" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Rubrik arrow Artikel arrow Refleksi Menuju 80 Tahun Sumpah Pemuda dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 30 Juni 2007

 Prawacana Dialog Generasi (Bagian-2):

Refleksi Menuju 80 Tahun Sumpah Pemuda

dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional

AM Iqbal Parewangi

(Ketua Presidium ICMI Muda Pusat)

Bagaimana memandang Sumpah Pemuda dalam konteks kekinian?

Sebagai produk sebuah kesadaran kolektif, Sumpah Pemuda melintasi imajinasi zamannya. Ia tercetus 17 tahun sebelum Indonesia merdeka, ketika jarak waktu belum dapat disingkatkan seperti sekarang. Ketika waktu masih dimolorkan oleh jarak-ruang, jarak-psikologis, jarak-kesadaran, dan jarak-informasi. Belum ada jet pelintas batas ruang. Belum ada prosesor pelintas batas informasi berkecepatan giga-hertz. Belum ada semua hal seperti sekarang yang memungkinkan dilakukan time dilation atau pemendekan jarak-waktu.

Menariknya lagi, ketika itu tidak ada jaminan bahwa apa yang dilakukan oleh para pemuda 1928 itu akan memiliki muara sejarah yang jelas, dan juga mulia. Satu-satunya jaminan adalah keyakinan. Sekarang kita tahu muara itu, dan arti keyakinan itu. 200 juta lebih manusia Indonesia kini dengan aman dan nyaman mendiami wilayah berdaulat yang diakui dunia internasional. Wilayah yang dulu oleh Sumpah Pemuda diberi pagar-pagar ideologis.

Gema nyaring Sumpah Pemuda masih terus berdentang dan mendentangkan imajinasi sebagian generasi masakini. Dikatakan sebagian, karena tidak semua. Tetapi tetap menarik ditelisik pertanyaan, mengapa gema Sumpah Pemuda mampu terus bertahan? Pertama, berisi gagasan jernih, jujur, cerdas, dan lugas, yang diungkapkan secara jernih, jujur, cerdas, dan lugas pula. Pemuda 1928 berhasil menangkap roh terpenting dari realitas zamannya, lalu mengekspresikan itu dalam sebentuk Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda, dengan kata lain, merupakan jeritan zaman. Kedua, gagasan itu melintasi imajinasi zamannya.

 

Bagaimana dengan peluang kesejarahan pemuda sekarang?

Tahun 2008 mendatang genap 100 tahun momen kebangkitan nasional, sekaligus 80 tahun Sumpah Pemuda. Secara resultantif, 2008 seharusnya menjadi momen penting bagi pemuda untuk memprakarsai sebuah kebangkitan baru.

Kita tahu, momen 1908 menyemaikan cita-cita kemerdekaan, 1928 mempertegas bingkai cita-cita itu, 1945 memancang tonggak perwujudan cita-cita itu. Pertanyaannya, momen 2008 akan menyemai apa, mempertegas apa, dan mewujudkan apa?

Kita juga tahu, Sumpah Pemuda 1928 ditandai oleh semangat untuk secara sadar dan cerdas mencita-citakan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Indonesia. Menuju momen 80 tahun Sumpah Pemuda, pertanyaannya, pemuda 2008 mencita-citakan apa untuk Indonesia?

Dua pertanyaan beruntun tersebut untuk pemuda, menjawabnya pun seharusnya oleh pemuda. Tetapi apapun jawabannya, jawaban itu harus mampu mendorong sebuah kebangkitan baru, kebangkitan Indonesia abad 21, kebangkitan sesuai semangat dan karakter zamannya. Itu peluang kesejarahan yang langka. Peluang untuk meresultansikan dua kekuatan utama sejarah: pemuda dan kebangkitan. Sesungguhnya, itu peluang untuk menciptakan sejarah.

Saya hindari istilah “kebangkitan kembali”. Selain berpotensi ambigu secara historis, istilah itu menyiratkan pelecehan, terhadap generasi pendahulu, kini, dan mendatang. Kecuali jika terpaksa disepahami bahwa yang terjadi kini adalah sebentuk keruntuhan, dan keruntuhan itu merupakan hasil persekongkolan lintas generasi. Tetapi itu keterpaksaan yang konyol. Saya lebih memilih istilah “kebangkitan baru”.

 

Apakah itu berarti 2008 akan menjadi momen romantisme generasi?

Tentu saja tidak. 2008 tidak untuk sebuah romantisme, atau sebuah seremonial generasi. Momen 2008 akan menjadi momentum pemancangan generasi baru bangsa. Generasi dengan semangat dan karakter zamannya sendiri, yang jauh berbeda dibanding 100 atau 80 tahun lalu.

Momentum itu perlu disiapkan. Dalam bahasa manajemen waktu, kita bukan lagi hanya bergerak menuju ke sana, ke 2008. Kita harus membawa 2008 itu ke sini. Jadi ada percepatan berwaktu. Karena jika dihitung dari sekarang, dua tahun tersisa sudah sangat kasip. Tetapi, toh, tidak sedikit perubahan terjadi secara kasip.

 

Apa yang perlu disiapkan untuk itu?

Pertama yang terpenting, pemetaan kesamaan dan perbedaan fundamental yang menandai fase-fase kebangkitan generasi bangsa ini dalam seabad terakhir. Itu akan melengkapi acuan bagi perumusan secara komprehensif peran pemuda menuju kebangkitan Indonesia abad 21.

Harus diakui, perumusan tersebut belum pernah benar-benar memadai secara substansial. Hampir setiap upaya untuk itu berangkat dari pemetaan yang tidak memadai, hasilnya pun tak memadai.

Termasuk yang dilakukan oleh pemuda sendiri. Seringkali terjadi, pemuda berkumpul bicara tentang perumusan peran generasi muda untuk bangsa ini, tetapi sesungguhnya yang dibicarakan hanyalah bagaimana mereka mendapat peluang untuk menetek dan mencantol pada senior-senior yang sudah mapan. Ini sangat merusak. Kita saksikan, lahir banyak generasi muda penetek. Kemana-mana cari cantolan, dimana-mana menetek, dan ironisnya, mereka lakukan itu sambil meneriakkan jargon-jargon kemandirian dengan begitu fasih tanpa risih.

Berguru pada sejarah, itu wajib. Melakukan mimikri secara kritis, kreatif dan produktif, sambil meneropong masadepan, itulah sejarah. Menjaga kontinuum peran antar-generasi, itu harus. Tetapi hanya menetek dan mencantol pada senior, itu aib.

 

Kembali pada pemetaan kesamaan dan perbedaan fundamental antar-generasi, bagaimana itu?

Pemetaan itu akan lebih menekankan dua terminologi penting, yaitu “peran berkesinambungan” dan “eksplorasi peran”.

Setiap generasi mengembangkan perannya masing-masing. Peran itu berbeda, sesuai semangat dan karakter zamannya. Generasi 1908 meletakkan pondasi bangunan nasionalisme bagi bangsa ini. Generasi 1928 meneguhkan muara perjuangan menuju Indonesia yang satu dan bersatu: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Generasi 1945 mendobrak pintu gerbang kemerdekaan. Generasi 1966 mengembalikan bangsa ini ke jalur khitah kesejarahannya.

Secara sendiri-sendiri, setiap generasi memainkan perannya secara menarik dan heroik. Menariknya lagi, seluruh peran-peran itu secara bersama membentuk “peran berkesinambungan”, dalam arti satu peran dengan peran lainnya tidak saling lepas. Peran generasi 1928 menjangkar pada peran generasi 1908, dan sebelumnya. Peran generasi 1945 mustahil terwujud tanpa kehadiran generasi 1928, generasi 1908, dan sebelumnya. Peran generasi 1966 tidak pernah ada tanpa adanya kemerdekaan. Begitu pun, peran generasi sebelumnya mengilhami generasi yang datang belakangan. Semua saling terpaut dalam suatu jalinan “peran berkesinambungan”.

Namun perlu buru-buru ditambahkan, bahwa selain mengemban tanggungjawab terhadap bergulirnya “peran berkesinambungan”, setiap generasi juga memiliki ruang “eksplorasi peran” sesuai semangat dan karakter zamannya. Perpaduan saling menguatkan, dalam istilah fisika disebut interferensi maksimum, antara mengemban “peran berkesinambungan” sekaligus mengembangkan “eksplorasi peran”, merupakan ciri penting dari setiap fase kebangkitan generasi. Termasuk pada bangsa ini dalam seabad terakhir.

 

Kesamaan-kesamaan fundamentalnya?

Dari pemetaan terhadap perpaduan “peran berkesinambungan” dan “eksplorasi peran”, ditemukan setidaknya tiga kesamaan fundamental.

Pertama, setiap fase kebangkitan generasi memiliki semangat dan karakter zamannya sendiri. Bagaimana semangat dan karakter setiap zaman, berikut tantangan dan peluang khasnya masing-masing, itu yang berbeda-beda.

Kedua, setiap fase kebangkitan generasi dibangun oleh sekaligus membangun sebentuk triumvirat kesadaran. Yaitu, perpaduan kesadaran historis, kesadaran realistik, dan kesadaran futuristik. Triumvirat bermakna segitiga utuh. Satu sisi saja tidak ada, bukan lagi triumvirat. Apalagi jika sisinya hanya ada satu. Kesadaran historis semata akan melahirkan romantisme. Hanya ada kesadaran realistik akan melahirkan pragmatisme. Sementara, dengan kesadaran futuristik semata, yang lahir para pemimpi.

Ketiga, pada setiap fase kebangkitan generasi, pemuda selalu tampil dengan dua peran menonjol. Terhadap lingkungannya, ia berperan sebagai katalisator bagi percepatan perobahan. Sebagai katalisator kebangkitan. Terhadap dirinya sendiri, ia melakukan proses autopoietik, meminjam istilah dalam biomolekuler yang berarti “membuat diri sendiri”. Dua peran itu tidak saling terisolasi satu sama lain, tetapi juga tidak sama, apalagi saling menggantikan. Ada sifat permeabilitas diantara dua peran itu yang membuat satu sama lain saling terpisah, dan pada saat yang sama saling mengalirkan energi.

Dalam masing-masing kesamaan tersebut, terdapat perbedaan-perbedaan fundamental yang menegaskan ciri peran masing-masing generasi, sekaligus mencirikan generasi itu sendiri.

 

Bagaimana perbedaan-perbedaan fundamental itu?

Fokusnya kita pertajam pada perbedaan semangat dan karakter zaman yang mengakibatkan triumvirat kesadaran berbeda secara menonjol antara generasi abad 20 dan sekarang.

Basis kesadaran historis setiap generasi bangsa ini dalam seabad terakhir sama, yaitu: kesatuan wilayah dan keragaman sosial-budaya. Yang berbeda adalah semangat dan karakter zaman yang membentuk kesadaran realistik dan kesadaran futuristik kita. Itu menjadi penting, karena akan sangat mempengaruhi cara pandang dan cara bersikap kita terhadap hambatan, tantangan, dan peluang yang disodorkan dalam cawan zaman abad 21 yang terus menggelegak dan berubah secara cepat.

Karakter abad 20 berbasis pada pertanian dan industri. Dalam istilah Alvin Toffler, gelombang pertama dan gelombang kedua. Yang pertama mengandalkan kemurahan hati alam, dengan sumber daya melimpah dan murah. Yang kedua, industri, mengacu pada kemampuan mengeksploitasi alam. Industri membuat alam dengan cepat menjadi tak murah hati, dengan sumber daya semakin langka dan mahal.

Tampak berbeda. Tetapi menarik, baik pertanian maupun industri sama-sama merujuk pada sumber sekaligus muara yang sama, yaitu alam. Karakter sumber daya alam adalah terduga, tertakar, dan terbatas. Karakter itu mewarnai kesadaran realistik dan kesadaran futuristik abad 20. Mewarnai cara pandang dan cara bersikap di abad 20. Juga menjadi warna asli dari hambatan, tantangan, dan peluang di abad 20 lalu. Semua relatif serba terduga, tertakar, dan terbatas.

Karakter abad 21, sebaliknya, tak-terduga, tak-tertakar, dan tak-terbatas. Sebenarnya karakter itu sudah mulai terbentuk pada kwartal terakhir abad 20, seiring ditemukannya microchip, fiber optic, dan berbagai piranti pendukung revolusi informasi. Karakter abad 21 itu merupakan konsekuensi logis tak terelakkan dari bawaan asli era informasi, yang oleh Toffler disebut gelombang ketiga.

Karakter tersebut menjadi warna asli hambatan, tantangan, dan peluang di abad 21. Serba tak-terduga, tak-tertakar, dan tak-terbatas. Contoh dekat, sikap sebagian remaja kita. Semakin dipenuhi kejutan demi kejutan, tak jarang di luar takaran bahkan di luar batas-batas nilai-nilai sosial maupun spiritual. Banyak orangtua kelabakan. Muncul injeksi kesadaran baru, “orangtua tidak dilahirkan untuk jadi satpam anaknya.” Orangtua dan anaknya dipertemukan dalam sebentuk ironi zaman yang tidak dikenal sebelumnya. Tetapi, pada saat yang sama, peluang untuk perbaikan generasi juga semakin terbuka luas. Remaja dengan cepat terjauhkan dari perangkap “seperti katak dalam tempurung”. Dengan chatting, mereka perluas pergaulan melampaui batas-batas sosial dan negara. Melalui sms atau e-mail, mereka dapat berkomunikasi langsung dengan ikon-ikon kecerdasan dan kearifan zaman, seperti BJ Habibie dan Quraish Sihab. Singkatnya, peluang untuk perbaikan generasi dan untuk bunuh diri generasi, berkembang sama cepat mengikuti perkembangan zaman yang berkarakter tak-terduga, tak-tertakar, dan tak-terbatas.

Karakter tersebut merobah cara pandang dan cara bersikap kita. Contohnya, hingga generasi 1980-an, gagasan nation state masih dominan mewarnai. Cara pandang dan bersikap kita, dari politik sampai beragama, bisnis sampai berkesenian, terpagari kokoh oleh batas-batas negara. Tetapi, setelah 1980-an, semua berobah cepat. Dinding-dinding nation state bocor di sana-sini, mengiringi runtuhnya Tembok Berlin. Aura nasionalisme dengan cepat memudar. Negara-negara berobah jadi seperti sekumpulan RT dan RW di dalam sebuah global village (desa global) bernama dunia.

Global village itu menuntut kepada kita cara pandang dan bersikap yang bukan hanya harus berbeda dari sebelumnya. Tetapi, juga harus penuh kemungkinan. Kemungkinan yang tak-terduga sekalipun, tak-tertakar, dalam jumlah tak-terbatas, sekaligus tak-terbatasi oleh kelaziman.

Patut dicatat. Inilah pertama kali terjadi dalam sejarah, sebuah karakter zaman lahir, tumbuh, dan mencapai kematangan, hanya dalam tempo kurang dari dua dasawarsa! Dalam tempo sesingkat itu, karakter zaman yang serba terduga, tertakar, dan terbatas, bermetamorfosa secara radikal menjadi serba tak-terduga, tak-tertakar, dan tak-terbatas.

 

Implikasinya terhadap generasi sekarang?

Itu sangat penting, implikasi kekinian dan kedi-sinian. Maka sekaligus sebagai kesimpulan, kita coba tarik dua aras penting dalam perbincangan ini untuk bermuara pada bagaimana perumusan peran generasi muda Indonesia abad 21.

Pertama, menuju momen 80 tahun Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda 1928 memadai untuk zamannya, tapi tidak lagi memadai untuk zaman kini. Indonesia bukan lagi sekadar cita-cita, tetapi sudah merupakan realita. Cita-cita memberi semangat, realita butuh “cita-cita baru”. Cita-cita baru yang bersemangat mempersatukan sekaligus merekahkan. Realita itu sudah ada, bernama Indonesia, buah dari cita-cita para pemuda pendahulu. Sekarang Indonesia butuh cita-cita baru, untuk mempersatukannya, sekaligus untuk merekahkannya dalam sebuah realita baru bernama global village—tidak tempatnya diurai di sini bahwa global village itu pada saatnya juga akan menjadi sebuah realita, dan membutuhkan cita-cita baru.

Mungkin perlu sumpah baru, atau sumpah diperbaharui. Atau, mungkin tidak perlu sumpah samasekali. Tetapi substansinya bukan pada ada atau tidak ada sumpah.

Cita-cita baru pemuda pembuka abad 21, pertama, harus menangkap jeritan zamannya. Menangkap roh terpenting dari realitas abad 21. Kemudian memformulasikan itu dalam sebentuk cetusan yang jernih, jujur, cerdas, dan lugas, ditambah harus bersemangat lintas batas. Lalu, mengungkapkan cetusan itu juga secara jernih, jujur, lugas, dan cerdas, dengan semangat lintas batas.

Substansi kedua, cetusan itu tidak lagi cukup sekadar berdaya melintasi imajinasi zamannya, tetapi juga harus berdaya menciptakan “kuadran zaman baru”. Kuadran itu sangat penting bagi Indonesia kini dan ke depan. Jika tidak, cetusan itu mungkin dapat menelorkan sebuah Indonesia baru dibanding Indonesia 80 tahun lalu, tetapi Indonesia baru itu tetap saja lama di tengah dunia yang terus memperbaharui diri dengan cepat. Tidak perlu terus diperbanyak kasus, seperti, bahwa dulu Malaysia mengimpor guru dari Indonesia, dan sekarang “gaji guru besar di Indonesia lebih kecil dari gaji buruh kasar di Malaysia”.

Salah satu pilar penting dalam kuadran zaman baru itu adalah kesadaran bottom-up. Jika ke depan pemuda masih terus hanya mengembangkan pola-pola kepatuhan top-down, sambil berharap untuk menetek dan mencantol, maka tidak akan pernah ada Indonesia baru. Yang mungkin ada adalah Indonesia yang menetek.

Alhasil, jika kita pemuda pembuka abad 21 berhasil menangkap “jeritan zaman” dan menciptakan “kuadran zaman baru”, kita akan memiliki apa yang pada awal perbincangan ini saya sebut “peluang kesejarahan yang langka”. Peluang untuk menciptakan sejarah berkarakter zamannya, dengan kekuatan “cita-cita baru” yang berenergikan “jeritan zaman” dan penciptaan “kuadran zaman baru”.

Kedua, menuju momen 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Kebangkitan nasional pada pembuka abad 20, oleh generasi 1908, ditetaskan di tengah-tengah cengkeraman penjajahan. Mungkin yang terpenting dari dan bagi mereka bukanlah arah dan muara, tetapi ghirah dan gairah. Karena apa arah dan muara dari kebangkitan 1908 itu, ketika itu masih sangat tidak jelas. Tetapi mereka digerakkan oleh ghirah dan gairah, maka mereka menjadi pencipta sejarah.

Tantangan dan peluang bagi momen kebangkitan nasional 2008, hampir sama sekaligus berbeda. Sama-sama dalam cengkeraman penjajahan. Tetapi berbeda motif, modus dan gaya penjajahannya. Bukan lagi mengokupasi wilayah secara fisik dan langsung. Tetapi me-remote melalui jejaring ekonomi global, melalui sketsa politik internasional, melalui gurita informasi, dan melalui destruksi moral generasi. Pelakunya bukan lagi Portugis atau Belanda, tetapi oleh konsorsium-konsorsium global beranggotakan lintas negara dan lintas benua.

Kesamaan lainnya, pada arah dan muara. Dulu tidak jelas, kini tidak pasti. Perobahan serba super-cepat pada abad 21 membuat setiap arah dan muara hanya berusia singkat. Maka setiap arah dan muara kini lebih tepat disebut terminal-terminal perobahan. Dan di situ pula bedanya. Ketika kebangkitan nasional 1908 terjadi, semangat dan karakter zaman relatif masih terduga, tertakar, dan terbatas. Tetapi momen kebangkitan nasional 2008 harus berhaapan dengan sekaligus mengalir dalam semangat dan karakter zaman yang semakin serba tak-terduga, tak-tertakar, dan tak-terbatas.

Kesamaan lainnya, pada spirit kolektif. Kaum terjajah sama dimana-mana, dihantui rasa lelah, rasa kalah, dan rasa pasrah. Tetapi, pada saat yang sama, akan tampil sekelompok orang dengan ghirah dan gairah menyala. Lazimnya, mereka adalah sekelompok pemuda pembebas yang tercerahkan. Sekolompok pemuda seperti itulah yang pada tahun 1908 tampil membimbing kaumnya dengan segala kemungkinan dan ketak-mungkinan yang ada. Mungkin tanpa mereka rencanakan, mereka malah menjadi pembimbing zamannya selama seabad penuh, sampai hari ini.

Apa artinya? Kebangkitan nasional 2008 harus sesuai semangat dan karakter zamannya. Pertama, melawan penjajahan dunia dengan kemerdekaan baru, jatidiri baru, dan kebangkitan baru. Baik dalam kerangka jejaring ekonomi global, sketsa politik internasional, gurita informasi, dan destruksi moral generasi. Sekarang kita lemah dan minoritas dalam ranah global itu. Kita mungkin harus terusir sesaat dari situ, hijrah, untuk kemudian datang kembali menjadi penakluk. Penakluk berpanjikan rahmatan lil’alamin.

Kedua, kebangkitan nasional 2008 harus berarti bangkit dan bergerak dalam semangat dan karakter zaman yang serba tak-terduga, tak-tertakar, dan tak-terbatas. Sekaligus, dengan semangat dan karakter itu pula, menawarkan cetusan-cetusan serba tak-terduga, tak-tertakar, dan tak-terbatas.

Ketiga, untuk kebangkitan nasional 2008, harus tampil sekelompok pemuda pembebas yang tercerahkan. Tampil meng-inspiring dan meng-empowering bangsa ini untuk meretas segala kemungkinan dan ketak-mungkinan yang disuguhkan dalam cawan zaman yang terus menggelegak dan berubah cepat. Kita tahu, dalam cawan zaman itu tak hanya ada harapan dan cinta, juga petualangan antariksa. Di situ juga ada extacy, narkoba, drugs, dan bunuh diri. Ada kolusi, korupsi, dan nepotisme. Ada generasi yang tengah asyik mencipta dan bercinta di lembah silikon. Tetapi kita juga tahu, ada Fir’aun yang menghalangi risalah Musa as. Ada jahiliah yang berusaha mengkerangkeng risalah Muhammad SAW. Dan ada bedil, bayonet, dan meriam pasukan Belanda dan sekutunya yang setia menodong nyawa para mujahid kemerdekaan Indonesia. Tetapi, tinta sejarah untuk Musa as, Muhammad SAW, dan para mujahid kemerdekaan, sangat berbeda dengan tinta untuk Fir’aun, jahiliah, serta bedil, bayonet dan meriam itu.

 

Bagaimana meletakkan kehadiran ICMI Muda dalam konteks kebangkitan nasional 2008 itu?

Pada bagian-bagian awal perbincangan ini saya sudah sebutkan tentang peluang kesejarahan 2008 yang langka, yaitu peluang untuk meresultansikan dua kekuatan utama sejarah: pemuda dan kebangkitan. Sekarang saya perlu tambah, ICMI Muda hadir untuk suatu kepentingan besar, kepentingan untuk meresultansikan dua kekuatan dunia baru: sejarah dan harapan.

Sejarah itu berisi keindonesiaan yang disemangati oleh cita-cita, persatuan, kemerdekaan, idealisme kaum muda, dan segenap ikon kesejarahan yang melekatinya. Harapan itu berupa sebuah masadepan global yang diprakarsai oleh kemajuan dan eksplorasi tanpa jeda, teknologi dan kecerdasan tak kenal batas, dan kaum muda berkesadaran lintas batas.

Anda mungkin akan mengatakan ICMI Muda adalah sekumpulan pemuda pemimpi yang disarati ambisi kesejarahan? Itu tidak salah! Karena, yang pasti, ICMI Muda bukan sekelompok pemuda pengusung pragmatisme. Dan, ICMI Muda bukan sekelompok pemuda pengagum romatisme. Tetapi, juga, tidak hanya itu.

Sejarah dan harapan lahir dari rahim waktu dimana seluruh ambisi positif beresonansi dan berinterferensi. Karena itu, dan untuk mengusung kepentingan besarnya itu, ICMI Muda akan berusaha mengembangkan sebentuk triumvirat kesadaran baru. Sebentuk keseimbangan dinamis antara kesadaran historis, kesadaran realistik, dan kesadaran futuristik.

Ada dua agenda besar yang harus dipersiapkan ICMI Muda sejak sekarang, selain melaksanakan agenda-agenda strategis internal seperti konsolidasi dan kaderisasi. Agenda pertama, mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia Fase Kedua pada tahun 2008 mendatang. ICMI Muda akan mengajak seluruh komponen kepemudaan dan komponen bangsa Indonesia untuk bersama-sama mempersiapkan dan menyelenggarakan agenda kesejarahan tersebut[1]. Agenda kedua, mempersiapkan Pertemuan Cendekiawan Muslim Muda Internasional, direncanakan pada tahun 2009 atau awal 2010 mendatang. Semoga Allah subhanahu wata’ala meridhai.

 

(Makassar, 29 Oktober 2006)


    [1] Tentang rencana Kongres Pemuda Indonesia Fase Kedua pada tahun 2008 mendatang, ICMI Muda mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. HA. Amiruddin Maula, M.Si, anggota Dewan Penasehat Majelis Pimpinan ICMI Muda Pusat, atas dialog yang penuh inspirasi di rumah kediaman beliau, pada malam tanggal 31 Oktober 2006. Frase pada paragraf terakhir catatan ini, tentang agenda Kongres Pemuda Indonesia Fase Kedua pada tahun 2008 tersebut, secara khusus saya perbaharui sepulang dari dialog tersebut. Termasuk menambahkan istilah Fase Kedua yang diusulkan oleh Ibu Sakka Pati. Dialog silaturahim tersebut dihadiri 3 orang Presidium ICMI Muda Pusat, Ahyar Anwar, Arqam Azikin, dan saya, 2 orang Sekretaris ICMI Muda Pusat, Bahrul Ulum dan Taufiq Kahar, 3 orang Bendahara ICMI Muda Pusat, Abdul Rauf Suddin, Sakka Pati, dan Mediswati, beberapa fungsionaris Departemen ICMI Muda Pusat, serta Fungsionaris TiKwil ICMI Muda Sulawesi Selatan, antara lain Syamsu Rizal, Mukhtar, dan Samin.

 
Selanjutnya >