" />
Skip to content

ICMI Muda

Loading...

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). QS. Al-Baqarah : 269.

Anda berada disini:    Depan arrow Organisasi arrow Tentang ICMI Muda arrow ICMI Muda, Meretas Jalan Sejarah
ICMI Muda, Meretas Jalan Sejarah Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Sabtu, 30 Juni 2007

Oleh : AM Iqbal Parewangi

Ketua Tim Kerja Nasional (TiKNas) ICMI Muda

(Disampaikan pada Pembukaan Muktamar Ke-1 ICMI Muda, 23 Juli 2006, di Hotel Sahid Jaya Makassar)

Alhamdulillahirabbil’alamin, setelah melewati jalan panjang, sempit, tajam dan berliku, pada hari ini, Ahad tanggal 23 Juli 2006, segenap perwakilan cendekiawan muda muslim dari seluruh penjuru tanah air tercinta Indonesia, yang ternafasi oleh spirit keislaman, keindonesiaan, kecendekiaan, dan kemudaan, akhirnya dapat berkumpul di tempat ini. Kita berkumpul dengan kerendahan hati yang cerdas, niat tulus yang konsisten, dan keteguhan sikap nan santun, untuk secara bersama-sama memancangkan sejarah baru kecendekiawanan.

Sahabat-sahabat cendekia muda muslim, hari ini kita berkumpul di sini untuk bersama-sama melaksanakan Muktamar Ke-1 ICMI Muda, sebuah muktamar yang tak mudah. Dalam persaksian alam yang berdecak penuh rindu dan cemburu, kita semua bersama-sama menjalin nawaitu, komitmen, dan konsistensi, untuk bangsa, untuk umat, dan untuk dunia, dalam bingkai ukhuwah islamiah yang kental.

Sahabat-sahabat cendekia muda muslim, izinkan saya menyampaikan bahwa Muktamar Ke-1 ICMI Muda ini menjadi mungkin terselenggara semata-mata karena ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Muktamar ini adalah muktamar untuk memenuhi permohonan sejarah. Muktamar ini adalah muktamar dengan keprihatinan mendalam.

Keprihatinan itu tidak hanya karena Ibu Pertiwi terus didera bencana, tetapi juga karena muktamar ini dapat berlangsung dengan bermodalkan nawaitu, komitmen, dan konsistensi. Muktamar ini tanpa sponsor sama sekali, kecuali sponsor untuk lima lembar spanduk. Tetapi alhamdulillah, nyatanya Muktamar Ke-1 ICMI Muda ini memang berlangsung. Saat doa penutup rapat koordinasi TiKNas ICMI Muda dinihari tadi, masih terlontar kesangsian yang riang sekaligus getir dari beberapa sahabat. “Ternyata kita betul-betul muktamar ya?,” kata mereka dalam bauran rasa tak menentu.

Memang tanpa sponsor. Maka perlu kami haturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Gubernur Sulawesi Selatan Bapak HM Amin Syam, Pangdam VII Wirabuana Bapak Arif Budi Sampurno, Kapolda Sulawesi Selatan Bapak Arianto Budiharjo, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Syahrul Yasin Limpo, Walikota Makassar Bapak HM. Ilham Arif Sirajuddin, dan Bapak Hatta Rajasa, atas “empati-empati personal”-nya untuk berkenan membantu pelaksanaan muktamar bersejarah ini.

Dan yang terpenting, muktamar ini dapat berlangsung hari ini karena kita semua menginginkannya. Karena Sumatera menginginkannya. Karena Jawa menginginkannya. Karena Nusa Tenggara menginginkannya. Karena Kalimantan menginginkannya. Karena Maluku menginginkannya. Karena Papua menginginkannya. Karena Sulawesi menginginkannya. Maka muktamar ini sudah seharusnya berlangsung di atas kesadaran berazaskan KESETARAAN. Seluruh deklarator ICMI Muda setara, baik deklarator nasional, wilayah, daerah, juga kampus, memiliki kesetaraan sebagai sesama deklarator. Tak perlu ada jarak, apalagi hierarki.

Tiga Prinsip & Satu Realitas

Setelah TiKNas ICMI Muda terbentuk, deklarasi ICMI Muda terus berlangsung di berbagai propinsi, kabupaten/kota, dan kampus. Hanya dalam rentang waktu kurang dari tiga bulan, ICMI Muda sudah merebak di seluruh penjuru tanah air. Lewat ICMI Muda, izinkan sebutan ini, “cendekiawan muda tengah mencendawan”.

Bermula dari sesudut kecil Indonesia bersemilir anging mammiri, bernama Makassar, deklarasi ICMI Muda merebak. Di ujung timur negeri ini, Papua dan Irian Jaya Barat serta Maluku dan Maluku Utara mendeklarasikan ICMI Muda. Di ujung barat, Aceh, Riau, Jambi dan Medan, ICMI Muda dideklarasikan. Juga di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Di seluruh Sulawesi, kecuali tersisa Manado, deklarasi ICMI Muda membuncah.

Di pulau terbesar negeri ini, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan mendeklarasikan ICMI Muda. Dan ICMI Muda akhirnya menetas di Jawa, melalui deklarasi ICMI Muda DKI Jakarta. Jakarta tidak hanya sibuk dengan lencana, kencana, dan bencana. Jakarta juga disarati rencana, untuk bangsa dan umat. Beberapa hari menjelang muktamar ini, menyusul deklarasi ICMI Muda di Jawa Barat, setelah melalui rintangan yang tak mudah.

Mengapa dan bagaimana secara tiba-tiba dan serempak deklarasi ICMI Muda terjadi dimana-mana dalam waktu sangat singkat, menghadirkan realitas baru yang mengejutkan, “cendekiawan muda tengah mencendawan” itu?

Ada setidaknya tiga prinsip dasar. Pertama, prinsip bottom-up berazas kesetaraan. Ditambah sinergitas serta kerja dan kinerja cerdas, prinsip bottom-up berazas kesetaraan merupakan roh organisasi modern masadepan. Rekayasa bersifat top-down akan semakin kehilangan auranya. Di alam demokrasi publik, partisipasi saja sudah tidak memadai. Inisiatif jadi lebih penting. Maka ketimbang merekayasa instruksi secara top-down kepada sahabat-sahabat muda di seluruh negeri untuk mendirikan ICMI Muda di daerah masing-masing, dipandang jauh lebih efektif membuka ruang seluas-luasnya untuk mereka mengambil inisiatif sendiri dan mandiri untuk mendeklarasikan ICMI Muda. Hasilnya sungguh mencengangkan!

Kedua, prinsip pelangi. Ada pelangi profesi, pelangi akademik, pelangi organisasi, dan pelangi politik. ICMI Muda tidak hanya berisi profesional saja, atau akademisi saja, atau aktivis ormas saja, atau politisi saja. ICMI Muda diinisiasi dan diaktivasi oleh semua komponen muda strategis bangsa dan umat. Kemudian, setiap pelangi punya sub-pelangi. Pelangi politik, misalnya. Tidak boleh hanya dari satu partai tertentu, tapi dari beragam partai. Pelangi profesi, misal kedua. ICMI Muda terdiri dari beragam latar profesi. Ada da’i, wartawan, pengacara, pengusaha, guru atau dosen, aktivis LSM, dan lainnya. Begitu pun pelangi organisasi dan keilmuan, dengan sub-pelanginya.

Dengan prinsip pelangi, ICMI Muda akan terjaga dari kooptasi kepentingan kelompok atau golongan, apalagi pribadi. Sebaliknya, akan tercipta dinamika gravitasional, seperti halnya tatasurya bergerak dinamis dan seimbang oleh adanya gaya-gaya gravitasi perekat diantara planet-planet yang bermuatan dan berkarakter saling berbeda. Pada penerapannya, diharapkan tercipta dynamic equilibrium atau keseimbangan dinamis di, dari dan oleh ICMI Muda.

Prinsip ketiga, kesadaran akan ruang kosong.

Tiga prinsip itu bersemi di atas satu realitas penting, yaitu bahwa terdapat potensi baru maha dahsyat cendekiawan muda muslim di negeri ini yang tengah menunggu persemaian baru untuk mengakarkan kebersamaan, menumbuhkan peran kesejarahan umat, dan meranggaskan diri pada semesta kemanusiaan.

ICMI dan ICMI Muda

ICMI Muda, sejauh ide, makna dan spirit yang selama ini mungkin merambati, meranggasi, kemudian meruangi nawaitu dan imajinasi kita, adalah merupakan persembahan bernas dari generasi baru abad-21 cendekiawan muda muslim, untuk bangsa, untuk umat, dan untuk dunia.

Di bernas itu menegas kuat ruas-ruas kesejarahan, kebangsaan, keumatan dan kemanusiaan. Sesungguhnya, di ruas-ruas itu pulalah seharusnya ICMI Muda dan ICMI bersua. Bersua dan bersama, berjejalin harapan dan kinerja. Bersama merenda sejarah, sekali lagi, untuk bangsa, untuk umat, dan untuk dunia. Tentu, dengan ruang peran yang tertata sinergis, tetapi tak mesti berhimpit apalagi saling menjepit.

ICMI dengan peran konseptualisasi strategisnya, terus memroduksi gemawan konsep di lelangitan kehidupan. Lalu ICMI Muda menjemput gemawan itu, mengurainya secara cerdas dan kreatif, bila perlu menapisnya melalui proses alami yang dinamis dan kritis, dan kemudian secara energik dan produktif menurunkannya menjadi rinai-rinai hujan untuk menghidupkan bumi kehidupan. ICMI memintal gemawan konsep, ICMI Muda menjadikannya hujan di bumi kehidupan.

Membiarkan gemawan konsep oleh ICMI tersebut menggelantung abadi di lelangitan adalah mubazzir. Gemawan itu bukan hanya tidak memberi barakah di bumi kehidupan, tetapi juga malah membuat bumi gerah dan suram. Maka bagi ICMI Muda, “retas saja gemawan itu, curahkan jadi hujan, biar air di tempayan membuncah, dan bumi kehidupan semarak!”

Bumi kehidupan, lagi-lagi sekali lagi, adalah bangsa, adalah umat, adalah dunia. Dan juga adalah ICMI. Tetapi, di bumi kehidupan itu ada ruang-ruang kosong. Dalam konteks mengapa sejarah seakan memohon ICMI Muda harus lahir dan hadir, ada tiga ruang kosong strategis yang mendesak untuk dimasuki dan digairahi oleh ICMI Muda.

Pertama: Ruang Kosong “ICMI”

Ruang kosong pertama, di, oleh dan untuk ICMI sendiri. Ironisnya, ruang kosong itu muncul pada rentang usia energik-produktif 25 – 45 tahun. Usia energik-produktif itu hampir tak terjamah oleh olahan kaderisasi ICMI. Tidak teroptimalkan partisipasi apalagi inisiatifnya. Diakui, 15 tahun fase longmarch pertama ICMI disarati prestasi dan prasasti. Tetapi tidak dalam hal kaderisasi. Akibatnya, ICMI sempat hanya jadi gerbong. Sarat muatan, sarat tokoh, tetapi hampir-hampir tanpa kader sendiri. Comot tokoh sana, comot tokoh sini. Ketika tokoh turun sana, tokoh turun sini, ICMI menjadi gerbong sepi yang berderak di jalur sunyi, seperti terjadi seusai lengser keprabon-nya Habibie.

Dr. Ir. Muslimin Nasution, Ketua Umum terakhir dalam era model kepemimpinan presidensil ICMI sebelum beralih ke model presidium, sampai harus membuat tiga kategorisasi: ICMI sejati, ICMI merpati, dan ICMI pedati. Miris, dan ironis. Merpati datang dan pergi, tergantung bebijian keuntungan. Pedati mungkin menggelinding, tergantung daya dorong.

ICMI sempat matisuri, sebelum kembali menemukan binar kebangkitannya pada Muktamar IV di Makassar. Di arena muktamar tersebut, salah satu frase fenomenal yang paling dikenang adalah “ICMI lahir di Malang, ICMI lahir kembali di Makassar.”

Cukup sering terdengar pertanyaan, mengapa ICMI matisuri? Ada berbagai uraian dan spekulasi, antara lain bahwa itu merupakan akibat dari “perselingkuhan ICMI dengan kekuasaan” yang melahirkan ICMI merpati, atau akibat dari “pengepompongan intelektual yang tak membumi” yang melahirkan ICMI pedati, serta beragam spekulasi lainnya.

Namun pertanyaan yang lebih penting sesungguhnya adalah “bagaimana agar ICMI tidak matisuri lagi?” Salah satu masalah fundamental sekaligus menjadi jawaban strategis untuk itu, yaitu kaderisasi. Tentu saja bukan semata kaderisasi konvensional apalagi formalistik. Kaderisasi berkesinambungan merupakan solusi kreatif mendesak, tak hanya untuk ICMI, tetapi lebih luas lagi adalah untuk umat. Oleh karena itulah, frase fenomenal “ICMI lahir kembali di Makassar” harus disempurnakan dengan frase “ICMI melahirkan di Makassar”. Maka sebelum Muktamar IV ICMI lalu, lahirlah ICMI Muda.

Sahabat-sahabat cendekia muda muslim, maka izinkan saya mengatakan bahwa ICMI Muda bukan hanya memiliki akar kesadaran yang memancang kuat di rahim kesejarahan ICMI. Tetapi juga dan terutama, ICMI Muda seharusnya diapresiasi oleh ICMI sebagai solusi strategis bagi masadepan ICMI.

Kesadaran tentang ICMI Muda merupakan kesadaran yang tulus dan bertumpu pada gagasan strategis positif yang kelahirannya tak terpisahkan dari dinamika besar ICMI. Kesadaran itu berangkat dari kegelisahan positif, kreatif dan visioner cendekiawan muda muslim untuk turut secara aktif mengemban serta mengembangkan peran dan tanggung jawab besar ICMI terhadap bangsa, negara dan umat.

Berawal dari pertemuan penuh suasana kekeluargaan—layaknya pertemuan anak dan bapak—antara Deklarator Nasional ICMI Muda dengan Pendiri sekaligus Ketua Umum pertama ICMI, Bapak Prof. Dr.-Ing. BJ. Habibie, dan Ketua Umum ICMI saat itu, Bapak Dr. Ir. Muslimin Nasution, pada tanggal 5 Desember 2005 di Hotel Sahid Jaya Makassar saat pelaksanaan Muktamar IV ICMI. Bapak Prof. Dr.-Ing. BJ. Habibie dan Bapak Dr. Ir. Muslimin Nasution menyambut sangat positif gagasan pembentukan ICMI Muda begitupun dengan pelaksanaan Muktamar ke-1 ICMI Muda. Bapak Prof. Dr.-Ing. BJ. Habibie menyatakan agar muktamar pertama ICMI Muda dilaksanakan di Makassar dalam rentang waktu tidak lebih dari setahun sejak pertemuan tersebut, dan Bapak Dr. Ir. Muslimin Nasution menuliskan 4 (empat) alternatif nama, yaitu: (1) Forum Cendekiawan Muda ICMI, (2) Forum Kader ICMI, (3) Forum ICMI Muda, dan (4) Forum Pemikir, Pembaharu, dan Pejuang ICMI.

Ruang kekeluargaan yang telah kami rasakan tersebut semakin kuat menyemangati kami dengan berkenannya Bapak Ir. M. Hatta Rajasa dan Bapak Prof. Dr. Nanat Fatah Nasir selaku Presidium ICMI, Bapak Dr. Ahmad Watik Pratiknya selaku Direktur Eksekutif The Habibie Centre, dan Bapak Ir. Shalahuddin Wahid, menerima Tim Kerja Nasional ICMI Muda untuk menerima kami bersilaturahmi.

Pada silaturahmi tanggal 22 Juni 2006 di Jakarta, Bapak Ir. M. Hatta Rajasa menyatakan dapat memahami dan menyambut positif gagasan pembentukan ICMI Muda. Kembali kami merasakan sambutan hangat dari nurani seorang bapak melalui kalimat-kalimat motivasional beliau, bahwa “ICMI Muda harus menjadi sumber kader-kader bagi kesinambungan kepemimpinan ICMI ke depan.”

Pada tanggal 14 Juli 2006 di Bandung, Bapak Prof. Dr. Nanat Fatah Nasir berkenan menerima kami dari TiKNas ICMI Muda dan berdialog dalam suasana kekeluargaan yang kental. Beliau dengan arif dan sabar menyimak pemaparan tentang nawaitu dan tekad ICMI Muda untuk menjaga martabat dan keutuhan ICMI, menjaga persatuan dan kesatuan umat, serta menghindari kemungkinan munculnya image seakan ICMI pecah. Bagi ICMI Muda, nawaitu dan tekad itu tidaklah asing. Sejak semula kami meyakini prinsip bahwa “ICMI Muda bukan pecahan dari ICMI dan tidak untuk memecah ICMI”. Kami sangat sadar, bahwa jika image perpecahan kemudian benar-benar muncul maka akan sangat merugikan ICMI khususnya dan umat pada umumnya.

Pada silaturahmi tanggal 11 Juli 2006 di kantor The Habibie Centre Jakarta, Bapak Dr. Ahmad Watik Pratiknya, Direktur Eksekutif The Habibie Centre, merespon ICMI Muda sebagai lembaga kaderisasi ICMI. Demikian pula dukungan positif datang dari Bapak Ir. Shalahuddin Wahid yang menyatakan bahwa pada tahun 2000-2001 sudah berlangsung diskusi diantara beberapa tokoh ICMI tentang perlunya lembaga kaderisasi bagi ICMI. Begitupun dukungan Bapak Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie melalui mailing list tertanggal 6 Juli 2006 yang mengharapkan kehadiran ICMI Muda tidak hanya dipandang secara formal legalistik, tetapi juga secara substantif.

Selanjutnya, menyadari bahwa Sulawesi Selatan adalah tuan rumah pelaksanaan Muktamar Ke-1 ICMI Muda, yang berarti tuan rumah tempat sejarah baru kecendekiawanan akan dipancangkan oleh para cendekia muda muslim Indonesia, maka Tim Kerja Nasional (TiKNas) ICMI Muda bersama Tim Kerja Wilayah (TiKWil) ICMI Muda Sulawesi Selatan dan Tim Kerja Daerah (TiKDa) ICMI Muda Makassar bersama-sama melakukan serangkaian silaturahmi. Yaitu, dengan Kapolda Sulsel pada tanggal 18 Juli 2006, dengan Walikota Makassar pada tangga 19 Juli 2006, dan dengan Gubernur Sulawesi Selatan HM Amin Syam pada tanggal 20 Juli 2006. Sebelumnya juga telah dilakukan silaturahmi dengan Pangdam VII Wirabuana dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan. Alhamdulillah, ICMI Muda mendapatkan respon dan dukungan sangat positif dari mereka.

Dukungan dan support yang tiada henti dari ribuan sahabat-sahabat cendekia muda muslim yang terus-menerus mengalir dari seluruh Indonesia —sampai saat ini ICMI Muda telah dideklarasikan secara bottom-up di 23 propinsi, 138 kota/kabupaten, dan 14 perguruan tinggi—, semakin meneguhkan keyakinan kami untuk melangsungkan Muktamar Ke-1 ICMI Muda. Antusiasme sahabat-sahabat untuk turut serta mendukung visi dan misi ICMI, dan keteduhan jiwa para orang tua di dewan presidium dan tokoh-tokoh ICMI yang menjadi panutan kami, menjadi anugerah besar bagi nawaitu ikhlas kami untuk turut memberikan sumbangsih riil bagi bangsa, negara, dan umat melalui ICMI Muda.

Pertanyaannya, dengan seluruh nawaitu, komitmen dan konsistensi itu, dengan serangkaian perjalanan panjang meniti jalan sempit, tajam dan berliku seperti itu, mengapa Muktamar Ke-1 ICMI Muda ini, muktamar yang semula diharapkan menjadi perhelatan anak-anak ICMI, muktamar kader-kader muda ICMI, justru harus berlangsung tanpa rekomendasi dari orangtuanya, tanpa rekomendasi ICMI?

Sahabat-sahabat cendekia muda muslim, izinkan saya menyatakan bahwa Muktamar Ke-1 ICMI Muda ini memang tanpa rekomendasi. Tetapi sejarah tidak mungkin dihentikan hanya oleh ketiadaan rekomendasi. Sejarah bergulir lebih sering tanpa rekomendasi. Sesungguhnya, sejarah tidak butuh rekomendasi. Negeri tercinta Indonesia ini pun tidak akan pernah merdeka andai founding father negeri ini harus menunggu rekomendasi dari para penjajah.

 

Kedua: Ruang Kosong “Umat”

Ruang kosong kedua, dari, oleh dan untuk umat Islam Indonesia.

Cendekiawan muslim adalah satu, dari, oleh, dan untuk umat. Umat yang satu, ummatan wahidah. Oleh karena itu, tentu saja tidak seharusnya ada perceraian, perberaian, ataupun perpecahan. Bahwa terjadi penguraian berdasar karakter maupun kategori tertentu, analogi cahaya menggambarkan hal itu dengan cukup tepat—tamsil cahaya digunakan Ilahi untuk menunjuk diri-Nya, nuru ‘ala nur, Cahaya Maha Cahaya.

Cahaya polikhromatik putih terdiri dari spektrum warna-warni monokhromatik bersifat kontinuum sekaligus kompositum. Visualisasi aura keindahan alam dimungkinkan justru oleh adanya warna-warni. Ada merah, jingga, sampai nila dan ungu. Aura keindahan alam merona justru oleh hijau dedaunan, coklat tanah, senja yang disemburat merah-gradasi, juga gemawan putih yang berarak gemulai. Warna-warni tak hanya berefek indah, tetapi juga penuh faedah. Reaksi fotosintesis pada tumbuhan terjadi dalam rentang frekuensi hijau. Alat modern anti-serangga menggunakan frekuensi ungu. Dan banyak lagi contoh pemutakhiran faedah warna-warni.

Yang penting disebutkan dalam konteks analogi cahaya ini di sini, bahwa penguraian dan pemburaian cahaya polikhromatik menjadi monokhromatik tidak hanya berlangsung searah, melainkan bolak-balik. Bergabungnya seluruh unsur cahaya monokhromatik dalam komposisi yang tepat akan menciptakan polikhromatik putih yang kemilau. Menarik, bahwa cahaya dalam eksistensi polikhromatik maupun monokhromatiknya tidak pernah harus kehilangan karakteristik khasnya, baik ketika berdiri sendiri maupun saat bersama dalam jamaah.

Dalam keberdiri-sendirian monokhromatiknya, masing-masing warna menyumbangkan tak hanya indah tetapi juga faedah. Dalam jamaah polikhromatiknya, dalam ber-wahidah-nya, cahaya putih memberikan binaran yang menerangi.

Melihat analogi dispersi cahaya itu dalam perspektif sebentuk mozaik indah, akan lebih memudahkan kita untuk memahami bahwa keragaman pilihan organisasional bagi para cendekiawan muslim bukan hanya karena keragaman dan pilihan itu dibutuhkan, sehingga harus ada, tetapi juga dan terutama bahwa keragaman itu merupakan bagian dari “strategi kesejarahan” untuk semakin membumikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Strategi yang jitu tak pernah hanya butuh satu pintu, tetapi banyak pintu, juga banyak jendela, juga banyak ventilasi. Menggunakan analogi arsitektural, metode satu pintu hanya akan mengakibatkan “ruang dalam” terbekap dalam pengap yang lembab, sekaligus mengakibatkan isolasi hampir sempurna terhadap “ruang luar”. Pengap yang lembab menimbulkan fermentasi (pembusukan) dan fragmentasi (perpecahan) alamiah, sementara isolasi hanya mengakibatkan keterkucilan di ruang-ruang sempit primitivisme. Akibat lanjutannya bersifat aborsif, kehilangan eksplorasi, lalu kehilangan ruang bagi ekspedisi kesejarahan. Dan itu memalapetakakan umat.

Sayangnya, bagi umat Islam Indonesia khususnya, keberdiri-sendirian monokhromatik berbagai organisasi keumatan masih lebih sering terpahami sebagai keterpisahan-keterpisahan absolut diantara komponen-komponen strategis umat, ketimbang disadari sebagai spektrum warna-warni indah penuh faedah. Jadilah keberdiri-sendirian itu bermakna fragmentatif sekaligus fermentatif. Berpecah-belah diantara sesama organisasi-organisasi keumatan, dan kemudian menjalani pembusukan di dalam organisasinya masing-masing. Azas alami reversibilitas cahaya, yaitu gerak bolak-balik diantara proses monokhromatisasi dan polikhromatisasi umat, seakan dianggap tak pernah ada. Dispersi seakan hanya berjalan satu arah makna: terurai untuk berpecah. Maka jadilah jamaah polikhromatik umat hampir tidak pernah mewujud dengan cerdas dan ikhlas, proses ber-ummatan wahidah hampir-hampir hanya melulu bersifat seremonial, dan cahaya putih itu tak pernah utuh memberikan binaran yang menerangi.

Akibatnya, umat Islam Indonesia hampir-hampir selalu harus terpinggirkan ke dan terjebak dalam ruang-ruang kosong kesejarahan, kecuali pada setiap awal fase-fase pendobrakan kevakuman sejarah. Begitu yang terjadi pada fase-fase panjang sebelum kemerdekaan. Terjadi pada fase-fase penting kemerdekaan. Terjadi lagi pada fase peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Juga terjadi pada fase peralihan dari Orde Baru ke Era Reformasi. Umat Islam selalu tampil di barisan terdepan dengan patriotisme membuncah, berjihad dengan harta, darah, dan nyawa, untuk negeri tercinta Indonesia, tetapi kemudian buru-buru surut dan menghilang ke wilayah antah-berantah sejarah.

Salah satu yang paling jelas terlihat, keterlibatan umat Islam pada berbagai ruang kehidupan di negeri ini masih sebatas partisipan. Umat turut berpartisipasi, tetapi belum sebagai pengambil inisiatif. Padahal eksplorasi potensi inisiatif berhubungan langsung dengan kepemimpinan. Oleh lemahnya eksplorasi potensi inisiatif itu, masih sulit terwujud kepemimpinan politik umat, kepemimpinan ekonomi umat, kepemimpinan pendidikan umat, juga kepemimpinan kultural umat, di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini. Sudah saatnya ditumbuh-kembangkan kesadaran baru tentang pentingnya kepemimpinan umat di negeri tercinta ini, di seluruh lini kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketiga: Ruang Kosong “Global”

Ruang kosong ketiga, dari, oleh dan untuk umat Islam global.

Kelahiran ICMI Muda dan ICMI memiliki latar kesadaran dan kesejarahan yang boleh dikatakan sangat jauh berbeda. ICMI lahir terutama oleh kontraksi sosial bergetaran keindonesiaan, lebih spesifik lagi kontraksi politik Orde Baru. Sedikit miopis, dan Indonesia buanget.

ICMI lahir saat kondisi bangsa Indonesia tengah dibuncah oleh kesadaran nation state, negara kebangsaan, sebentuk kesadaran yang begitu gigih menjangkarkan setiap ruas kesejarahan dalam perspektif kebangsaan.

ICMI bangkit untuk menjawab realitas sejarah masa lalu umat Islam di Indonesia yang banyak dilaburi nuansa suram dan buram. Jadi ICMI terutama sebagai hasil proyeksi dari ruang masalalu yang ditarik ke dalam pergulatan kekinian, untuk sebentuk sejarah baru. Belum lagi, kehadiran ICMI yang banyak ditengarai berkelindang dan berkubang di wilayah kekuasaan berwajah khas Orde Baru.

Sementara ICMI Muda—dalam akronim I terakhir berarti “Indonesia”—, sesungguhnya perlu dipahami sebagai embrio historis bagi sebentuk gagasan yang berskala jauh lebih luas, skala global village. ICMI Muda akan menjembatani proses metamorfosa peran keumatan ICMI dari yang semula akronim I terakhir yang berarti “Indonesia” menjadi I yang berarti “Internasional”.

Dalam konteks metamorfosa historis di ruang-waktu masadepan seperti itu, ICMI Muda tentu saja tidak lagi cukup dipandang hanya akan mereaktualisasi sekaligus merekonstekstualisasi peran kesejarahan ICMI. Lebih penting dari itu adalah ICMI Muda akan memberi jembatan “kontinuum eksploratif” bagi ICMI, khususnya, untuk mungkin menjalani metamorfosa historisnya dari “I = Indonesia” menjadi “I = Internasional”, serta bagi cendekiawan muslim dan umat Islam. Disebut “kontinuum eksploratif” karena tak hanya berupa kesinambungan kesejarahan secara linear, tetapi kesinambungan dalam gerak meruang yang semakin meluas.

ICMI Muda seharusnya menjadi cikal-bakal pemeran global cendekiawan muslim, sekaligus cikal-bakal globalisasi peran cendekia muda muslim. Dalam konteks I = Internasional itu, Muktamar Ke-1 ICMI Muda semoga merupakan tapakan awal starategis untuk selanjutnya akan dikembangkan ke tahap pertemuan cendekiawan muda muslim se-Asia, dan kemudian semakin berkembang ke tahap pertemuan cendekiawan muda muslim pada skala internasional, menuju terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Internasional Muda yang akronim Indonesianya juga adalah ICMI Muda. Insya Allah.

(Hotel Sahid Jaya Makassar, 23 Juli 2006, 01:30-04:15)

 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >