctor dan professor.

Bertepatan 27 September 1990 di kediaman B.J Habibie, gagasan membentuk ICMI meretas. Pada kesempatan itu pula, BJ Habibie menyatakan bahwa Presiden Soeharto mendukung, serta merestuinya untuk memimpin ICMI. Rencana pun diatur, untuk perhelatan akbar grand launching ICMI bertepatan 6-8 Desember 1990 di Student Center, Universitas Brawijaya Malang Jawa Timur, dengan tema “Simposium Nasional Cendekiawan Muslim : Membangun Masyrakat Indonesia Abad XXI”. Peristiwa akbar tersebut, sekaligus dikenang sebagai Muktamar I ICMI dimana Prof Dr Ing BJ Habibie terpilih sebagai ketua umum. Dalam Muktamar itu, sulawesi Selatan turut mendapat kehormatan dengan menhadirkan Prof Dr Halide, selaku cendekiawan senior.

Pada akhirnya, kehadiran ICMI mendapat respons yang sangat antusias di seantero nusantara, meskipun ada satu dua tokoh ummat Islam yang belum bersetuju dengan penamaan ICMI. Namun demikian, suara-suara kontra tersebut akhirnya tenggelam dalam gemuruh ombak aktivitas ICMI yang tak terbendung. Sepak terjang ICMI dengan cita-cita mulianya yang dikenal dengan sebutan 5 K, yakni peningkatan kualitas iman, kualitas hidup, kualitas bekerja, kualitas berkarya, dan kualitas berpikir Bangsa Indonesia, semakin membahana.

ICMI sebagaimana layaknya organisasi besar lainnya, juga tak lepas dari pasang surut. Masa pasang ICMI di era Habibie sempat berada dalam kegemilangan dan sesudahnya, hingga saat ini, kegemilangan tersebut seolah sayup-sayup mulai menuju keburaman. Keburaman itu terjadi seiring dengan menysutnya peran strategis Habibie dan elite ICMI lainnya.

Dalam situasi buram tersebut, mencuat geliat dari kalangan yang menklaim diri sebagai ICMI Muda untuk kembali menonjolkan supremasi peran ICMI sebagaimana yang telah diukirnya dalam perjalanan anak Bangsa. Memang, terasa dalam lima tahun terakhir ini, ICMI seolah absen dari denyut nadi dinamika pergumulan persoalan keummatan. Sebut saja misalnya tentang agenda penegakan syriat Islam denagn segala problematikanya, peran strategis ICMI nyaris tak terdengar suaranya. Padahal, masalah penegakan syari’at Islam membutuhkan keterlibatan kelompok strategis ummat, khususnya dari kalangan terdidik semisal ICMI.

Olehnya itu, ketika komunitas ICMI Muda mencuat untuk mengeksiskan diri pada forum Muktamar ICMI di Makassar beberapa waktu lalu, barbagai kalangan langsung meresponnya. Hal itu sangat boleh jadi karena masih bercokolnya harapan agar ICMI kembali Leading dalam main stream dinamika problematika keummatan.

Akan tetapi sangat disayangkan, karena kehadiran ICMI Muda di tubuh ICMI ‘Tua’ tidak berpautan dan berkesesuaian. Ada kendala struktural berupa patokan pedoman berorganisasi yang harus dipatuhi, dimana di lingkungan ICMI tidak dikenal istilah ICMI Muda. Di kalangan aktivis ICMI, sudah ada majelis sinergi kalam (MASIKA) semacam atau padanan ICMI Muda. Kesemuanya itu sudah diatur dalam konvensi keorganisasian. Maka tak pelak lagi, pedoman organisasi tersebut laksana tembok Berlin (sebelum diruntuhkan) yang memisahkan sebuah kesatuan menjadi dua bagian. Akhirnya, keterbelahan potensi. Pertanyaan pun bermunculan: ada apa dengan ICMI ‘Tua’? Mengapa ICMI Muda ngotot berjalan sendiri? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang belum sempat terlontar, tetapi butuh jawaban.

Namun bagi penulis pribadi, ada sebuah gelitik pertanyaan yang cukup menggelisahkan, yaitu apakah status kecendekiawanan harus terkurung dalam format baku keorganisasian yang seolah telah menjadi sakral untuk ditaati? Sementara disisi lain, bagi ICMI Muda yang saat ini masih sedang begitu bersemangatnya mengaktualisasikan identitas kecendekiawanannya, tampak seolah masih belum bisa melepaskan diri dari pengaruh nama nesar ICMI. Sebegitu epigonistikkah mereka selaku cendekiawan ?

Jika memang dengan nama ICMI sebagai pilihan dengan komitmen final, maka tentunya akan ada kompromi demokratis dengan segala konskuensinya yang tentunya tetap menghormati sikap kedua belah pihak (antara ICMI Muda dan ICMI ‘Tua’) untuk tetap berada pada garis konsistensi. Tetapi alangkah bijaknya jika kemudian titik kompromi dibangun dalam bingkai makna kata mengalah dan mengerti. Tetapi siapa yang harus mengalah dan siapa yang harus mengerti? Itulah masalahnya, sehingga akan sulit menjalin kesepahaman. Akan lebih muda jadinya, jika masing-masing mengambil sikap mengalah dan mengerti sekaligus demi kebaikan bersama (win-win solutions).

Tetapi tak ada salahnya jika saja sekiranya yang muda lebih dahulu memulai sikap mengalah dan mengerti sebagai sikap penghormatan kepada yang tua. Bukankah kelima anak muda penggagas lahirnya ICMI sarat dengan sikap penuh hormat dengan mendahulukan saran dan pertimbangan pihak yang tua? (Baca sejarah lahirnya ICMI). Namun, jika saja sekiranya hal tersebut tidak dapat terwujud, sehingga justru situasi oposisi biner yang mengemuka, maka akan lebih elegan jika kemudian ICMI Muda menanggalkan nama ICMI untuk melanjutkan misi dan eksistensinya selaku komunitas cendekiawan muda Islam. Bukankah William Shakespeare pernah berkata; what is the name ? why not?

Terhadap ICMI Muda dan ICMI ‘Tua’ perlu kiranya merenungkan kata-kata Mohammad Hatta ketika berbicara di Universitas Indonesia pada tahun 1957. Beliau mengatakan bahwa dalam segala hal, kaum intelengensia tidak bisa bersikap menyerahkan segala-galanya kepada mereka yang kebetulan menduduki jabatan yang memimpin dalam Negara dan masyarakat. Kaum intelengensia adalah bagian daripada rakyat. Ia ikut serta bertanggung jawab tentang perbaikan nasib bangsa secara intelektuil dan moril. Intelektuil karena mereka dianggap golongan mengetahui, dan secara moril karena mengenai keselamatan masyarakat. Bagi Hatta, kaum intelengensia memilki kemampuan untuk menguji yang benar dan yang salah dengan pendapat beralasan, berdasarkan ilmunya, dimana ilmu secara intrinsik tak terlepas dari nilai-nilai moral.

Nah, bapak-bapak yang di ICMI ‘Tua’ dan saudara-saudara saya yang di ICMI Muda, sudahkah menimbang dan menguji sikap masing-masing dengan pendapat yang beralasan berdasarkan ilmu sebagaimana nasihat Mohammad Hatta tersebut? Saya tunggun hasilnya. Wallahu a’lam bisshawab.**

Azwar Hasan, Dosen Fisip Unhas, Ketua KPID Sulawesi Selatan

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >